Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Timur, Tim Pengembang Wilker, serta perwakilan PDA Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan berfoto bersama usai pertemuan sebagai wujud komitmen memperkuat sinergi dan gerakan pengelolaan sampah berbasis komunitas (Istimewa/kedungademmu.id)
Kedungademmu.id Pimpinan Daerah (PD) 'Aisyiyah Bojonegoro menjadi tuan rumah Pertemuan Pimpinan Daerah 'Aisyiyah se-Wilayah Kerja (Wilker) Bojonegoro yang digelar di Gedung Muhammadiyah Lantai 2 Bojonegoro, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan yang mengusung tema "Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas" ini dihadiri oleh perwakilan Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Timur, Koordinator Wilker, Tim Pengembang Wilker, Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan, anggota Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PDA Bojonegoro, serta Tim MAPAK (Emak-Emak Berdampak) dari Cabang Sukosewu, Bojonegoro.

Acara dimulai pukul 08.00 WIB dan dipandu oleh Ghifniyuah, Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Fania, guru TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal 3 Bojonegoro, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars 'Aisyiyah yang dipandu oleh Ketua LBSO PDA Bojonegoro, Lutfi Laily.

Ketua PDA Bojonegoro, Zuliyatin Lailiyah,  dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh peserta dan tamu undangan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam penyambutan dan pelayanan masih terdapat kekurangan.

Zuliyatin menjelaskan bahwa PDA Bojonegoro telah menjalankan program pengelolaan sampah selama dua tahun terakhir melalui program MAPAK (Emak-Emak Berdampak). Program tersebut bahkan berhasil meraih penghargaan Juara I dalam ajang Bojonegoro Innovative Awards yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Di akhir sambutannya, Zuliyatin mengajak seluruh peserta untuk terus meningkatkan kinerja organisasi agar program-program yang telah direncanakan dapat berjalan secara optimal.

"Momen pertemuan Wilker ini mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagai ajang silaturahmi, konsolidasi organisasi, menyamakan persepsi, serta memperkuat soliditas antar-pimpinan, khususnya PDA di Wilker Bojonegoro," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Tim Pengembang Wilker Bojonegoro, Kustiani Tutik Subandiyah Muslih, menyampaikan refleksi tentang kondisi global yang saat ini menghadapi berbagai krisis. Menurutnya, dalam situasi apa pun umat Islam tidak boleh meninggalkan kedekatan dengan Allah Swt.

Perempuan yang akrab disapa Bu Muslih tersebut mengajak peserta untuk menerapkan prinsip 3S, yakni sareh, sumeh, dan sumeleh.

Sareh berarti sabar, tenang, dan tidak tergesa-gesa. Sumeh berarti ramah, murah senyum, dan menyenangkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Sementara sumeleh dimaknai sebagai sikap berserah diri kepada kehendak Allah dengan penuh kesadaran tanpa kehilangan semangat hidup dan tanggung jawab.

"Ketiga nilai tersebut mengajarkan kita untuk tetap sabar, tenang, ramah, serta percaya kepada rencana Allah dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Timur, Nelly Asnifati, menegaskan bahwa pertemuan Wilker harus berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dan penuh semangat kebersamaan.

Menurutnya, forum tersebut menjadi sarana penting untuk mempererat silaturahmi, memperkuat kedekatan antarpimpinan, serta memperoleh berbagai informasi dan pengalaman baru dari daerah lain.

"Melalui pertemuan seperti ini, kita dapat saling belajar dan meminimalkan ketidaktahuan terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di lingkungan organisasi maupun masyarakat," ujarnya.

Dalam sesi materi, Bendahara Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Timur, Nur Haidah, menyampaikan kebijakan keuangan organisasi yang meliputi sistem sentralisasi manajemen keuangan 'Aisyiyah serta fungsi-fungsi manajemen keuangan yang harus dijalankan secara profesional dan akuntabel.

Koordinator LLHPB Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Timur, Sumiati, turut menyampaikan materi mengenai pengelolaan sampah berbasis komunitas. Ia menjelaskan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik, tantangan, dan tingkat kesulitan yang berbeda dalam mengelola sampah.

Karena itu, ia mendorong seluruh kader 'Aisyiyah untuk menjadi changemaker atau agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi melalui aksi nyata di tengah masyarakat.

"Ibu-ibu harus menjadi penggerak perubahan yang mampu menghadirkan solusi dari berbagai persoalan lingkungan melalui ide, kepedulian, dan aksi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar," tegasnya.

Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan dialog dan tanya jawab yang berlangsung hangat dan penuh keakraban.

Usai istirahat, salat, dan makan (ishoma), acara dilanjutkan dengan pemaparan praktik baik pengelolaan sampah dari masing-masing daerah. PDA Bojonegoro mempresentasikan program MAPAK (Emak-Emak Berdampak), PDA Tuban memaparkan program BUSA PELITA (Bersama Urusi Sampah dan Peduli Tanaman), sedangkan PDA Lamongan memperkenalkan program GERASS (Gerakan 'Aisyiyah Sedekah Sampah).

Kegiatan ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang dipandu oleh LLHPB Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Jawa Timur sebagai langkah penguatan program pengelolaan sampah berbasis komunitas di wilayah Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan.

Melalui pertemuan ini, diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat antar-Pimpinan Daerah 'Aisyiyah dalam mengembangkan gerakan lingkungan hidup yang berkelanjutan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.