Diskusi bertajuk “Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bojonegoro: Apa yang Bisa Kita Lakukan?” ini diselenggarakan oleh Alas Institute di Deulleuda Coffee, Selasa (28/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai perwakilan BEM perguruan tinggi, organisasi kemahasiswaan, serta komunitas yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan.
Turut hadir dalam forum ini perwakilan BEM STIT Muhammadiyah Bojonegoro, BEM STIKES Maboro, BEM IKIP PGRI Bojonegoro, BEM STIE Cendekia Bojonegoro, BEM IAI Al Fatimah, dan BEM IAI At-Tanwir Sumberrejo. Selain itu, organisasi seperti GMNI, HMI, PMII, IMM, serta perwakilan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan KPI juga ambil bagian dalam diskusi.
Diskusi dipandu oleh Rondi yang mengajak peserta untuk memetakan persoalan sekaligus merumuskan langkah konkret dalam pengelolaan sampah. Dalam forum tersebut, peserta sepakat bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah, tetapi memerlukan perubahan perilaku masyarakat serta kolaborasi lintas sektor.
Dari hasil diskusi, peserta menghasilkan sembilan rekomendasi strategis. Di antaranya, komitmen BEM dan ORMEK untuk menjadi teladan dalam pengelolaan sampah di lingkungan organisasi dan kampus, penerapan konsep zero waste event dalam setiap kegiatan, serta penguatan gerakan pilah sampah berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Selain itu, peserta juga mendorong optimalisasi media sosial sebagai sarana edukasi lingkungan, penyelenggaraan lomba konten kreatif bertema sampah, serta integrasi program pengelolaan sampah dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Forum ini juga merekomendasikan penguatan kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, dan media. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat kebijakan dan implementasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, peserta sepakat membentuk Grup Komunikasi BEM dan ORMEK Peduli Lingkungan se-Kabupaten Bojonegoro sebagai wadah koordinasi gerakan bersama. Selain itu, pemerintah daerah didorong untuk meningkatkan komitmen melalui penyediaan anggaran, sarana dan prasarana berbasis 3R, serta penguatan infrastruktur seperti penambahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) atau pengaktifan kembali TPA Bandungrejo di Kecamatan Ngasem.
Para peserta menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar ruang diskusi, melainkan langkah awal untuk aksi nyata. Semangat kolaborasi yang terbangun diharapkan mampu menjadi energi baru dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat serta mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro.

