![]() |
| Keluarnya Bani Israil dari Mesir (www.unsplash.com) |
Tulisan berseri tentang Sejarah dan Penyimpangan Yahudi
Oleh:
M. Yanzhuril Ghulam Miraza
Allah Swt. memerintahkan Nabi Musa a.s. untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir pada malam hari secara diam-diam. Perintah ini datang setelah sekian lama Bani Israil hidup dalam penindasan dan perbudakan di bawah kekuasaan Fir‘aun yang zalim. Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan momen penting ini melalui firman-Nya:
“Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa, ‘Pergilah pada malam hari dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil). Sesungguhnya kamu pasti akan diikuti.’ Lalu, Fir‘aun mengirimkan orang ke kota-kota untuk mengumpulkan (bala tentaranya). (Fir‘aun berkata,) ‘Sesungguhnya mereka (Bani Israil) sekelompok kecil. Sesungguhnya mereka telah membuat kita marah. Sesungguhnya kita semua benar-benar harus selalu waspada.
Kami keluarkan mereka (Fir‘aun dan kaumnya) dari (negeri mereka yang mempunyai) taman, mata air, harta kekayaan, dan tempat tinggal yang bagus. Demikianlah, dan Kami wariskan semuanya kepada Bani Israil. Lalu, (Fir‘aun dan bala tentaranya dapat) menyusul mereka pada waktu matahari terbit. Ketika kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Dia (Musa) berkata, ‘Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.
Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut dengan tongkatmu itu.’ Maka, terbelahlah (laut itu) dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar. Di sanalah Kami dekatkan kelompok yang lain. Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya. Kemudian, Kami tenggelamkan kelompok yang lain.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 52–66).
Ayat-ayat tersebut menggambarkan dengan sangat jelas kronologi kejadian, mulai dari perintah hijrah di malam hari, pengejaran oleh pasukan Fir‘aun, hingga puncaknya berupa mukjizat terbelahnya laut. Dalam situasi genting, ketika Bani Israil berada di antara laut di hadapan mereka dan pasukan Fir‘aun yang semakin mendekat dari belakang, muncul rasa takut dan keputusasaan di kalangan pengikut Nabi Musa.
Namun, Nabi Musa dengan penuh keyakinan menenangkan mereka seraya berkata, “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Ungkapan tersebut menunjukkan tingkat tawakal dan keimanan yang sangat tinggi. Nabi Musa tidak hanya menjadi pemimpin secara fisik, tetapi juga penopang spiritual bagi kaumnya di saat-saat paling kritis. Keyakinan inilah yang kemudian menjadi sebab turunnya pertolongan Allah dalam bentuk mukjizat besar: laut yang terbelah menjadi jalan kering bagi Bani Israil untuk menyeberang.
Ketika Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut atas perintah Allah, maka laut itu pun terbelah menjadi dua bagian besar, dengan masing-masing sisi seperti gunung yang menjulang tinggi. Di antara kedua belahan tersebut terbentuk jalan yang dapat dilalui oleh Bani Israil dengan selamat. Mereka pun menyeberangi laut tersebut tanpa halangan.
Sementara itu, Fir‘aun dan bala tentaranya terus melakukan pengejaran hingga masuk ke dalam jalur yang sama. Namun, ketika seluruh pasukan Fir‘aun berada di tengah laut, Allah menutup kembali laut tersebut, sehingga mereka semua tenggelam. Dengan demikian, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya, sekaligus membinasakan Fir‘aun beserta tentaranya dalam satu peristiwa yang sangat dramatis.
Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Bani Israil, karena sejak saat itu mereka terbebas dari penindasan panjang yang telah mereka alami selama bertahun-tahun di Mesir. Selain itu, kejadian ini juga menjadi pelajaran besar tentang keadilan Ilahi: bahwa kekuasaan yang zalim pada akhirnya akan runtuh, sementara orang-orang yang beriman akan mendapatkan pertolongan, meskipun dalam kondisi yang tampak mustahil secara logika manusia.
Dalam tradisi Yahudi, disebutkan bahwa Bani Israil tinggal di Mesir selama kurang lebih 430 tahun. Namun, angka ini menjadi bahan perdebatan di kalangan mereka sendiri. Mayoritas ulama dan sejarawan dari kalangan Yahudi justru berpendapat bahwa masa tinggal tersebut lebih dekat kepada 210 tahun, bukan 430 tahun sebagaimana yang sering disebutkan.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa catatan sejarah dalam tradisi mereka tidak sepenuhnya memiliki kesepakatan yang kuat. Sementara itu, Al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebutkan lamanya masa tinggal Bani Israil di Mesir, tetapi lebih menekankan pada aspek pelajaran (‘ibrah) dari peristiwa tersebut, yaitu tentang kesabaran, keimanan, serta pertolongan Allah yang datang pada waktu yang paling tepat.

