Ketika Neraka Dinyalakan (www.unsplash.com)

Oleh:
M. Yanzhuril Ghulam Miraza

Kedungademmu.idSegala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba'du:

Sesungguhnya Allah telah menciptakan neraka dan menjadikannya sebagai tempat bagi musuh-musuh-Nya yang menyelisihi perintah-Nya, Allah memenuhi neraka tersebut dengan kemurkaan-Nya, serta menjadikannya sebagai tempat berbagai macam azab yang tidak tertahankan, Allah juga telah memperingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan kepada mereka jalan-jalan keselamatan darinya, agar tidak ada lagi alasan bagi mereka setelah itu.

Namun demikian, meskipun peringatan tentang neraka telah disampaikan dengan sangat jelas, sebagian manusia yang sedikit ilmunya dan sempit pandangannya, serta hanya berorientasi pada kehidupan dunia tetap memilih untuk menyelisihi, membangkang, dan durhaka kepada Rabb mereka. Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan mereka terhadap hak Allah atas diri mereka, serta ketidaktahuan mereka terhadap hakikat neraka yang telah Allah ancamkan kepada mereka. Lalu, apa yang dimaksud dengan neraka itu? Dan bagaimana sifatnya?

Neraka sebagaimana firman Allah:
 
 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)

Dikatakan kepada Rasulullah
: “Wahai Rasulullah, apakah batu tersebut seperti batu di dunia?” Beliau menjawab: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya batu-batu itu seperti gunung-gunung.”  Rasulullah
juga bersabda: “Api kalian ini yang dinyalakan oleh anak Adam hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api neraka Jahannam.” Para sahabat berkata: “Demi Allah, api itu saja sudah cukup, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya api neraka itu dilebihkan atasnya dengan enam puluh sembilan bagian, yang masing-masing bagian sama panasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda: “Pada hari Kiamat, neraka Jahannam didatangkan dengan tujuh puluh ribu tali kekang, dan pada setiap tali kekang terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang menariknya.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Ka‘b al-Ahbar bahwa ia berkata: “Demi Dzat yang jiwa Ka‘b berada di tangan-Nya, seandainya engkau berada di timur dan neraka berada di barat, kemudian neraka itu disingkapkan, niscaya otakmu akan keluar dari kedua lubang hidungmu karena dahsyatnya panasnya! Wahai kaumku, apakah kalian mampu menghadapi ini? Ataukah kalian mampu bersabar atasnya? Wahai kaumku, sesungguhnya ketaatan kepada Allah itu lebih ringan bagi kalian, demi Allah daripada azab ini, maka taatilah Dia.”

Makanan penghuni neraka adalah zaqqum dan minuman mereka adalah air yang sangat panas. Rasulullah bersabda: “Seandainya setetes dari zaqqum jatuh ke dunia, niscaya akan merusak kehidupan penduduk dunia. Maka bagaimana dengan orang yang menjadikannya sebagai makanan?” (HR. Tirmidzi, ia berkata: hasan sahih)

Penghuni neraka berada dalam azab yang terus-menerus, tidak ada istirahat, tidak ada tidur, dan tidak ada ketenangan bagi mereka. Mereka berpindah dari satu azab ke azab yang lain. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan azabnya adalah seseorang yang memakai dua sandal dan dua tali sandal dari api, sehingga otaknya mendidih sebagaimana mendidihnya bejana. Ia tidak melihat ada orang yang lebih berat azabnya daripada dirinya, padahal dialah yang paling ringan azabnya.” (HR. Muslim)

Meskipun demikian, mereka berharap kematian, namun mereka tidak akan mati. Wajah-wajah mereka menjadi hitam, penglihatan mereka menjadi buta, lisan mereka menjadi kelu, punggung mereka hancur, dan tulang-tulang mereka remuk.

