Foto bersama peserta studi tiru dari TPS 3R Srawung Makmur Desa Trucuk dan Komunitas Arisan Sampah MAPAK (Emak-Emak Berdampak) (Istimewa/kedungademmu.id)
Kedungademmu.id Komitmen membangun pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus diperkuat. Pengurus TPS 3R Srawung Makmur Desa Trucuk bersama Komunitas Arisan Sampah MAPAK (Emak-Emak Berdampak) Kecamatan Sukosewu melaksanakan studi tiru ke TPST 3R Mulyoagung Bersatu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Sabtu (4/7/2026).

Kegiatan bertajuk "Pengelolaan Sampah Berkelanjutan, Gerakan Bersama Pengelolaan Sampah dan Perilaku Hidup Bersih" ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola sampah sekaligus memperkuat budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro.

Selama kunjungan, peserta mempelajari sistem pengelolaan sampah terpadu, mulai dari pengumpulan, pemilahan, pengolahan, hingga penguatan kelembagaan pengelola TPS 3R. Mereka juga berdialog langsung dengan pengelola TPST 3R Mulyoagung Bersatu mengenai strategi membangun partisipasi masyarakat agar pengelolaan sampah berjalan secara berkelanjutan.

Kepala Desa Trucuk, Sunoko, mengatakan studi tiru tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah desa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam pengelolaan sampah.

"Kami datang untuk belajar dari praktik yang telah berhasil diterapkan di TPST 3R Mulyoagung Bersatu. Harapannya, pengalaman ini dapat kami adaptasi sesuai dengan kondisi Desa Trucuk sehingga pengelolaan sampah semakin baik," ujarnya.

Ia berharap seluruh peserta mampu menerapkan ilmu yang diperoleh serta membagikannya kepada masyarakat agar tercipta budaya pengelolaan sampah yang lebih tertib dan berkelanjutan.

Perwakilan ExxonMobil, Al Maliki Ukay Sukaya Subqy, menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Ia mengajak peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerap praktik-praktik terbaik, kemudian mengimplementasikannya secara konsisten di daerah masing-masing.

"Semoga studi tiru ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat pengelolaan sampah berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPST 3R Mulyoagung Bersatu, Nugraha Wijayanto, menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari kesadaran masyarakat.

"Teknologi hanyalah alat. Kunci keberhasilan pengelolaan sampah adalah komitmen masyarakat, kelembagaan yang kuat, dan kemauan untuk berubah," ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Nugraha menjelaskan sistem operasional TPST 3R Mulyoagung Bersatu, mulai dari mekanisme pengumpulan sampah, pemilahan, pemanfaatan sampah organik melalui budidaya magot, produksi kompos, hingga pengolahan minyak jelantah menjadi sabun.

Peserta juga diajak meninjau langsung proses pengelolaan sampah di TPST 3R Mulyoagung Bersatu yang setiap hari mengolah sekitar 40 ton sampah. Fasilitas tersebut mempekerjakan lebih dari 50 tenaga kerja dengan pendapatan hampir Rp200 juta per bulan yang berasal dari retribusi layanan, penjualan sampah daur ulang, serta hasil pengolahan sampah organik. Dari seluruh sampah yang dikelola, hanya sekitar 14 persen yang menjadi residu dan dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Perwakilan Alas Institute, Achmad Danial Abidin, mengapresiasi antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, kolaborasi antarlembaga dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para peserta aktif menggali berbagai strategi mengenai pengelolaan operasional TPS 3R, pembiayaan, peningkatan partisipasi masyarakat, hingga penguatan kelembagaan.

Melalui studi tiru ini, diharapkan TPS 3R Srawung Makmur Desa Trucuk dan Komunitas MAPAK Bojonegoro semakin siap mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang inovatif, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.