Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi dan jajaran saat sesi foto bersama di Kantor PP Muhammadiyah (Facebook: Syafigh Mughni)

Kedungademmu.id— Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, pada Selasa (7/4/2026) di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat. Pertemuan tersebut berlangsung hangat dan penuh keprihatinan terhadap situasi konflik yang tengah terjadi di Iran.

Kunjungan ini diterima langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, didampingi Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni serta perwakilan Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah.

Dalam pertemuan tersebut, Haedar Nashir menyampaikan belasungkawa atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Iran. Ia menegaskan bahwa konflik bersenjata tidak hanya berdampak pada satu negara, tetapi juga merusak tatanan peradaban dunia.

Peristiwa ini bukan sekadar menyangkut Iran sebagai sebuah negara, tetapi menyangkut nilai kemanusiaan. Setiap bangsa berhak hidup damai tanpa ancaman dan serangan atas dasar apa pun,” ujarnya.

Haedar juga menyoroti lemahnya peran hukum internasional dalam menghentikan agresi militer antarnegara. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan tantangan serius dalam peradaban modern yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan perdamaian.

Meski demikian, ia tetap optimistis bahwa Iran mampu bangkit dari situasi sulit dan kembali menjadi negara yang kuat serta berdaulat. Ia juga berharap konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia dapat segera diakhiri demi kemaslahatan umat manusia.

Sementara itu, Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kepedulian Muhammadiyah terhadap kondisi yang dihadapi negaranya. Ia menjelaskan bahwa serangan yang terjadi pada 28 Februari 2026 menyasar berbagai fasilitas, termasuk lembaga pendidikan dan permukiman, yang menyebabkan banyak korban jiwa, termasuk anak-anak.

Serangan tersebut menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan semakin diabaikan. Anak-anak dan warga sipil menjadi korban dari konflik yang tidak berperikemanusiaan,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa berbagai serangan yang terjadi tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga merusak fasilitas publik dan lingkungan hidup. Hal ini, menurutnya, menjadi tantangan serius bagi komunitas internasional dalam menjaga perdamaian dunia.

Melalui pertemuan ini, diharapkan terjalin sinergi antara negara sahabat dan organisasi masyarakat, termasuk Muhammadiyah, dalam menyuarakan perdamaian serta memberikan pemahaman yang utuh terkait dinamika geopolitik global.

PP Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk terus mendorong terciptanya perdamaian dunia, serta mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama dalam menghadapi berbagai konflik internasional.