Sejarah Awal dan Asal-Usul Yahudi (www.unsplash.com)

Tulisan berseri tentang Sejarah dan Penyimpangan Yahudi

Oleh:
M. Yanzhuril Ghulam Miraza

Kedungademmu.idKajian mengenai sejarah Yahudi dan dinamika keagamaannya merupakan bagian penting dalam memahami perjalanan panjang peradaban manusia, khususnya di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan sejumlah referensi klasik, termasuk yang dihimpun dalam karya Dirāsāt fī al-Adyān al-Yahūdiyyah wa an-Naṣrāniyyah karya Su‘ud bin Abdul ‘Aziz al-Kholaf, dapat ditelusuri bahwa sejarah Yahudi tidak dapat dilepaskan dari konteks geografis dan etnografis wilayah Palestina.

Sejak ribuan tahun sebelum masehi, kawasan Palestina telah dihuni oleh berbagai suku bangsa. Sekitar 3.500 tahun sebelum masehi, wilayah ini ditempati oleh bangsa Arab kuno yang dikenal sebagai suku Al-Finiqiyin. Mereka dikenal sebagai bangsa pelaut dan pedagang ulung yang memiliki jaringan luas hingga kawasan Laut Tengah. Kemudian, sekitar 2.500 tahun sebelum masehi, wilayah selatan Palestina dihuni oleh suku Al-Kan‘aniyin, yang dalam kitab Taurat dikenal dengan istilah Ardh Kan‘an atau Tanah Kan‘an.

Di sisi lain, kawasan pesisir yang berbatasan dengan Laut Putih (Laut Tengah) juga dihuni oleh kelompok-kelompok kabilah lain. Interaksi yang berlangsung dalam kurun waktu panjang antara berbagai suku tersebut melahirkan proses asimilasi budaya dan etnis. Dari percampuran inilah kemudian muncul entitas masyarakat yang dikenal sebagai bangsa Palestina. Fakta historis ini menunjukkan bahwa keberadaan masyarakat Palestina telah jauh lebih awal dibandingkan kemunculan bangsa Yahudi sebagai entitas sosial maupun keagamaan.

Perdebatan Etimologi Kata Yahudi
Istilah “Yahudi” sendiri menjadi bahan perdebatan di kalangan ulama dan ahli bahasa. Terdapat dua pendapat utama yang berkembang terkait asal-usul kata tersebut.

Pendapat pertama menyatakan bahwa kata “al-Yahudi” berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata “اليهود” yang memiliki makna “kembali” atau “bertaubat”. Pendapat ini merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan kisah Nabi Musa a.s.:

اِنَّا هُدْنَآ اِلَيْكَۗ
“Sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau” (QS. Al-A‘raf: 156).

Kata “hudna” dalam ayat tersebut dipahami sebagai akar kata yang kemudian melahirkan istilah “Yahudi”, merujuk pada kelompok yang kembali kepada Allah dalam bentuk taubat.

Namun demikian, pendapat kedua yang dinilai lebih kuat (rajih) menyebutkan bahwa istilah “Yahudi” bukan berasal dari bahasa Arab. Kata ini dinisbatkan kepada “Yahudza” (Judah), salah satu putra Nabi Ya‘qub a.s. yang menjadi nenek moyang Bani Israil. Selain itu, istilah ini juga dikaitkan dengan Kerajaan Yahudza yang berdiri di wilayah Palestina setelah masa Nabi Sulaiman a.s.. Dari sinilah istilah “Yahudi” kemudian digunakan untuk menyebut kelompok yang berasal dari keturunan tersebut.

Pengertian Yahudi dalam Perspektif Bahasa dan Al-Qur’an
Secara bahasa, Yahudi merujuk kepada sekelompok orang yang mengaku sebagai pengikut Nabi Musa a.s.. Dalam Al-Qur’an, kelompok ini tidak hanya disebut dengan satu istilah, melainkan beberapa nama yang menggambarkan identitas dan karakter mereka dalam berbagai konteks.