Allah berfirman:
“Mereka ingin keluar dari neraka, tetapi mereka tidak akan dapat keluar darinya, dan mereka memperoleh azab yang kekal.” (QS. Al-Ma’idah: 37)

Dan firman-Nya:“Sesungguhnya orang-orang yang kufur pada ayat-ayat Kami kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain agar mereka merasakan (kepedihan) azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 56)

Pakaian penghuni neraka terbuat dari api. "Pakaian mereka adalah dari cairan aspal (yang mendidih), dan wajah mereka ditutup oleh api.” (QS. Ibrahim: 50)

Minuman dan makanan mereka pun dari api. “Dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga usus mereka terpotong-potong?" (QS. Muhammad: 15)
 
Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata dalam menggambarkan neraka:
“(Neraka) adalah tempat yang penghuninya dikhususkan dalam keterasingan, diharamkan dari kenikmatan harapan dan kebahagiaan, wajah-wajah mereka yang dahulu berseri diganti dengan kegelapan, mereka dipukul dengan palu-palu yang lebih keras daripada gunung-gunung besar, diatasnya terdapat malaikat-malaikat yang kasar lagi keras. Seandainya engkau melihat penduduk neraka ketika berada dalam air yang mendidih dan dilemparkan ke dalam dingin yang sangat menusuk (zamharir), niscaya engkau akan menyaksikan kesedihan mereka yang terus-menerus tanpa kegembiraan, dan tempat tinggal mereka yang abadi tanpa perpindahan selama-lamanya.

Celaan yang mereka terima lebih berat daripada azab itu sendiri, penyesalan mereka lebih besar daripada musibah. Mereka menangis atas waktu muda yang dahulu mereka sia-siakan, dan setiap kali tangisan mereka bertambah, penderitaan pun semakin bertambah. Betapa besarnya penyesalan mereka karena kemurkaan Sang Pencipta, betapa berat penderitaan mereka karena besarnya bencana, betapa hinanya mereka di hadapan seluruh makhluk.

Di manakah hasil usaha mereka untuk dunia yang fana? Di manakah kesungguhan mereka dalam kemaksiatan? Di manakah upaya mereka mengikuti kesalahan manusia? Seakan-akan semuanya hanyalah mimpi yang kosong. Kemudian jasad-jasad itu dibakar, dan setiap kali hangus, ia dikembalikan lagi untuk dibakar. Di atasnya terdapat malaikat-malaikat yang kasar lagi keras.”

Maka renungkanlah, wahai saudaraku keadaan orang-orang yang sengsara itu, bagaimana mereka berbolak-balik dalam berbagai macam azab dan merasakan di dalam Jahannam sesuatu yang tidak sanggup ditanggung oleh gunung-gunung, serta yang penyebutannya saja mampu menghancurkan hati.
Apakah engkau telah melihat, wahai saudaraku, keadaan penghuni neraka dan kesengsaraan yang mereka rasakan?

Bayangkanlah seorang hamba seandainya ia termasuk di antara mereka, kita memohon kepada Allah agar tidak termasuk di dalamnya, ketika ia diperintahkan menuju Jahannam, ketika ia melihat jembatan shirath dengan ketipisannya, kedahsyatannya, dan besarnya bahayanya, ketika ia melihat orang-orang yang tergelincir di depan dan di belakangnya, kepala mereka terbalik, kaki mereka terangkat di atas shirath, dan api menyala-nyala mengejar mereka, sementara mereka berteriak memohon keselamatan.

Ketika ia melihat itu semua dalam keadaan takut dan gentar, khawatir akan menyusul mereka, tiba-tiba kakinya tergelincir dari shirath, akalnya pun hilang, lalu tergelincir lagi kaki yang lain hingga kepalanya terbalik, tidak lama kemudian, kait-kait (besi) telah menancap pada kulit dan dagingnya, lalu ia ditarik, dan api segera menyambutnya dengan kobaran dan kemarahan karena murka Rabb-nya.

Api itu menariknya sementara ia berteriak: “Celaka aku, celaka aku!” Hingga ketika ia telah masuk ke dalamnya, api itu menutupinya dengan panasnya yang membakar, tubuhnya pun membengkak saat pertama kali dilemparkan ke dalamnya, kemudian tidak lama setelah itu tubuhnya meleleh, dagingnya berguguran, dan tulang-tulangnya hancur. Ia terus berteriak, namun tidak diberi belas kasihan, dan ia berharap untuk kembali agar dapat bertaubat, tetapi seruannya tidak dikabulkan, mereka mencari istirahat di antara air panas dan api, namun tidak ada istirahat dan tidak ada ketenangan selamanya.

