Praktisi Ahli Manajemen Bencana dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Ujang Dede Lesmas, menilai bahwa perilaku tersebut berakar pada kegagalan manusia dalam membaca ancaman secara tepat. Kereta api yang tampak jauh sering kali disalahartikan sebagai aman, padahal kecepatannya sulit dipersepsikan secara akurat oleh mata manusia.
“Dalam hitungan detik, keputusan diambil bukan berdasarkan realitas, tetapi ilusi jarak dan waktu,” ujarnya.
Selain faktor persepsi, bias optimisme juga menjadi pemicu utama. Banyak pengendara merasa dirinya mampu “lolos” dari risiko, terutama jika sebelumnya pernah berhasil melewati situasi serupa. Pola ini membentuk keberanian semu yang berbahaya.
Tekanan sosial turut memperparah kondisi. Ketika satu pengendara melanggar, yang lain cenderung mengikuti. Akibatnya, pelanggaran berubah menjadi kebiasaan kolektif yang seolah wajar, meskipun berisiko tinggi.
Dari sisi sistem, masih terdapat celah yang memungkinkan terjadinya pelanggaran. Waktu tunggu yang tidak pasti, desain perlintasan yang belum sepenuhnya aman, hingga minimnya pengawasan menjadi faktor yang memperbesar peluang kecelakaan.
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif. Selain penegakan hukum, intervensi berbasis perilaku dinilai lebih efektif. Misalnya, pemasangan marka visual, garis kejut, serta penghitung waktu (countdown timer) yang dapat membantu pengendara mengambil keputusan lebih rasional.
Pendekatan emosional juga dinilai penting. Kesadaran bahwa tindakan ceroboh dapat berdampak pada keluarga dan orang lain dinilai lebih menyentuh dibandingkan sekadar ancaman sanksi.
Fenomena ini juga mencerminkan budaya modern yang serba cepat. Waktu sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dikejar, bahkan dengan mengabaikan keselamatan. Padahal, di perlintasan rel, keputusan untuk menunggu beberapa menit dapat menjadi penentu keselamatan jiwa.
Ujang menegaskan bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga hasil interaksi antara manusia dan sistem. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara edukasi, perbaikan infrastruktur, serta perubahan budaya.
“Perlintasan rel bukan sekadar tempat bertemunya jalan dan kereta, tetapi ruang di mana keputusan kecil menentukan nasib besar,” tegasnya.
Pada akhirnya, kemampuan untuk berhenti sejenak di tengah tekanan waktu menjadi bentuk kecerdasan yang paling mendasar. Dalam dunia yang terus bergerak cepat, keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama.

