Suasana pertemuan komunitas lingkungan se-Jawa Timur di Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro (Istimewa/kedungademmu.id)
Kedungademmu.id—Puluhan pegiat lingkungan, komunitas pemberdayaan masyarakat, dan lembaga sosial dari berbagai daerah di Jawa Timur berkumpul di Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Pada Selasa (7/7/2026). 

Pertemuan bertajuk “Dari Desa, Kita Tumbuh Berdaya dan Mandiri” ini menjadi ajang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kolaborasi dalam mendorong pelestarian lingkungan dan pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat.

Kegiatan yang didukung oleh Kitabisa dan Manava Foundation ini diikuti berbagai komunitas, di antaranya Mapak Indonesia, Jaga Bumi Nusantara, Echobinneka, Petani Pelopor, Gentani, Lazismu dari sejumlah daerah di Jawa Timur, JATAM, serta komunitas lingkungan lainnya.

Direktur Program Manava Foundation, Nur Afif Aulia, menyampaikan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak cukup dilakukan secara sesaat, melainkan membutuhkan pendekatan berkelanjutan.

“Program pemberdayaan harus berbasis inovasi, kolektif, produktif, dan berkelanjutan agar masyarakat mampu berkembang secara mandiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, isu lingkungan hidup dan energi terbarukan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi desa dalam memperkuat ketahanan ekonomi serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Desa dinilai memiliki potensi besar sebagai pusat lahirnya inovasi, mulai dari pengelolaan sampah hingga pemanfaatan energi bersih.

Perwakilan Pemerintah Desa Klepek, Yuni Cahyono, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap forum kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, Desa Klepek telah menjalankan sejumlah program pemberdayaan, termasuk pengembangan Gentani di sektor pertanian serta inisiatif energi terbarukan. Program tersebut dinilai mulai memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan warga.

“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendampingi desa. Program ini menjadi semangat bagi kami untuk terus berkembang,” katanya.

Dalam sesi diskusi, Wakil Direktur 1000 Cahaya Muhammadiyah sekaligus perwakilan Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sudarto, menekankan pentingnya membangun budaya hemat energi sebagai langkah awal menjaga lingkungan.

“Efisiensi energi harus didahulukan sebelum konservasi. Perubahan kebiasaan dalam menggunakan energi menjadi kunci utama,” ujarnya.

Ia juga mendorong penerapan konsep green building dan smart building guna menciptakan bangunan yang hemat energi dan ramah lingkungan.

Sementara itu, perwakilan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro, Budi Santoso, mengapresiasi semangat kolaborasi yang terbangun dalam forum tersebut. Ia berharap sinergi antarkomunitas dapat diwujudkan dalam aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Yang terpenting adalah bergerak dan menghadirkan dampak. Apa yang kita lakukan harus memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” tuturnya.

Pertemuan ini juga menjadi ajang berbagi praktik baik antarkomunitas dalam pengelolaan lingkungan, penguatan ekonomi desa, serta pengembangan energi terbarukan. Melalui jejaring yang semakin kuat, para peserta berharap lahir lebih banyak kolaborasi lintas daerah untuk mewujudkan desa yang mandiri, tangguh, dan berkelanjutan di Jawa Timur.