Pengurus dan kader IPM Bojonegoro berfoto bersama usai kegiatan perkaderan dan dakwah komunitas. Melalui pembentukan Pimpinan Ranting Istimewa (PRI) di sekolah non-Muhammadiyah serta pengembangan berbagai komunitas pelajar (Istimewa/kedungademmu.id)
Kedungademmu.id—Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Bojonegoro terus melakukan inovasi dalam pengembangan kaderisasi pelajar. Melalui semangat Pelajar Adaptif yang diusung pada periode 2023–2026, IPM Bojonegoro memperluas jangkauan perkaderan tidak hanya di lingkungan sekolah Muhammadiyah, tetapi juga melalui dakwah komunitas dan sekolah non-Muhammadiyah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya IPM Bojonegoro dalam menyesuaikan paradigma perkaderan dengan perkembangan zaman serta kebutuhan generasi muda saat ini. Perluasan kaderisasi diwujudkan melalui pembentukan Pimpinan Ranting Istimewa (PRI) di sejumlah sekolah non-Muhammadiyah serta pengembangan berbagai komunitas pelajar yang menjadi ruang aktualisasi kader.

Ketua PD IPM Bojonegoro Nasarudin Yusma menjelaskan bahwa perluasan perkaderan merupakan bentuk ikhtiar untuk menghadirkan nilai-nilai keislaman, kepemimpinan, dan pengembangan diri kepada lebih banyak pelajar.

"Saat ini kaderisasi tidak lagi terbatas pada ruang sekolah Muhammadiyah. Kami ingin memberikan ruang yang lebih luas bagi pelajar untuk bertumbuh, belajar, dan berkontribusi melalui berbagai wadah yang sesuai dengan minat dan potensinya," ujarnya.

Hingga saat ini, IPM Bojonegoro telah berhasil membentuk tiga Pimpinan Ranting Istimewa (PRI) yang aktif menjalankan proses kaderisasi di sekolah non-Muhammadiyah. Ketiga PRI tersebut adalah PRI A.R. Fachruddin di SMA Negeri 1 Sumberrejo, PRI HOS Cokroaminoto di SMA Negeri 2 Taruna Pamong Praja Bojonegoro, dan PRI Madani di MAN 1 Bojonegoro.

Keberadaan ketiga PRI tersebut menjadi proyek percontohan yang diharapkan dapat menginspirasi pengembangan kaderisasi IPM di sekolah non-Muhammadiyah di berbagai daerah.

Ahmad Rohil Falahi Ketua Umum PRI HOS Cokroaminoto, mengaku memperoleh banyak pengalaman selama berproses di IPM.

"Berproses dan memimpin di PRI IPM menjadi salah satu keberuntungan besar bagi saya. Melalui organisasi ini saya belajar tentang kerja sama, tanggung jawab, dan kepemimpinan. Tidak hanya berkembang secara teknis, tetapi juga secara spiritual karena diarahkan menjadi kader Muhammadiyah yang berkarakter," ungkapnya.

Selain memperluas kaderisasi melalui sekolah, IPM Bojonegoro juga aktif mengembangkan dakwah komunitas sebagai sarana penguatan minat dan bakat pelajar. Beberapa komunitas yang telah dibentuk antara lain Komando Pasukan Pelajar Muhammadiyah (Kompas-PM), Komunitas Literasi Sunrise, Lembaga Media dan Komunikasi, serta Lembaga Fasilitator Pendamping.

Masing-masing komunitas memiliki fokus gerakan yang berbeda sehingga mampu menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengembangan kompetensi kader sesuai bidang yang diminati.

Melalui strategi dakwah komunitas dan perluasan perkaderan di sekolah non-Muhammadiyah, IPM Bojonegoro menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan gerakan pelajar yang inklusif, adaptif, dan relevan dengan tantangan zaman. Langkah tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa kaderisasi dapat dilakukan secara kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar organisasi.

Dengan berbagai terobosan tersebut, IPM Bojonegoro diharapkan mampu melahirkan kader-kader pelajar yang berilmu, berkarakter, serta siap menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.