Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan, ‘Aisyiyah hadir bukan hanya sebagai organisasi perempuan, tetapi juga sebagai gerakan dakwah yang membawa perubahan sosial. Melalui teologi Al-Maun, ‘Aisyiyah diajarkan untuk tidak sekadar memahami Islam sebagai teks yang dihafal, melainkan ajaran yang diwujudkan dalam aksi nyata memberantas kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan.
Memasuki Milad ke-109, ‘Aisyiyah mengangkat tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”. Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi global dan nasional yang masih diwarnai berbagai persoalan kemanusiaan, konflik sosial, hingga meningkatnya kekerasan yang berdampak besar terhadap perempuan dan kelompok rentan.
Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Bojonegoro, Zuliyatin Lailiyah, menyampaikan bahwa ‘Aisyiyah terus berkomitmen menghadirkan dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin yang mengedepankan kasih sayang, perdamaian, dan keberpihakan kepada masyarakat lemah.
“Selama lebih dari satu abad, ‘Aisyiyah terus bergerak melalui pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, hingga pemberdayaan perempuan sebagai bagian dari dakwah kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam pidato Milad Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, perdamaian dimaknai melalui tiga dimensi penting, yakni dimensi ilahiyah (ketauhidan), dimensi insani (kemanusiaan), dan dimensi kauniyah (alam semesta).
Menurutnya, nilai ketauhidan harus terus diperkuat agar melahirkan kedamaian yang hakiki. Sementara itu, perdamaian dalam dimensi kemanusiaan dimulai dari keluarga yang sakinah dan harmonis sehingga mampu melahirkan masyarakat yang damai. Adapun dimensi kauniyah menegaskan pentingnya menjaga alam sebagai amanah Allah SWT demi menciptakan rahmat bagi seluruh alam.
Dalam momentum Milad ini, PDA Bojonegoro juga menegaskan komitmennya dalam memperjuangkan kelompok rentan melalui program inklusi yang telah berjalan lebih dari tiga tahun. Program tersebut menjadi bentuk keberpihakan terhadap kaum dhuafa dan mustadhafin agar tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam memperoleh akses pelayanan dan pemberdayaan.
Sebagai bentuk penguatan dakwah kemanusiaan, PDA Bojonegoro juga telah menghadirkan berbagai layanan sosial, di antaranya Pos Bantuan Hukum (Posbakum) ‘Aisyiyah, Biro Konsultasi Keluarga Sakinah (BIKKSA), serta Balai Kesejahteraan Sosial (BAKESOS) yang resmi diluncurkan pada awal tahun 2026.
BIKKSA hadir sebagai ruang konsultasi keluarga dan rumah tangga, Posbakum memberikan layanan bantuan hukum secara cuma-cuma bagi masyarakat dan kelompok rentan, sedangkan BAKESOS menjadi layanan pendampingan bagi masyarakat terdampak persoalan sosial.
“Dakwah bukan sekadar kata-kata, tetapi aksi nyata menghadirkan kemaslahatan. ‘Aisyiyah ingin terus menjadi pelopor gerakan perempuan yang membawa kedamaian dan harapan bagi masyarakat,” tambah Zuliyatin.
Milad ke-109 ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan ‘Aisyiyah bersama Muhammadiyah harus terus melintasi batas suku, agama, golongan, dan budaya demi mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Dengan semangat dakwah berkemajuan, ‘Aisyiyah diharapkan terus menjadi kekuatan perempuan Islam yang mampu menghadirkan perubahan, menebarkan kasih sayang, serta memperkokoh perdamaian untuk Indonesia dan dunia.

