Ustaz Arif Subeki saat menyampaikan tausiyah tentang ketakwaan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS dalam kegiatan Turba Majelis Tabligh PCM Kedungadem di Desa Sidorejo (Istimewa/kedungademmu.id)
Kedungademmu.idMajelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kedungadem kembali menggelar kegiatan Turun Bawah (Turba) dakwah di Desa Sidorejo. Dalam pengajian tersebut, Ustaz Arif Subeki menyampaikan materi bertema ketakwaan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS sebagai teladan spiritual bagi umat Islam. (10/5/2026)

Di hadapan jamaah, Ustaz Arif Subeki menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS merupakan sosok yang mengajarkan makna ketakwaan melalui kesabaran, pengorbanan, serta keyakinan penuh kepada Allah SWT.

“Kesabaran Nabi Ibrahim membuahkan doa-doa yang mustajab, baik untuk keluarganya maupun negeri yang beliau tempati,” ujarnya.

Ia mengutip doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an:

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Menurutnya, doa tersebut menjadi bukti bahwa ketakwaan tidak hanya berdampak bagi diri sendiri, tetapi juga membawa keberkahan bagi lingkungan dan generasi penerus.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Arif juga mengajak jamaah belajar keberanian Nabi Ibrahim AS dalam berdakwah. Meski harus mempertaruhkan nyawa saat menghancurkan berhala dan menentang Raja Namrud, Nabi Ibrahim tetap teguh mempertahankan tauhid.

Kisah tersebut diabadikan dalam firman Allah SWT:

“Mereka berkata: ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian jika kalian benar-benar hendak bertindak.’ Kami berfirman: ‘Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.’” (QS. Al-Anbiya: 68–69)

Ustaz Arif menegaskan bahwa Nabi Ibrahim juga mengajarkan pentingnya menggunakan akal dan logika dalam mengenal Tuhan. Proses pencarian kebenaran yang dilakukan Ibrahim AS menjadi pelajaran berharga agar manusia tidak mengikuti keyakinan secara membuta.

Hal itu sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an ketika Nabi Ibrahim memperhatikan bintang, bulan, dan matahari sebelum akhirnya menyimpulkan bahwa hanya Allah SWT Tuhan yang sebenarnya.
(QS. Al-An’am: 76–79)

Selain itu, perjalanan spiritual Nabi Ibrahim AS bersama keluarganya juga diabadikan dalam rangkaian ibadah haji dan umrah. Mulai dari sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah hingga ibadah kurban menjadi simbol ketakwaan dan kepasrahan total kepada Allah SWT.

“Pengorbanan Nabi Ibrahim adalah wujud rasa syukur atas nikmat Allah. Beliau mampu melepaskan ‘Ismail-Ismail’ dalam dirinya, yakni sifat keduniawian yang menghalangi ketaatan kepada Allah,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan jamaah tentang perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail AS, yang kemudian menjadi simbol keikhlasan dan kepatuhan seorang hamba kepada Rabb-nya.

“Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Dalam penutup tausiyahnya, Ustaz Arif Subeki menyinggung keistimewaan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW yang namanya selalu disebut bersamaan dalam bacaan shalawat setiap salat.

Menurutnya, hal itu menjadi bukti bahwa kedua nabi tersebut memiliki kontribusi besar dalam membangun spiritualitas dan tatanan sosial umat manusia.

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim.”

Kegiatan Turba Majelis Tabligh PCM Kedungadem berlangsung khidmat dan diikuti jamaah dengan penuh antusias. Melalui pengajian tersebut, jamaah diajak memperkuat ketakwaan, kesabaran, serta semangat pengorbanan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.