![]() |
| Sejarah Yahudi Secara Global (www.unsplash.com) |
Tulisan berseri tentang Sejarah dan Penyimpangan Yahudi
Oleh:
M. Yanzhuril Ghulam Miraza
Kedungademmu.id—Sebagaimana diketahui bahwa Israil adalah nama lain dari Nabi Ya‘qub bin Ishaq bin Ibrahim a.s.. Dari beliau inilah lahir keturunan yang kemudian dikenal sebagai Bani Israil. Pada masa awal kehidupannya, Nabi Ya‘qub tinggal di tanah Palestina setelah sebelumnya wilayah tersebut dihuni oleh suku Kan‘an. Kehidupan Nabi Ya‘qub dan keluarganya saat itu masih bersifat sederhana, berpindah dari satu lembah ke lembah lain, serta menetap di wilayah-wilayah pedalaman.
Gambaran kehidupan ini sebagaimana dikisahkan oleh Allah Ta‘ala dalam Al-Qur’an melalui cerita Nabi Yusuf alaihissalam. Dalam Surah Yusuf ayat 100 disebutkan:
وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًاۚ وَقَالَ يٰٓاَبَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُ ۖقَدْ جَعَلَهَا رَبِّيْ حَقًّاۗ وَقَدْ اَحْسَنَ بِيْٓ اِذْ اَخْرَجَنِيْ مِنَ السِّجْنِ وَجَاۤءَ بِكُمْ مِّنَ الْبَدْوِ
“Dia (Yusuf) menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Mereka tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dia (Yusuf) berkata, ‘Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Sungguh, Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sungguh, Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari pedalaman.’” (QS. Yusuf: 100).
Para ulama tafsir memberikan penjelasan atas ayat ini. Ibnu Katsir menerangkan bahwa yang dimaksud dengan “pedalaman” adalah kehidupan desa yang jauh dari pusat peradaban. Sementara Ibnu Juraij menjelaskan bahwa mereka adalah kaum yang hidup berpindah-pindah dari satu lembah ke lembah lain dengan berjalan kaki. Hal ini menunjukkan bahwa Bani Israil pada masa itu belum memiliki kehidupan menetap seperti masyarakat kota, melainkan hidup dalam pola nomaden.
Perpindahan Nabi Ya‘qub dan Anak-Anaknya dari Pedalaman Palestina ke Mesir
Setelah Allah memberikan anugerah kepada Nabi Yusuf a.s. untuk tinggal di Mesir dan bahkan menjadi pejabat penting di negeri tersebut, Nabi Yusuf mengundang ayahnya, yaitu Nabi Ya‘qub, beserta saudara-saudaranya untuk datang dan menetap di Mesir. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Bani Israil, karena menandai perpindahan mereka dari kehidupan pedalaman menuju peradaban yang lebih maju.
Disebutkan dalam kitab mereka bahwa jumlah Bani Israil saat memasuki Mesir berjumlah sekitar 70 orang. Mereka datang sebagai kaum yang beriman dan taat kepada Allah, sehingga Allah memberikan kepada mereka kehidupan yang baik di negeri Mesir. Pada masa itu, raja Mesir (Fir‘aun) berasal dari suku Hyksos, yaitu bangsa Semit yang berasal dari wilayah Syam (Syiria–Palestina). Karena adanya kedekatan latar belakang, penguasa tersebut memberikan Bani Israil tempat tinggal dan tanah untuk dihuni.
Dengan fasilitas tersebut, Bani Israil hidup dalam kondisi yang relatif aman dan sejahtera. Mereka dapat berkembang, beranak pinak, serta membangun kehidupan sosial yang lebih stabil dibandingkan sebelumnya. Fase ini menunjukkan bagaimana pertolongan Allah datang melalui sebab-sebab yang tidak disangka, yakni melalui kekuasaan Nabi Yusuf di Mesir.
Namun, keadaan ini tidak berlangsung selamanya. Setelah berakhirnya kekuasaan Fir‘aun dari kalangan Hyksos, tampuk kekuasaan Mesir beralih kepada raja-raja dari suku Qibti. Pergantian kekuasaan ini membawa perubahan drastis terhadap kehidupan Bani Israil. Mereka yang sebelumnya dihormati, berubah menjadi kelompok yang tertindas dan diperbudak.
Sebagaimana dikisahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ
“Sesungguhnya Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 4).
Ayat ini menggambarkan secara jelas bentuk kezaliman yang dialami oleh Bani Israil. Mereka tidak hanya dipaksa bekerja sebagai budak, tetapi juga mengalami penindasan yang sangat kejam, termasuk pembunuhan terhadap anak-anak laki-laki mereka. Penindasan ini berlangsung dalam waktu yang sangat lama, menciptakan penderitaan kolektif yang mendalam di tengah-tengah Bani Israil.
Penyiksaan dan penindasan tersebut berlangsung selama ratusan tahun, hingga Allah mengutus Nabi Musa alaihissalam sebagai rasul untuk mendakwahkan tauhid kepada Fir‘aun, sekaligus membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Rentang waktu antara Nabi Yusuf dan Nabi Musa diperkirakan berkisar antara 300 hingga 400 tahun, sebuah masa panjang yang penuh ujian dan cobaan.
Dalam proses dakwahnya, Nabi Musa menghadapi penolakan keras dari Fir‘aun dan para pembesarnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
وَقَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ اَتَذَرُ مُوْسٰى وَقَوْمَهٗ لِيُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَيَذَرَكَ وَاٰلِهَتَكَۗ قَالَ سَنُقَتِّلُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَنَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْۚ وَاِنَّا فَوْقَهُمْ قٰهِرُوْنَ
“Para pemuka dari kaum Fir‘aun berkata, ‘Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya sehingga mereka berbuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkanmu serta tuhan-tuhanmu?’ Fir‘aun menjawab, ‘Akan kita bunuh anak-anak laki-laki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka.’” (QS. Al-A‘raf: 127).
Sebagai bentuk peringatan atas keingkaran Fir‘aun, Allah menurunkan berbagai azab kepada mereka, seperti kekeringan panjang, paceklik, kegagalan panen, badai angin, serangan belalang, munculnya katak dalam jumlah besar, hingga berubahnya sumber air menjadi darah. Semua itu merupakan tanda kekuasaan Allah agar mereka kembali kepada kebenaran.
Namun, Fir‘aun dan bala tentaranya tetap dalam kesombongan dan keingkaran. Mereka tidak mau beriman kepada Allah dan terus menindas Bani Israil. Hingga akhirnya, Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa alaihissalam untuk membawa Bani Israil keluar dari negeri Mesir. Perintah ini menjadi awal dari pembebasan mereka dari penindasan yang panjang dan berat.
Peristiwa keluarnya Bani Israil dari Mesir ini menjadi salah satu fase penting dalam sejarah Yahudi secara global. Ia bukan hanya sekadar perpindahan tempat, tetapi juga menjadi simbol pertolongan Allah kepada kaum yang tertindas serta bukti bahwa kezaliman pada akhirnya akan dikalahkan oleh kebenaran.

