Muharam bukan bulan sial (www.unsplash.com)

Kedungademmu.id
Memasuki bulan Muharam, sebagian masyarakat masih menjumpai berbagai kepercayaan yang telah diwariskan secara turun-temurun mengenai bulan Suro. Tidak sedikit yang meyakini bahwa bulan tersebut merupakan waktu yang sakral sekaligus menyeramkan, sehingga muncul berbagai pantangan seperti larangan menikah, pindah rumah, menggelar hajatan, atau memulai usaha baru.

Kepercayaan semacam itu masih hidup di sejumlah daerah dan kerap dikaitkan dengan kemungkinan datangnya musibah apabila pantangan tersebut dilanggar. Di sebagian masyarakat Indonesia, keyakinan tersebut bahkan masih memengaruhi keputusan-keputusan penting dalam kehidupan. Tidak sedikit keluarga yang memilih menunda pernikahan, menggeser waktu pelaksanaan hajatan, atau mengurungkan rencana pindah rumah karena khawatir kegiatan tersebut berlangsung pada bulan Muharam atau Suro.

Sebagian orang juga merasa waswas memulai usaha baru maupun menyelenggarakan acara besar pada bulan tersebut karena takut mengalami kesialan. Kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun itu akhirnya membuat sebagian masyarakat lebih percaya pada mitos daripada tuntunan agama.

Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai bulan Muharam yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai bulan Suro?

Dalam ajaran Islam, Muharam merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan ini memiliki kedudukan istimewa karena termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah Swt. Selain Muharam, tiga bulan haram lainnya adalah Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab.

Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu...."
(QS At-Taubah: 36).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Muharam termasuk bulan yang memiliki kemuliaan di sisi Allah. Kemuliaan itu bukan karena adanya unsur mistis atau kesialan, melainkan karena Allah memberikan keutamaan khusus pada bulan tersebut sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan dosa.

Keutamaan Muharam juga tidak terlepas dari sejarah besar Islam. Muharam dipilih sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah karena berkaitan dengan peristiwa hijrah Rasulullah saw. dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Peristiwa itu menjadi titik balik perjuangan Islam sekaligus simbol perubahan menuju keadaan yang lebih baik.

Makna hijrah yang terkandung di dalamnya menjadikan Muharam sebagai momentum untuk melakukan perenungan dan pembaruan diri. Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan pengingat bagi umat Islam untuk terus bergerak menuju kehidupan yang lebih baik.

Kedudukan Muharam sebagai bulan mulia juga ditegaskan Rasulullah saw. dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:

"Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun terdiri atas dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram; tiga bulan berturut-turut yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, serta Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil Akhir dan Syakban." (HR Bukhari dan Muslim)

Lalu muncul pertanyaan, jika Muharam merupakan bulan yang dimuliakan Allah, mengapa sebagian orang justru menganggapnya sebagai bulan yang menakutkan atau membawa kesialan?

Pandangan tersebut sesungguhnya tidak ditemukan dalam ajaran Islam. Berbagai larangan yang berkembang di masyarakat, seperti tidak boleh menikah, pindah rumah, menggelar hajatan, atau memulai usaha pada bulan Suro, lebih banyak bersumber dari tradisi dan mitos yang berkembang dalam perjalanan sejarah dan budaya.

Lama-kelamaan, sebagian masyarakat lebih sering mendengar mitos daripada dalil. Akibatnya, muncul keyakinan bahwa bulan tertentu memiliki kekuatan yang dapat mendatangkan nasib buruk. Padahal Islam tidak mengajarkan adanya hari, tanggal, ataupun bulan yang membawa kesialan.

Dalam Islam, baik dan buruknya kehidupan seseorang tidak ditentukan oleh waktu yang sedang dijalani. Tidak ada bulan yang secara otomatis membawa keberuntungan, sebagaimana tidak ada bulan yang secara otomatis mendatangkan malapetaka.

Prinsip tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah saw., "Tidak ada penularan (yang berdiri sendiri tanpa izin Allah), tidak ada kesialan karena burung, tidak ada hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."
(HR Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini merupakan penolakan terhadap keyakinan tathayyur, yaitu menganggap suatu waktu, tempat, benda, atau peristiwa tertentu sebagai sumber kesialan. Jika bulan Safar yang pada masa jahiliah dianggap membawa sial saja dibantah oleh Rasulullah, maka keyakinan bahwa Muharam atau Suro membawa kesialan tentu tidak memiliki dasar dalam syariat.

Karena itu, seorang Muslim tidak perlu merasa takut untuk melaksanakan pernikahan, pindah rumah, membuka usaha, atau menyelenggarakan kegiatan penting lainnya pada bulan Muharam. Selama kegiatan tersebut dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai syariat, tidak ada alasan untuk menundanya hanya karena khawatir terhadap mitos yang berkembang di masyarakat.

Muharam justru merupakan bulan yang sangat baik untuk memperbanyak amal ibadah. Rasulullah saw. bahkan memberikan keutamaan khusus terhadap ibadah puasa pada bulan ini.

Beliau bersabda, "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam." (HR Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Muharam bukan bulan yang harus ditakuti, melainkan bulan yang seharusnya dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa sunah, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan melakukan berbagai amal kebajikan lainnya.

Di sisi lain, Muharam juga menjadi momentum untuk melakukan evaluasi diri. Semangat hijrah yang terkandung dalam bulan ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah. Dari kemalasan menuju kesungguhan, dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari kelalaian menuju ketaatan, serta dari kehidupan yang kurang bermanfaat menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Karena itu, tidak tepat apabila Muharam dipandang sebagai bulan yang menyeramkan atau penuh pantangan. Sebaliknya, bulan ini merupakan bulan kemuliaan yang mengandung pesan optimisme, perubahan, dan perbaikan diri.

Pada akhirnya, Islam mengajarkan bahwa yang menentukan baik dan buruknya kehidupan bukanlah waktu, melainkan bagaimana seseorang mengisi waktunya. Muharam tidak membawa kesialan. Muharam adalah bulan yang dimuliakan Allah, bulan yang mengingatkan umat Islam pada semangat hijrah, dan bulan yang seharusnya menjadi titik awal untuk memperbanyak amal saleh serta memperbaiki kualitas kehidupan.

Sebagaimana pesan yang terkandung dalam ajaran Islam, baik dan buruknya kehidupan seseorang tidak ditentukan oleh pergantian bulan atau datangnya suatu waktu tertentu. Yang menentukan adalah iman, amal, ikhtiar, serta ketakwaan kepada Allah Swt. Karena itu, memasuki bulan Muharam seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbanyak kebaikan, bukan justru dipenuhi rasa takut terhadap berbagai mitos yang tidak memiliki landasan dalam Al-Qur'an maupun sunah.

Dengan berpegang pada tuntunan agama, umat Islam dapat memandang Muharam sebagai bulan harapan dan pembaruan. Bulan yang mengajarkan bahwa perjalanan hidup akan menjadi baik bukan karena waktunya, melainkan karena bagaimana manusia mengisi waktu tersebut dengan amal saleh dan ketaatan kepada Allah Swt.