Muhammad Mirdasy (Istimewa/www.kedungagdemmu.id)

Kedungademmu.id
Kabar duka datang dari keluarga besar Muhammadiyah Jawa Timur. Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jawa Timur, Muhammad Mirdasy, wafat siang ini, Senin (6/4/2026) di Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM). Kepergian sosok yang dikenal aktif dalam dinamika pemikiran dan gerakan politik kebangsaan di lingkungan Muhammadiyah ini meninggalkan duka mendalam bagi banyak kalangan.

Informasi wafatnya Muhammad Mirdasy menyebar luas di berbagai kanal media dan jejaring internal Muhammadiyah. Ucapan belasungkawa pun mengalir dari berbagai tokoh, kader, serta simpatisan Persyarikatan yang selama ini mengenal kiprah dan dedikasinya.

Muhammad Mirdasy dikenal sebagai salah satu figur penting di PWM Jawa Timur—khususnya dalam bidang hikmah dan kebijakan publik. Ia menjabat sebagai Ketua LHKP PWM Jawa Timur untuk periode 2022–2027, sebuah posisi strategis yang menempatkannya pada garis depan dalam merumuskan sikap dan arah kebijakan Muhammadiyah terkait isu-isu sosial, politik, dan kebangsaan.

Selama menjabat, Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur 1998-2002 ini tidak hanya dikenal sebagai organisatoris, tetapi juga sebagai pemikir yang aktif menyuarakan pentingnya keterlibatan Muhammadiyah dalam kehidupan politik secara substantif. Ia kerap menekankan bahwa warga Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi penonton dalam proses politik, melainkan harus mampu berkontribusi secara nyata dalam memengaruhi kebijakan publik demi kemaslahatan umat.

Dalam berbagai forum, Mirdasy sering mengingatkan bahwa politik merupakan bagian penting dari kehidupan berbangsa. Ia menilai bahwa keputusan-keputusan politik sangat menentukan arah pembangunan, termasuk dalam bidang pendidikan, ekonomi, hingga kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, menurutnya, Muhammadiyah perlu menyiapkan kader-kader yang mampu berperan aktif di ruang-ruang strategis tersebut.

Pemikiran tersebut bukan sekadar wacana. Mirdasy juga aktif dalam berbagai kegiatan yang mendorong peningkatan literasi politik di kalangan kader Muhammadiyah. Ia mendorong agar warga Muhammadiyah tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki keberanian untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan di tingkat lokal maupun nasional.

Putra mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur KH. Abdurrahim Nur ini juga dikenal sebagai figur yang lugas dan kritis. Dalam sejumlah kesempatan, ia tidak segan menyampaikan pandangan yang konstruktif terhadap kondisi internal maupun eksternal Muhammadiyah. Ia menilai bahwa tantangan zaman menuntut organisasi untuk terus beradaptasi, termasuk dalam menghadapi dinamika politik yang semakin kompleks.

Selain aktif di Muhammadiyah, Mirdasy juga memiliki pengalaman dalam dunia politik praktis. Hal ini turut memperkaya perspektifnya dalam melihat hubungan antara organisasi keagamaan dan negara. Ia kerap menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara idealisme gerakan dan realitas politik yang dihadapi.

Kepergian Mirdasy tentu menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi PWM Jawa Timur, tetapi juga bagi gerakan Muhammadiyah secara lebih luas. Banyak pihak menilai bahwa sosoknya merupakan salah satu kader yang memiliki komitmen kuat terhadap penguatan peran Muhammadiyah dalam kehidupan kebangsaan.

Di lingkungan internal Muhammadiyah, kepergian tokoh seperti Mirdasy juga menjadi momentum refleksi. Banyak kader yang menilai bahwa perjuangan yang telah dirintisnya perlu dilanjutkan, terutama dalam memperkuat peran Muhammadiyah di bidang kebijakan publik.

Sebagai Ketua LHKP, Mirdasy memiliki tanggung jawab besar dalam mengawal isu-isu strategis, termasuk dalam merespons berbagai kebijakan pemerintah. LHKP sendiri merupakan salah satu lembaga penting dalam struktur Muhammadiyah yang berperan sebagai think tank serta penghubung antara organisasi dengan dinamika kebijakan publik.

Dalam konteks tersebut, Mirdasy dinilai berhasil menjalankan perannya dengan baik. Ia mampu menghadirkan perspektif Muhammadiyah yang kritis namun tetap konstruktif, serta menjaga posisi organisasi sebagai kekuatan moral yang independen.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai sosok yang dekat dengan kader muda. Ia sering terlibat dalam berbagai forum diskusi, pelatihan, dan kegiatan kaderisasi. Kehadirannya menjadi inspirasi bagi generasi muda Muhammadiyah untuk terus belajar dan berkontribusi.

Kepergian Muhammad Mirdasy menjadi pengingat bahwa perjuangan dalam organisasi tidak pernah berhenti pada satu individu. Semangat, gagasan, dan nilai-nilai yang telah ia tanamkan diharapkan dapat terus hidup dan berkembang di tengah kader Muhammadiyah.

Di tengah suasana duka, keluarga besar Muhammadiyah Jawa Timur diharapkan tetap melanjutkan agenda-agenda strategis yang telah dirintis. Warisan pemikiran dan keteladanan Mirdasy menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan ke depan.

Akhirnya, doa terbaik dipanjatkan untuk almarhum. Semoga segala amal ibadahnya diterima oleh Allah Swt., diampuni segala kesalahannya, dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Sementara bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi ujian ini.