Beberapa sebutan yang digunakan antara lain: Kaum Musa, Bani Israil, Ahlul Kitab, dan Al-Yahudi. Masing-masing istilah tersebut memiliki nuansa makna tersendiri. “Bani Israil”, misalnya, merujuk pada garis keturunan Nabi Ya‘qub yang memiliki nama lain Israil. Sementara “Ahlul Kitab” digunakan untuk menyebut mereka sebagai golongan yang menerima wahyu berupa kitab suci, yakni Taurat.

Namun demikian, penyebutan istilah “Al-Yahudi” dalam Al-Qur’an sering kali hadir dalam konteks kritik dan celaan terhadap perilaku serta keyakinan mereka yang dinilai telah menyimpang dari ajaran tauhid yang dibawa oleh para nabi.

Salah satu ayat yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah:

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ يَدُ اللّٰهِ مَغْلُوْلَةٌ ۗغُلَّتْ اَيْدِيْهِمْ وَلُعِنُوْا بِمَا قَالُوْا ۘ بَلْ يَدٰهُ مَبْسُوْطَتٰنِۙ

“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu (kikir).’ Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu. Mereka dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan. Sebaliknya, kedua tangan-Nya terbuka.” (QS. Al-Ma’idah: 64).

Selain itu, terdapat pula ayat yang mengkritik klaim eksklusivitas mereka sebagai kelompok yang dekat dengan Tuhan:

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصٰرٰى نَحْنُ اَبْنٰۤؤُا اللّٰهِ وَاَحِبَّاۤؤُهٗ

“Orang Yahudi dan orang Nasrani berkata, ‘Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.’” (QS. Al-Ma’idah: 18).

Dalam ayat lain, Allah juga menegaskan bahwa Nabi Ibrahim a.s. tidak termasuk dalam golongan Yahudi maupun Nasrani:

مَا كَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani.” (QS. Ali ‘Imran: 67).

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa istilah “Yahudi” dalam Al-Qur’an tidak sekadar merujuk pada identitas etnis atau keturunan, melainkan lebih kepada kondisi keagamaan yang telah mengalami perubahan dari ajaran asli para nabi.

Awal Mula Penyimpangan dalam Tradisi Yahudi
Dalam perspektif teologis Islam, ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa a.s. pada dasarnya adalah ajaran tauhid yang murni, sebagaimana ajaran para nabi lainnya. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, ajaran tersebut mengalami berbagai bentuk perubahan dan penyimpangan.

Perubahan ini tidak hanya terjadi pada aspek praktik keagamaan, tetapi juga pada teks dan pemahaman terhadap kitab suci. Sebagian ulama menyebut bahwa telah terjadi tahrif (distorsi) terhadap Taurat, baik dalam bentuk perubahan lafaz maupun penafsiran yang menyimpang dari makna aslinya.

Selain itu, muncul pula sikap-sikap yang dikritik dalam Al-Qur’an, seperti kecenderungan materialisme, penolakan terhadap sebagian nabi, serta klaim keistimewaan yang berlebihan sebagai “umat pilihan”.

Seiring waktu, identitas “Yahudi” pun tidak lagi sekadar merujuk pada pengikut setia ajaran Nabi Musa, melainkan menjadi label bagi kelompok yang telah mengalami transformasi dalam keyakinan dan praktik keagamaannya.

Sejarah panjang Yahudi menunjukkan adanya dinamika yang kompleks antara aspek etnis, budaya, dan keagamaan. Dari asal-usulnya sebagai bagian dari Bani Israil yang mengikuti ajaran Nabi Musa, hingga perkembangan selanjutnya yang diwarnai berbagai penyimpangan, semuanya menjadi bagian dari perjalanan historis yang tidak terpisahkan dari kawasan Palestina.

Memahami sejarah ini secara utuh tidak hanya penting dari sisi akademik, tetapi juga memberikan perspektif yang lebih luas dalam melihat hubungan antaragama dan peradaban di dunia. Dengan demikian, kajian semacam ini diharapkan dapat menjadi landasan untuk membangun pemahaman yang lebih kritis, objektif, dan proporsional terhadap sejarah umat manusia.