Oleh: Ahyar Fauzan

Kedungademmu.idPeningkatan literasi di Indonesia hingga April 2026 patut diapresiasi. Data menunjukkan bahwa angka buta aksara berhasil ditekan hingga di bawah 4 persen dari total populasi. Sementara itu, tingkat literasi dasar—yakni kemampuan membaca dan menulis sederhana—telah menjangkau lebih dari 96 persen penduduk usia 15 tahun ke atas. Secara umum, capaian ini menunjukkan keberhasilan pembangunan sumber daya manusia di bidang pendidikan dasar.

Namun demikian, di balik capaian tersebut, muncul persoalan mendasar yang tidak dapat diabaikan. Peningkatan literasi secara kuantitas belum sepenuhnya diiringi dengan peningkatan kualitas. Masyarakat memang semakin mampu membaca dan menulis, tetapi belum seluruhnya memiliki kemampuan memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara kritis.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Indonesia telah mengalami kemajuan dalam literasi dasar, tetapi masih menghadapi tantangan dalam literasi esensial. Banyak masyarakat yang mampu mengakses informasi, tetapi belum terampil dalam menyaring kebenaran dan memahami konteks. Kondisi ini menandakan adanya krisis kedalaman berpikir di tengah melimpahnya arus informasi.

Data Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) juga menunjukkan adanya peningkatan minat baca di berbagai daerah. Bahkan, sejumlah wilayah di luar Pulau Jawa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku Utara, mencatatkan skor yang cukup tinggi. Hal ini menjadi indikasi positif bahwa budaya literasi mulai berkembang secara lebih merata.

Akan tetapi, kesenjangan antarwilayah masih menjadi tantangan serius. Beberapa daerah, seperti Papua, Papua Barat, dan Sulawesi Barat, masih berada pada tingkat literasi yang relatif rendah. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa akses terhadap bahan bacaan, infrastruktur pendidikan, serta dukungan kebijakan belum sepenuhnya merata.

Di era digital, tantangan literasi menjadi semakin kompleks. Kemudahan akses informasi melalui berbagai platform digital, seperti perpustakaan daring dan aplikasi bacaan, memang membuka peluang besar. Namun, di sisi lain, muncul kecenderungan membaca secara cepat dan dangkal. Budaya membaca mendalam mulai tergeser oleh kebiasaan mengakses informasi secara singkat dan instan.

Fenomena ini juga terlihat pada generasi muda, khususnya Generasi Z. Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, mereka memiliki akses luas terhadap informasi dan menunjukkan tingkat partisipasi literasi yang tinggi. Namun, pola literasi yang cenderung cepat dan pragmatis berpotensi mengurangi kedalaman pemahaman.

Di bidang kepenulisan, partisipasi masyarakat juga mengalami peningkatan. Berbagai kegiatan literasi, termasuk lomba penulisan, menunjukkan antusiasme yang tinggi. Akan tetapi, sebagian besar karya yang dihasilkan masih bersifat naratif dan ekspresif, belum banyak yang mengedepankan analisis dan argumentasi yang kuat.

Jika kondisi ini terus berlanjut, Indonesia berisiko menghadapi paradoks literasi, yaitu masyarakat yang mampu membaca, tetapi tidak mampu memahami secara mendalam. Masyarakat yang aktif mengakses informasi, tetapi pasif dalam berpikir kritis.

Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan langkah strategis dari berbagai pihak. Pemerintah perlu mengarahkan kebijakan literasi tidak hanya pada peningkatan angka, tetapi juga pada kualitas. Kurikulum pendidikan harus mendorong kemampuan berpikir kritis dan analitis, bukan sekadar hafalan.

Selain itu, penguatan ekosistem literasi menjadi hal yang penting. Perpustakaan, komunitas literasi, dan media massa harus berperan aktif dalam menyediakan ruang belajar yang berkualitas. Literasi digital juga harus diimbangi dengan literasi informasi, agar masyarakat mampu memilah dan memahami informasi secara tepat.

Pemberdayaan generasi muda sebagai agen literasi juga perlu ditingkatkan. Mereka harus didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan yang kritis dan kreatif. Di sisi lain, pemerataan akses literasi harus menjadi prioritas agar seluruh masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Pada akhirnya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi dalam membangun peradaban. Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang signifikan, tetapi tantangan ke depan adalah meningkatkan kualitas literasi agar masyarakat tidak hanya mampu membaca, tetapi juga mampu memahami, berpikir, dan mengambil keputusan secara bijak.

Literasi yang berkualitas akan menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang cerdas, kritis, dan siap menghadapi dinamika zaman.