![]() |
| Yazid Mar'i saat menyampaikan keynote speaker pada Tasyakuran dan Pelepasan Siswa Perguruan Muhammadiyah Sugihwaras Sabtu (16/5/2026) (Istimewa/Kedungademmu.id) |
Kedungademmu.id—Semangat memajukan pendidikan berbasis nilai keislaman dan kemajuan bangsa mengemuka dalam kegiatan tasyakuran dan pelepasan siswa Perguruan Muhammadiyah Sugihwaras yang digelar pada Sabtu (16/5/2026). Bertempat di Gedung Serba Guna Desa Sugihwaras, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, acara tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri sekitar 250 peserta dari berbagai unsur masyarakat dan persyarikatan.
Hadir dalam kegiatan tersebut unsur Forkopimcam Sugihwaras, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sugihwaras, tokoh pendidikan, komite sekolah dan madrasah, dewan guru, tenaga kependidikan, organisasi otonom tingkat cabang dan ranting, wali murid, hingga para siswa tingkat akhir jenjang MI, MTs, SMP, dan SMA yang dinyatakan lulus pada tahun ajaran ini.
Acara dimulai tepat pukul 08.00 WIB dengan sambutan Ketua Panitia, Sutikno, yang juga menjabat Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Sugihwaras. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan pelepasan siswa sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan peserta didik selama menempuh pendidikan di lingkungan Muhammadiyah.
Selanjutnya, Ketua PCM Sugihwaras, Fatkurrahman, menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik semata, tetapi juga keterampilan dan akhlak peserta didik.
“Keberhasilan pendidikan bukan hanya soal penguasaan pengetahuan. Keterampilan hidup dan akhlak justru menjadi bagian yang sangat penting dalam membentuk generasi masa depan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua PDM Bojonegoro Koordinator Majelis Dikdasmen dan PNF, M. Yazid Mar’i, hadir memberikan sambutan sekaligus keynote speech. Ia mengawali paparannya dengan menekankan bahwa indikator kemajuan suatu bangsa maupun individu menurut UNESCO terletak pada kualitas pendidikannya.
Menurutnya, pandangan UNESCO itu selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11 yang menyebutkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat lebih tinggi.
Mantan Kepala MI Muhammadiyah 22 Sugihwaras ini kemudian menjelaskan empat pilar pendidikan menurut UNESCO yang menjadi fondasi penting dalam membangun generasi unggul.
Pilar pertama adalah Learning to Know atau belajar untuk mengetahui. Pilar ini bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu. Dalam praktiknya, murid didorong untuk belajar secara aktif, kreatif, dan kritis, sekaligus memiliki kemampuan memecahkan masalah baik di dalam maupun di luar kelas.
Ia menilai, di era digital saat ini, belajar untuk mengetahui juga berarti mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana memperoleh pengetahuan. Internet dan media sosial, misalnya, dapat dimanfaatkan secara positif untuk mencari referensi dan berdiskusi mengenai berbagai topik pembelajaran.
Pilar kedua adalah Learning to Do atau belajar untuk melakukan. Pilar ini menekankan kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
“Murid tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu mempraktikkan ilmu melalui kreativitas, inovasi, penyelesaian masalah, hingga keterampilan mengorganisasi kegiatan,” jelasnya.
Menurut Yazid, penguatan kemampuan praktis dapat dilakukan melalui proyek pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, hingga pengalaman sosial di masyarakat. Penguasaan teknologi informasi juga menjadi bagian penting dalam mendukung kemampuan berinovasi.
Pilar ketiga, Learning to Live Together atau belajar hidup bersama, bertujuan membentuk peserta didik agar mampu hidup harmonis di tengah masyarakat yang majemuk dan global. Dalam pilar ini, murid diajarkan menghargai perbedaan, menjunjung kerja sama, serta memahami nilai hak asasi manusia, demokrasi, perdamaian, dan keadilan sosial.
Ia menambahkan, penguatan kemampuan sosial tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan siswa dalam kegiatan organisasi, komunitas, dan aktivitas sosial kemasyarakatan.