Ketika kesengsaraan dan rasa haus semakin memuncak, dan keletihan telah mencapai puncaknya, ia teringat akan surga. Maka bangkitlah rasa sesak dari hatinya sampai ke tenggorokannya, sebagai bentuk penyesalan atas hilangnya kesempatan untuk berada di sisi Allah, dan kesedihan atas kenikmatan surga yang ia sia-siakan sendiri akibat dosa dan maksiat, lalu ia bergegas memohon kepada Allah agar dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh, namun ia dibiarkan dalam waktu yang sangat lama tanpa jawaban, sebagai bentuk kehinaan baginya, kemudian, setelah itu, ia dipanggil dengan penuh kekecewaan, “Tinggallah kalian di dalamnya dengan hina, dan janganlah kalian berbicara dengan-Ku.” (QS. Al-Mu’minun: 108)

Untuk menambah keputusasaan dan penyesalan mereka, Allah pun menutup rapat pintu-pintu neraka atas mereka dan atas seluruh musuh-Nya yang ada di dalamnya, betapa besar keputusasaan mereka para penghuni Jahannam ketika mendengar suara pintu-pintu itu ditutup rapat atas mereka.

Mereka pun menyadari bahwa Allah menutupnya agar tidak ada seorang pun yang dapat keluar darinya selama-lamanya, maka hancurlah hati mereka karena keputusasaan, dan terputuslah segala harapan bahwa tidak akan ada lagi jalan keluar, tidak ada celah untuk terbebas dari azab Allah selamanya.

Kekekalan tanpa kematian, azab yang tidak pernah terangkat dari tubuh mereka.
Kesedihan yang tidak pernah berakhir, penyakit yang tidak pernah sembuh.
Belenggu yang tidak pernah terlepas, rantai yang tidak pernah terbuka.
Haus yang tidak pernah terpuaskan, tangisan mereka tidak dikasihani.Doa mereka tidak dikabulkan, taubat mereka tidak diterima, mereka berada dalam azab yang terus-menerus dan kehinaan yang tidak terputus.

Kemudian Allah mengutus para malaikat dengan penutup-penutup dari api, paku-paku dari api, dan tiang-tiang dari api, lalu mereka ditutup rapat dengan penutup-penutup itu, dikunci dengan paku-paku tersebut, dan dipanjangkan dengan tiang-tiang itu, sehingga tidak tersisa celah sedikit pun, tidak ada udara yang masuk, dan tidak ada kesempitan yang keluar.

Kemudian Ar-Rahman melupakan mereka, “Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka.”  (QS. At-Taubah: 67)
 
“Sesungguhnya neraka itu tertutup rapat atas mereka, (yaitu) dalam tiang-tiang yang dipanjangkan.”  (QS. Al-Humazah: 8–9)

Betapa sengsaranya kehidupan itu, dan betapa sengsaranya para penghuninya, kita memohon kepada Allah agar tidak termasuk di dalamnya, betapa besar kerugian yang tidak akan pernah dapat digantikan.
Betapa menyedihkan keadaan akal manusia yang mendengar semua ini tentang azab dan kesengsaraan tersebut dan bahkan meyakininya, namun tetap tidak peduli, tidak berusaha menjauh darinya, bahkan justru berjalan menuju kepadanya dengan kehendak dan pilihannya sendiri.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk melakukan apa yang Dia cintai dan ridhai, serta menyelamatkan kita dengan ampunan dan karunia-Nya dari pedihnya azab dan dahsyatnya murka-Nya.
 
Diterjemahkan dengan sedikit penyesuaian dari:
https://www.islamweb.net/ar/article/197053/%D9%88%D8%A5%D8%B0%D8%A7-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D8%AD%D9%8A%D9%85-%D8%B3%D8%B9%D8%B1%D8%AA