![]() |
| Gambar AI (www.gemini.google.com) |
Ketua PDPM Bojonegoro, M. Imam Akbar Al Haromein, menyampaikan kepada kedungademmu.id Pada (2/5/2026) bahwa tema milad tahun ini, “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya”, bukan sekadar slogan, melainkan arah gerakan yang harus diwujudkan secara nyata oleh seluruh kader.
“Tema ini harus menjadi ruh gerakan. Pemuda Muhammadiyah tidak hanya kuat secara nilai, tetapi juga adaptif dalam menghadapi perubahan zaman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, makna “mengakar” menegaskan pentingnya menjaga nilai tauhid, integritas, dan komitmen moral di tengah dinamika global. Sementara “bertumbuh” mencerminkan kemampuan kader untuk terus berinovasi, terutama dalam memanfaatkan teknologi digital.
Menurutnya, Bojonegoro tidak bisa selamanya bergantung pada sektor energi migas. Masa depan daerah harus ditopang oleh kualitas sumber daya manusia yang unggul, kreatif, dan melek digital.
“Bojonegoro harus bertransformasi, dari sekadar penghasil energi menjadi pusat lahirnya ide dan inovasi digital,” tegasnya.
Sebagai bentuk konkret komitmen tersebut, PDPM Bojonegoro turut mengawal kebijakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang mengalokasikan anggaran beasiswa sebesar Rp40,4 miliar pada tahun 2026. Program ini dinilai sebagai peluang besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan pemuda.
PDPM memposisikan diri sebagai mitra strategis yang kritis dan konstruktif, dengan mendorong agar akses pendidikan semakin terbuka dan tidak terhambat oleh sekat administratif.
“Kami ingin memastikan bahwa pemuda, khususnya di desa, mendapatkan akses pendidikan yang setara dan berkeadilan,” tambahnya.
Selain sektor pendidikan, perhatian juga diarahkan pada penguatan kemandirian ekonomi pemuda. Melalui semangat kolaborasi, PDPM Bojonegoro mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.
Capaian Kabupaten Bojonegoro di sektor kesehatan yang telah mencapai skor 80 dinilai menjadi modal penting untuk melangkah ke sektor lain, khususnya penguatan ekonomi dan ketenagakerjaan.
Milad ke-94 ini menjadi ajang refleksi sekaligus penggerak perubahan. Pemuda diharapkan tidak lagi menjadi penonton dalam pembangunan, melainkan tampil sebagai pelaku utama yang berdaya dan mandiri.
“Ini saatnya pemuda menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri, berani mengambil peran, dan keluar dari zona nyaman,” tegas Imam.
Melalui momentum ini, PDPM Bojonegoro berharap seluruh elemen pemuda dapat bersinergi dalam membangun daerah secara berkelanjutan. Pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan kuantitas, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan masa depan.
Dengan semangat bertumbuh dan mengakar, Pemuda Muhammadiyah optimistis dapat berkontribusi dalam mewujudkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