Adapun pilar keempat adalah Learning to Be atau belajar untuk menjadi. Pilar ini berorientasi pada pengembangan potensi diri peserta didik agar siap menghadapi kehidupan masa depan secara utuh, baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual.
“Peserta didik harus tumbuh menjadi pribadi yang mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, sekaligus memiliki kematangan emosi dan spiritualitas,” tuturnya.
Selain mengulas empat pilar UNESCO, Yazid juga menekankan pentingnya pendidikan Muhammadiyah tetap berpijak pada tujuan utama persyarikatan, yakni membentuk manusia muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, cakap, percaya diri, cinta tanah air, dan berguna bagi masyarakat.
Menurutnya, pendidikan Muhammadiyah dirancang untuk melahirkan generasi yang memadukan kekuatan iman dan penguasaan ilmu pengetahuan, sehingga terwujud sosok “ulama yang intelektual dan intelektual yang ulama” sebagaimana dicita-citakan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
Ia menjelaskan, tujuan pendidikan Muhammadiyah mencakup beberapa aspek penting. Pertama, membentuk manusia berkemajuan yang memiliki etos tajdid, berpikiran terbuka, cerdas, dan mampu merespons perkembangan zaman.
Kedua, integrasi iman dan ilmu dengan menghapus dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum agar ilmu pengetahuan tetap berlandaskan moral agama.
Ketiga, pembentukan karakter seperti disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian peserta didik.
Keempat, penguatan jiwa sosial dan kemanusiaan melalui implementasi nilai-nilai teologi Al-Ma’un guna menyiapkan kader yang siap berkhidmat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
“Seluruh proses pendidikan Muhammadiyah pada akhirnya bermuara pada terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” tegasnya.
Yazid juga mengaitkan tujuan pendidikan Muhammadiyah dengan teori Taksonomi Bloom yang dikembangkan oleh Benjamin S Bloom, yakni pendidikan yang mencakup tiga ranah utama: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal tersebut, menurutnya, juga sejalan dengan konsep pendidikan yang memerdekakan sebagaimana dicita-citakan Ki Hajar Dewantara.
Dalam paparannya, ia turut menyinggung arah kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengusung visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Visi tersebut menekankan pemerataan akses pendidikan sekaligus jaminan mutu layanan pendidikan bagi seluruh warga negara Indonesia.
Ia menyebut, kebijakan pendidikan nasional saat ini diarahkan untuk membentuk generasi yang knowledgeable, capable, dan humble. Generasi yang berpengetahuan luas, memiliki keterampilan menghadapi dunia kerja, sekaligus tetap rendah hati dan berakhlak mulia.
Selain itu, generasi muda juga dituntut memiliki kemampuan soft skills seperti kreativitas (creativity), berpikir kritis (critical thinking), komunikasi (communication), dan kolaborasi (collaboration) yang relevan dengan perkembangan zaman.
Yazid menilai pendekatan deep learning yang diterapkan Kemendikdasmen di bawah kepemimpinan Abdul Mu'ti menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan karakter dan kewargaan peserta didik secara lebih mendalam.
Menutup keynote speech-nya, Yazid berpesan kepada para guru agar mengajar tidak sekadar menghadirkan fisik di ruang kelas, tetapi juga menghadirkan ruh dan ketulusan dalam mendidik.
Ia mengutip petuah pendiri Pondok Modern Gontor, KH Imam Zarkasyi, “At-thariqatu muhimmatun walakin al-mudarrisu ahammu minath-thariqah, wal mudarrisu muhimmatun walakin ruhul mudarris ahammu minal mudarris,” yang berarti metode itu penting, tetapi guru lebih penting dari metode; dan ruh guru lebih penting daripada guru itu sendiri.
Kepada para siswa yang lulus, Yazid berpesan agar terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan senantiasa menghormati guru agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah.
Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi pelepasan siswa dan ditutup dengan doa bertepatan saat azan Zuhur berkumandang.

