Guru Muhammadiyah se-Cabang Kedungadem pada Rihlah Pendidikan Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro, Ahad (17/5/2026)(Istimewa/Kedungademmu.id)

Kedungademmu.id
Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro terus memperkuat kualitas dan identitas guru Muhammadiyah melalui kegiatan rihlah pendidikan. Kegiatan yang digelar pada Ahad (17/5/2026) di wilayah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kedungadem itu menjadi ruang penguatan ideologi, komitmen, serta profesionalisme guru dan tenaga kependidikan Muhammadiyah.

Rihlah pendidikan tersebut dilaksanakan di dua lokasi berbeda sesuai jenjang pendidikan. Untuk jenjang SD/MI dipusatkan di Perguruan Muhammadiyah Kedungadem, sedangkan jenjang SMP/MTs dan SMA/SMK dilaksanakan di SMA Muhammadiyah Kedungadem.

Kegiatan ini diikuti para guru dan tenaga kependidikan Muhammadiyah dari berbagai amal usaha pendidikan di wilayah Kedungadem. Selain menjadi ajang silaturahmi, rihlah pendidikan juga dimanfaatkan sebagai forum penguatan nilai-nilai gerakan Muhammadiyah di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks.

Hadir memberikan materi di Perguruan Muhammadiyah Kedungadem, Wakil Ketua PDM Bojonegoro Koordinator Majelis Dikdasmen dan PNF, M. Yazid Mar’i. Dalam kesempatan tersebut ia menyampaikan materi bertajuk Meneguhkan Komitmen Guru Muhammadiyah. Turut hadir pula Sekretaris Majelis Tarjih Ahmad Syafi'i, yang memberikan penguatan terkait manhaj tarjih Muhammadiyah.

Sementara itu, di lokasi berbeda yakni SMA Muhammadiyah Kedungadem, materi disampaikan oleh Dewan Pakar Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro Ibnu Habibi bersama Ni’am.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro Suprapto, Koordinator SMA/SMK/MA Moh. Subiyanto, Koordinator SD/MI Wawan Rudianto, serta Ketua PCM Kedungadem Bambang Utomo yang membuka acara sekaligus memberikan sambutan.

Ketua PCM Kedungadem Bambang Utomo (Istimewa/Kedungademmu.id)


Dalam pemaparannya, M. Yazid Mar’i menegaskan pentingnya penguatan komitmen bermuhammadiyah bagi guru dan tenaga kependidikan. Menurutnya, tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini semakin berat dan membutuhkan guru yang tidak hanya profesional, tetapi juga memiliki keteguhan ideologi dan akhlak.

Wakil Ketua PDM Bojonegoro M. Yazid Mar'i


Ia menyoroti sejumlah persoalan yang dihadapi guru Muhammadiyah saat ini, mulai dari perubahan cepat dalam dunia pendidikan, tingginya beban administrasi, derasnya arus media sosial yang sulit dibendung, hingga menurunnya moral dan akhlak peserta didik. Selain itu, beberapa sekolah Muhammadiyah juga menghadapi tantangan berupa penurunan jumlah siswa.

“Peneguhan identitas Muhammadiyah yang berkemajuan dan mencerahkan menjadi keharusan mutlak sebagai implementasi tujuan pendidikan Muhammadiyah,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Yazid, guru Muhammadiyah harus memiliki karakter islami, berpikiran maju, profesional, mencerahkan, serta mampu menjadi teladan bagi peserta didik maupun lingkungan sekitarnya.

Menurutnya, guru Muhammadiyah bukan sekadar pengajar di ruang kelas, tetapi juga penggerak perubahan sosial dan pembentuk karakter generasi masa depan. Oleh sebab itu, integritas moral dan keteladanan harus terus dijaga.

Di tempat terpisah, Ibnu Habibi menekankan bahwa identitas guru Muhammadiyah pada hakikatnya adalah seorang dai. Guru Muhammadiyah memiliki tanggung jawab dakwah melalui pendidikan dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menyampaikan bahwa amar makruf nahi mungkar tidak hanya dilakukan melalui ceramah, melainkan dapat diwujudkan lewat sikap, perilaku, serta dedikasi guru dalam mendidik peserta didik.

“Guru Muhammadiyah harus menjadi contoh nyata dalam akhlak, disiplin, dan semangat menebarkan nilai-nilai Islam berkemajuan,” katanya.

Sesi berikutnya diisi Ahmad Syafi’i dan Ni’am yang mengulas pentingnya pemahaman manhaj tarjih bagi guru Muhammadiyah. Menurut keduanya, pemahaman terhadap metodologi tarjih Muhammadiyah menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai persoalan kontemporer.

Mereka menjelaskan bahwa pendekatan bayani, burhani, dan irfani merupakan instrumen penting dalam memahami persoalan keislaman maupun sosial secara komprehensif.

Pendekatan bayani menitikberatkan pada dalil-dalil teks Al-Qur’an dan hadis, sedangkan burhani mengedepankan rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Adapun irfani berkaitan dengan dimensi spiritual dan hati nurani dalam memahami kebenaran.

Dengan memahami tiga pendekatan tersebut, guru Muhammadiyah diharapkan mampu menghadirkan solusi yang bijak dan mencerahkan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat maupun dunia pendidikan.

Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta tampak antusias menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi di sekolah masing-masing, mulai dari tantangan pembelajaran, karakter siswa, hingga penguatan ideologi Muhammadiyah di lingkungan pendidikan.

Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro, Suprapto mengatakan bahwa kegiatan rihlah pendidikan ini merupakan bagian dari ikhtiar besar Muhammadiyah Bojonegoro dalam membangun pendidikan yang unggul dan berkeadaban.

Ia menyebut kegiatan serupa tidak hanya dilaksanakan di PCM Kedungadem, tetapi juga akan digelar di enam zona lainnya di Bojonegoro.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan dan berkeadaban,” ujarnya.

Suprapto berharap melalui penguatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan, kualitas pembelajaran di sekolah Muhammadiyah semakin meningkat. Ia juga optimistis peningkatan kualitas guru akan berdampak pada meningkatnya kualitas maupun kuantitas peserta didik di sekolah Muhammadiyah.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan Muhammadiyah sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang ada di dalamnya, terutama guru sebagai ujung tombak pendidikan.

Karena itu, pembinaan ideologi, profesionalisme, serta penguatan karakter guru Muhammadiyah akan terus menjadi perhatian utama Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro.

Kegiatan rihlah pendidikan ini pun diharapkan mampu mempererat solidaritas antarguru Muhammadiyah sekaligus menumbuhkan semangat baru dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern.