Berdasarkan data World Health Organization (WHO), lebih dari 260 juta orang di dunia hidup dengan asma. Angka tersebut menunjukkan bahwa asma masih menjadi masalah kesehatan global yang serius. Meski demikian, pemahaman masyarakat tentang gejala awal dan penanganan asma dinilai masih terbatas.
Asma merupakan penyakit kronis pada saluran pernapasan akibat peradangan yang menyebabkan penyempitan saluran napas. Kondisi ini membuat penderita rentan mengalami sesak napas, batuk, dan mengi, terutama saat terpapar pemicu seperti debu, asap, udara dingin, atau alergi. Serangan asma dapat terjadi secara tiba-tiba apabila pemicunya tidak dikenali atau tidak dikendalikan.
Anggota Bidang SPMK PK IMM FKM UMJ periode 2025–2026, Salwa Salsabilla, menekankan pentingnya edukasi sejak dini terkait penyakit ini. “Asma adalah kondisi kronis yang perlu dipahami sejak awal agar tidak diremehkan. Edukasi penanganan yang tepat sangat penting agar penderita tetap bisa hidup aktif dan produktif,” ujarnya.
Menurutnya, peringatan Hari Asma Sedunia seharusnya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi berkelanjutan, khususnya bagi generasi muda. Minimnya literasi kesehatan membuat banyak orang baru menyadari pentingnya penanganan asma setelah mengalami serangan.
Rendahnya kesadaran ini juga dipengaruhi oleh kurangnya informasi yang mudah diakses serta terbatasnya kampanye kesehatan di lingkungan masyarakat. Akibatnya, upaya pencegahan dan pengendalian asma belum berjalan optimal.
Tema global “Let Every Person Breathe” yang diusung dalam peringatan tahun ini menjadi pengingat bahwa akses terhadap kesehatan pernapasan merupakan hak dasar setiap individu. Upaya peningkatan kesadaran publik melalui edukasi dinilai menjadi langkah penting untuk menekan dampak penyakit ini.
Peringatan Hari Asma Sedunia diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, melainkan menjadi titik awal penguatan literasi kesehatan masyarakat. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan mampu mengenali gejala lebih dini dan melakukan penanganan yang tepat, sehingga risiko serangan asma dapat diminimalkan.

