Remaja Masjid Nurul Yaqin Kedungadem melakukan penentuan arah kiblat dengan metode rashdul kiblat di Lapangan Ngaglik (Istimewa/kedungademmu.id)
Kedungademmu.idRemaja Masjid (Remas) Nurul Yaqin Kedungadem berpartisipasi dalam gerakan Rashdul Kiblat atau “Indonesia Berkiblat” melalui kegiatan penentuan arah kiblat yang dilaksanakan pada (16/7/2026) di Lapangan Ngaglik, Kedungadem, Bojonegoro.

Kegiatan ini bertujuan memastikan arah kiblat yang akurat, khususnya untuk lokasi pelaksanaan salat Idulfitri dan Iduladha yang selama ini dipusatkan di lapangan tersebut.

Penentuan arah kiblat dilakukan menggunakan metode rashdul kiblat, yakni dengan memanfaatkan fenomena astronomi ketika matahari berada tepat di atas Ka’bah. Pada momen tersebut, bayangan benda tegak di berbagai wilayah di Indonesia akan mengarah lurus ke Ka’bah, sehingga dapat dijadikan acuan penentuan arah kiblat secara presisi tanpa bantuan alat canggih.

Tim melakukan pengamatan bayangan matahari pada pukul 16.27 WIB sebagai waktu utama terjadinya fenomena tersebut. Dari hasil pengamatan, ditentukan garis arah kiblat berdasarkan bayangan yang terbentuk.

Selanjutnya, dilakukan penguatan hasil melalui pemasangan patok permanen di sisi utara dan selatan lapangan. Kedua patok tersebut telah diposisikan secara presisi dengan sudut 90 derajat sebagai acuan tetap arah saf salat berjamaah.

Ketua Remas Nurul Yaqin, Arif Subeki, menjelaskan bahwa hasil penentuan ini akan sangat membantu pelaksanaan salat berjamaah di lapangan.

Dengan adanya patok permanen ini, kami tinggal mengulur tali sebagai penanda saf pertama. Untuk saf berikutnya, tinggal mengikuti garis lurus ke belakang agar tetap presisi menghadap kiblat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan fenomena matahari di atas Ka’bah menjadi cara yang sederhana namun sangat akurat dalam memastikan arah kiblat.

Kegiatan ini juga didampingi oleh Penyuluh Agama Islam Fungsional, Ahmad Dzikrullah Akbar, yang memberikan arahan teknis selama proses berlangsung.

Melalui kegiatan ini, Remas Nurul Yaqin tidak hanya meningkatkan kualitas pelaksanaan ibadah, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya ketepatan arah kiblat dengan memanfaatkan fenomena alam yang telah tersedia.

Diharapkan, langkah ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas dalam menentukan arah kiblat secara tepat, khususnya di lokasi salat berjamaah di ruang terbuka.