![]() |
| Milad ke-109 'Aisyiyah (www.suaraaisyiyah.id) |
Kedungademmu.id—Peringatan Milad ke-109 ‘Aisyiyah pada 19 Mei 2026 menjadi momentum penting untuk kembali meneguhkan peran perempuan dalam gerakan dakwah dan kemanusiaan. Di usia yang telah melampaui satu abad, ‘Aisyiyah terus menunjukkan kiprahnya sebagai organisasi perempuan Islam yang aktif bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Pada Milad tahun ini, ‘Aisyiyah mengangkat tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”. Tema tersebut mencerminkan komitmen organisasi dalam menghadirkan dakwah yang menebarkan kasih sayang, memperkuat nilai kemanusiaan, dan menjaga harmoni kehidupan di tengah berbagai tantangan global.
Semangat itu sesungguhnya telah lama tergambar dalam Mars ‘Aisyiyah karya M. Irsyad. Syair-syairnya lahir dari semangat perjuangan perempuan Muslim yang sejak awal menjadi bagian penting dalam perjalanan dakwah Muhammadiyah. Di dalamnya tergambar tekad kaum perempuan untuk ikut membangun bangsa melalui penguatan iman, ilmu, dan pengabdian sosial.
Bagi ‘Aisyiyah, Islam menjadi pedoman hidup yang menuntun gerakan organisasi dalam berbagai bidang kehidupan. Karena itu, kiprah ‘Aisyiyah selama ini tidak pernah jauh dari upaya membangun pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan perempuan, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Nilai keislaman dan kebangsaan berjalan beriringan dalam seluruh gerak perjuangannya.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro, M. Yazid Mar'i, menilai Mars ‘Aisyiyah menyimpan pesan ideologis yang kuat tentang peran perempuan dalam kehidupan berbangsa.
“Dalam Mars ‘Aisyiyah ada semangat pengabdian yang sangat kuat. Perempuan digambarkan sebagai tiang utama negara yang harus memiliki komitmen keislaman sekaligus kepedulian terhadap kehidupan sosial dan kebangsaan,” ujarnya.
Menurut Yazid, semangat itu pula yang membuat ‘Aisyiyah terus bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas gerakannya. Dakwah yang dibangun tidak berhenti pada penguatan internal organisasi, tetapi juga menyentuh persoalan-persoalan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat.
![]() |
| M. Yazid Mar'i, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro (Istimewa/Kedungademmu.id) |
Hal tersebut selaras dengan pandangan Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, yang dalam sambutan Milad ke-109 menyampaikan bahwa dakwah kemanusiaan merupakan dakwah yang mengedepankan kasih sayang, toleransi, dan perdamaian. Pendekatan seperti itu penting untuk membangun masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman agama, budaya, dan pandangan hidup.
Dakwah yang membawa semangat rahmatan lil ‘alamin, menurutnya, dapat menjadi jalan untuk mengurangi ketegangan dan konflik antarkelompok. Dengan pendekatan yang bijak dan inklusif, dakwah akan menghadirkan keteduhan serta memperkuat kehidupan sosial yang damai.
Yazid Mar’i melihat pandangan tersebut sejalan dengan misi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Anbiya ayat 107.
“Dakwah kemanusiaan yang dilakukan ‘Aisyiyah sebenarnya adalah implementasi nyata dari ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin. Dakwah harus menghadirkan kasih sayang dan memberi manfaat bagi kehidupan manusia,” katanya.
Menurut dia, kehadiran ‘Aisyiyah juga tidak lagi hanya berada dalam konteks nasional, tetapi telah berkembang menjadi gerakan perempuan yang memiliki jangkauan global. Hal itu terlihat dari berdirinya Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) di sejumlah negara seperti Mesir, Malaysia, Pakistan, Sudan, Taiwan, Turki, dan Hong Kong.
“Ini menunjukkan bahwa gerakan ‘Aisyiyah diterima secara luas karena membawa nilai kemanusiaan dan pemberdayaan. Di mana pun berada, ‘Aisyiyah tetap hadir untuk meningkatkan martabat perempuan dan memperkuat kehidupan masyarakat,” tutur Yazid.
Bagi Yazid Mar’i, Mars ‘Aisyiyah hingga kini tetap relevan sebagai pengingat arah perjuangan organisasi. Syairnya menggambarkan semangat pengabdian yang terus hidup dari generasi ke generasi, terutama dalam membangun kehidupan yang damai, bermartabat, dan berkeadaban.


