![]() |
| Milad ke-109 Aisyiyah (www.suaraaisyiyah.id) |
Kedungademmu.id—Aisyiyah memperingati Milad ke-109 tepat pada 19 Mei 2026 dengan mengangkat tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”. Tema tersebut dipilih sebagai respons atas situasi global yang dinilai semakin memprihatinkan akibat konflik, perang, serta krisis kemanusiaan yang terus terjadi di berbagai belahan dunia.
Ketua Umum PP Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menyampaikan bahwa usia ke-109 menjadi momentum refleksi bagi organisasi perempuan Muhammadiyah tersebut untuk terus menghadirkan dakwah yang menebarkan kasih sayang, toleransi, dan nilai-nilai perdamaian di tengah kondisi dunia yang tidak menentu.
Menurutnya, konflik internasional yang melibatkan sejumlah negara telah berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Kenaikan harga bahan bakar, melemahnya nilai tukar rupiah, hingga meningkatnya harga kebutuhan pokok menjadi dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Situasi itu mendorong Aisyiyah untuk semakin meneguhkan peran dakwah kemanusiaan yang berpihak pada terciptanya ketenteraman sosial.
Ia menegaskan bahwa dakwah yang dibangun Aisyiyah bukan sekadar dakwah lisan, tetapi juga dakwah melalui aksi nyata dan amal usaha yang selama ini dikembangkan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, hingga pemberdayaan perempuan dan anak.
“Aisyiyah ingin mewujudkan perdamaian di tengah kondisi global yang memprihatinkan,” demikian salah satu penegasan Salmah Orbayinah dalam refleksi Milad ke-109 Aisyiyah.
Peringatan Milad kali ini juga diselenggarakan dengan pendekatan yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya peringatan digelar secara besar-besaran, maka tahun ini Aisyiyah memilih konsep yang lebih sederhana, hemat, namun tetap sarat makna.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kepekaan terhadap kondisi bangsa dan dunia yang sedang menghadapi ketidakpastian ekonomi. Aisyiyah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun budaya hidup sederhana, efisien, dan bijak dalam menggunakan sumber daya.
Refleksi Milad ke-109 Aisyiyah digelar di Convention Hall Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta pada Selasa (19/5/2026). Dalam kesempatan itu, Salmah menekankan bahwa dakwah kemanusiaan merupakan bagian dari implementasi Islam rahmatan lil ‘alamin yang menghargai keberagaman serta mendorong kehidupan masyarakat yang harmonis.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat global saat ini menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari peperangan, konflik sosial, kekerasan berbasis gender, hingga meningkatnya jumlah pengungsi perempuan dan anak. Dalam situasi tersebut, organisasi masyarakat sipil seperti Aisyiyah memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan solusi dan pelayanan kemanusiaan yang inklusif.
Karena itu, Aisyiyah terus memperkuat berbagai program sosial dan pelayanan publik. Di bidang hukum misalnya, organisasi ini telah mengembangkan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) sejak tahun 2016. Hingga kini, tercatat sebanyak 116 Posbakum telah berdiri di berbagai daerah di Indonesia sebagai bentuk pelayanan kemanusiaan dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat.
Selain Posbakum, Aisyiyah juga mengembangkan sejumlah program lain seperti Biro Konsultasi Keluarga Sakinah (BIKSA), Gerakan Aisyiyah Cinta Anak (GACA), pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi keluarga, hingga gerakan literasi perempuan.
Dalam bidang media dan literasi, Salmah menyebut keberadaan Suara Aisyiyah sebagai salah satu tonggak penting perjuangan perempuan Muhammadiyah. Media yang telah berdiri sejak tahun 1926 itu dinilai memiliki kontribusi besar dalam membangun kesadaran perempuan Muslim, memperluas wawasan keilmuan, sekaligus menjaga komunikasi organisasi selama hampir satu abad.
“Suara Aisyiyah telah memainkan peran penting dalam membangun kesadaran kolektif perempuan Muslim untuk meningkatkan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam Resepsi Milad ke-109 Aisyiyah menyoroti pentingnya membangun spirit baru Muhammadiyah dan Aisyiyah agar mampu menjawab perubahan zaman yang semakin kompleks. Ia mengingatkan bahwa organisasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan sosial dan revolusi teknologi informasi agar tidak tertinggal.
Menurut Haedar, tantangan global yang ditandai perang, krisis kemanusiaan, dan ketidakpastian ekonomi harus dijawab dengan menghadirkan Islam wasathiyah atau Islam moderat yang mengedepankan nilai kemanusiaan dan perdamaian.
Ia menilai ekstremisme dan pendekatan kekerasan tidak akan pernah melahirkan solusi bagi peradaban manusia. Sebaliknya, dakwah yang moderat dan inklusif akan mampu menghadirkan perubahan sosial yang lebih berkeadaban.
“Pendekatan wasathiyah selalu menghadirkan nilai kemanusiaan tanpa perubahan yang ekstrem,” ujar Haedar.
Dalam pidatonya, Haedar juga mengapresiasi kiprah Aisyiyah yang selama ini konsisten bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan kemanusiaan. Menurutnya, keberadaan lebih dari 20 ribu TK ABA yang dimiliki ‘Aisyiyah merupakan aset besar dalam membangun peradaban melalui pendidikan.
Ia berharap lembaga-lembaga pendidikan Aisyiyah terus berkembang menjadi pusat pendidikan unggulan, bahkan bertaraf internasional. Pendidikan, menurutnya, merupakan kunci utama membangun masyarakat yang maju dan berkemajuan.
Momentum Milad ke-109 ini juga ditandai dengan soft launching TK ABA Semesta sebagai bagian dari ikhtiar ‘Aisyiyah memperkuat pendidikan anak usia dini yang berbasis nilai kemanusiaan dan perdamaian. Program tersebut diharapkan menjadi model pendidikan yang mampu melahirkan generasi unggul sekaligus berkarakter rahmatan lil ‘alamin.
Selain bergerak di tingkat nasional, Aisyiyah juga terus memperluas jaringan kerja sama internasional dalam isu kemanusiaan dan perdamaian. Organisasi ini aktif terlibat dalam berbagai forum global, termasuk membangun kolaborasi lintas negara dan lintas agama dalam memperjuangkan hak perempuan, anak, dan kelompok rentan.
Melalui tema Milad ke-109, Aisyiyah ingin menegaskan bahwa dakwah Islam berkemajuan harus hadir sebagai solusi atas berbagai problem kemanusiaan dunia. Dakwah tidak cukup hanya berupa ceramah dan retorika, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Di tengah dunia yang diwarnai konflik dan ketidakpastian, Aisyiyah menempatkan perdamaian sebagai agenda utama gerakan. Dengan semangat dakwah kemanusiaan, organisasi perempuan Muhammadiyah itu berharap dapat terus menjadi bagian dari upaya membangun dunia yang lebih damai, adil, dan bermartabat.

