(www.unplash.com)
Oleh: Suwadi Pranoto, S.Pd Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro

Kedungademmu.idPemandangan masjid yang megah dengan fasilitas lengkap kini menjadi hal yang lumrah di berbagai daerah. Bangunan yang bersih, pendingin ruangan yang sejuk, serta lantunan imam yang merdu seharusnya menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah. Namun, di balik kemegahan tersebut, terselip persoalan yang kian nyata: minimnya kehadiran generasi muda di saf-saf salat.

Sebagian besar jamaah yang hadir didominasi oleh kalangan orang tua. Sementara itu, remaja dan pemuda yang dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masjid kini semakin jarang terlihat. Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu tempat, melainkan menjadi gambaran umum di berbagai wilayah.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar, ke mana jamaah anak muda? Apakah masjid telah kehilangan daya tariknya, ataukah ada hal lain yang menyebabkan generasi muda menjauh?

Masjid dan Generasi Penerus

Fenomena ini tidak dapat disederhanakan dengan menyalahkan generasi muda semata. Justru, hal ini menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh elemen masyarakat. Jika hari ini masjid kehilangan generasi mudanya, maka di masa mendatang masjid berpotensi kehilangan penerusnya.

Dalam ajaran Islam, pemuda memiliki peran strategis. Salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah. Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan pemuda dengan masjid bukan sekadar aktivitas ibadah, melainkan bagian dari investasi peradaban.

Sejarah Islam pun mencatat bahwa perubahan besar sering kali dipelopori oleh generasi muda. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan masjid dan majelis ilmu, sehingga memiliki karakter kuat serta visi yang jelas.

Tantangan Era Digital

Perubahan zaman menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ini. Kehadiran teknologi digital, media sosial, serta berbagai bentuk hiburan modern telah menyita perhatian generasi muda. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk kegiatan produktif sering kali terserap dalam aktivitas virtual.

Namun demikian, teknologi tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Persoalan utama terletak pada kurangnya inovasi dalam memakmurkan masjid agar mampu menjawab kebutuhan dan minat generasi muda.

Peran Strategis Masjid

Masjid sejatinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran, pembinaan karakter, serta pemberdayaan umat. Generasi muda membutuhkan ruang untuk berkembang, berdiskusi, berorganisasi, hingga menyalurkan kreativitas.

Sayangnya, tidak sedikit pengurus masjid yang lebih berfokus pada pembangunan fisik daripada pembangunan sumber daya manusia. Kemegahan bangunan sering kali tidak diiringi dengan program pembinaan yang berkelanjutan bagi generasi muda.

Padahal, masjid yang makmur bukan hanya terlihat dari bangunannya, melainkan dari hidupnya kegiatan keilmuan, dakwah, serta keterlibatan aktif jamaah, khususnya pemuda.

Pentingnya Pembinaan Berkelanjutan

Banyak anak yang aktif mengikuti pendidikan keagamaan sejak usia dini, seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an dan madrasah diniyah. Namun, setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, mereka kerap kehilangan wadah untuk melanjutkan pembinaan.

Ketiadaan komunitas remaja masjid, majelis taklim khusus pemuda, serta pendampingan yang berkelanjutan menyebabkan hubungan mereka dengan masjid perlahan memudar. Kondisi ini menjadi tantangan serius yang perlu segera diatasi.

Sinergi dan Solusi Nyata

Menghidupkan kembali peran masjid memerlukan sinergi berbagai pihak, mulai dari pengurus masjid, keluarga, lembaga pendidikan, hingga pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Program yang relevan dengan kebutuhan generasi muda perlu dihadirkan, seperti kajian kreatif, pelatihan keterampilan, kegiatan sosial, hingga pengembangan ekonomi umat.

Selain itu, dakwah juga harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan media sosial sebagai sarana penyebaran nilai-nilai keislaman dapat menjadi langkah strategis untuk menjangkau generasi muda.

Peran keluarga juga tidak kalah penting. Kebiasaan mengajak anak ke masjid sejak dini serta memberikan teladan yang baik menjadi fondasi utama dalam menumbuhkan kecintaan terhadap rumah ibadah.

Membangun Kembali Ikatan dengan Masjid

Masjid harus menjadi tempat yang dirindukan oleh generasi muda, bukan sekadar tempat yang dikunjungi pada waktu-waktu tertentu. Kehadiran program yang menarik, lingkungan yang ramah, serta pembinaan yang berkelanjutan akan mendorong tumbuhnya keterikatan emosional antara pemuda dan masjid.

Pada akhirnya, kemegahan masjid tidak diukur dari tinggi menara atau indahnya kubah, melainkan dari hidupnya jamaah, semaraknya aktivitas keilmuan, serta banyaknya generasi muda yang memenuhi saf-saf salat.

Jika hari ini kita mampu menghadirkan kembali generasi muda di masjid, maka sesungguhnya kita sedang menyiapkan masa depan umat yang lebih baik. Sebaliknya, jika hal ini diabaikan, bukan tidak mungkin masjid hanya akan menjadi bangunan megah tanpa kehidupan di dalamnya.