Momen tersebut menjadi pengalaman berharga yang tidak hanya menambah wawasan budaya, tetapi juga melatih keberanian siswa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Dengan penuh antusias, para siswa memperkenalkan diri, bertukar cerita, serta menanyakan pengalaman kedua wisatawan selama berkunjung ke Indonesia.
Suasana percakapan berlangsung hangat dan akrab. Marc dan Ola tampak menyambut baik rasa ingin tahu para siswa serta memberikan respons positif selama sesi interaksi berlangsung.
Salah satu siswa, Friski Kantata Jati dari kelas VIII B, mengaku awalnya merasa gugup ketika harus berbicara langsung dengan warga negara asing. Namun, rasa canggung tersebut perlahan hilang setelah percakapan dimulai.
“Awalnya saya merasa gugup karena harus berbicara menggunakan bahasa Inggris. Namun setelah mulai berkenalan dan berbincang dengan Marc dan Ola, saya menjadi lebih percaya diri. Pengalaman ini sangat menyenangkan dan membuat saya semakin termotivasi untuk belajar bahasa Inggris dengan lebih giat,” ujarnya.
Menurut Kaka, pengalaman berbicara langsung dengan penutur asing memberikan pelajaran yang berbeda dibandingkan pembelajaran di dalam kelas. Selain meningkatkan kemampuan berbahasa, kegiatan tersebut juga melatih keberanian dan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan yang lebih luas.
“Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus diadakan karena selain menambah pengetahuan, juga melatih keberanian dan kemampuan berkomunikasi dengan orang dari berbagai negara,” tuturnya.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan dengan siapa saja. Melalui pengalaman nyata di lapangan, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademis, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi, kepercayaan diri, serta wawasan global yang penting di era modern.
Interaksi dengan wisatawan asal Prancis dan Belanda tersebut menjadi salah satu momen berkesan bagi siswa MTs Muhammadiyah 2 Kedungadem. Pengalaman itu diharapkan dapat memotivasi mereka untuk terus belajar, berani berkomunikasi, dan membuka diri terhadap pergaulan internasional tanpa melupakan jati diri sebagai generasi bangsa.

