Bagaimana Muhammadiyah Merayakan Maulid Nabi (www.unsplash.com)

Kedungademmu.id—Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. setiap tahun menjadi salah satu momentum yang banyak dimanfaatkan umat Islam untuk mengenang kelahiran Rasulullah sekaligus menghidupkan kembali keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah beragam tradisi yang berkembang di masyarakat, Muhammadiyah menempatkan Maulid Nabi sebagai kesempatan untuk memperkuat dakwah, memperdalam pemahaman tentang kehidupan Rasulullah, serta mengamalkan akhlaknya dalam kehidupan nyata.
Peringatan Maulid Nabi di berbagai negara pun memiliki tradisi yang berbeda-beda. Ada masyarakat yang mengisinya dengan pembacaan selawat dan rebana, ada yang membagikan makanan, dan ada pula yang mengadakan ceramah atau kajian keagamaan.

Keragaman tersebut menunjukkan bahwa ekspresi masyarakat dalam menyambut Maulid Nabi tidak selalu berbentuk seremoni yang sama. Bagi Muhammadiyah, hal yang lebih penting adalah bagaimana momentum tersebut memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas keislaman dan akhlak umat.

Karena itu, Maulid Nabi tidak harus selalu diwujudkan melalui acara khusus dengan bentuk tertentu. Peringatan tersebut dapat diisi dengan kegiatan dakwah dan tabligh yang mengajak umat memahami kehidupan Rasulullah, kemudian menjadikan perilaku beliau sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadikan Akhlak Nabi sebagai Teladan
Hal utama yang perlu mendapatkan perhatian dalam momentum Maulid Nabi adalah keteladanan Rasulullah Muhammad saw. Mengenang kelahiran beliau tentu penting, tetapi jauh lebih bermakna apabila kecintaan kepada Nabi diwujudkan melalui usaha meniru akhlak dan perilakunya.

Rasulullah merupakan sosok yang dikenal memiliki akhlak mulia. Dalam sebuah riwayat, ketika Aisyah r.a. ditanya mengenai akhlak Rasulullah, ia menggambarkannya sebagai Al-Qur'an. Gambaran tersebut menunjukkan betapa perilaku Nabi merupakan pengejawantahan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan.

Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang penyantun, pemaaf, lemah lembut, mudah bergaul, serta tidak suka mempersulit urusan orang lain. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Kecintaan kepada Nabi karena itu tidak cukup berhenti pada ungkapan verbal, pembacaan selawat, ataupun kegiatan seremonial. Kecintaan tersebut perlu terlihat dalam cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, sesama warga, bahkan orang yang berbeda pandangan dengannya.

Semakin kuat seseorang mengaku mencintai Rasulullah, semestinya semakin baik pula akhlaknya. Ia tidak mudah menyakiti orang lain, tidak gemar menyebarkan kebencian, tidak mempersulit urusan masyarakat, dan memiliki kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Muhammadiyah bahwa peringatan Maulid dapat diarahkan untuk memperkuat uswah hasanah atau keteladanan Rasulullah. Dalam konteks kehidupan sosial, teladan itu antara lain berupa sikap dermawan, menjaga ucapan, bekerja keras, membangun perdamaian, serta membantu memudahkan urusan orang lain.

Maulid sebagai Momentum Dakwah
Muhammadiyah tidak menetapkan satu bentuk khusus yang harus digunakan dalam memperingati Maulid Nabi. Dalam perspektif tarjih, peringatan Maulid termasuk persoalan ijtihadiyah. Tidak terdapat dalil yang secara khusus mewajibkan penyelenggaraannya, tetapi juga tidak terdapat dalil yang secara khusus melarangnya.

Karena itu, apabila masyarakat hendak menyelenggarakannya, kegiatan tersebut perlu diarahkan pada kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.

Atas dasar itu, kegiatan seperti pengajian, kajian sirah Nabi, ceramah keagamaan, pembacaan shalawat, maupun kegiatan sosial dapat menjadi bagian dari upaya mengisi momentum Maulid. Yang terpenting, kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi umat dan mendorong tumbuhnya kecintaan kepada Rasulullah melalui pemahaman dan pengamalan ajarannya.

Maulid juga dapat menjadi sarana dakwah yang mempertemukan masyarakat dalam suasana yang positif. Masjid, sekolah, kampus, organisasi masyarakat, maupun lingkungan keluarga dapat menjadikan momentum tersebut sebagai ruang untuk memperkenalkan sejarah perjuangan Nabi kepada generasi muda.

Generasi muda perlu mengetahui bahwa perjalanan Rasulullah tidak hanya berkaitan dengan peristiwa kelahiran beliau. Kehidupan Nabi merupakan rangkaian panjang perjuangan membangun masyarakat yang berkeadaban, menegakkan keadilan, memperkuat persaudaraan, serta membebaskan manusia dari berbagai bentuk kezaliman.

Menghindari Sikap Berlebihan
Di sisi lain, Muhammadiyah mengingatkan agar penghormatan kepada Nabi Muhammad saw. tidak dilakukan secara berlebihan hingga mengarah pada pengultusan. Rasulullah memang memiliki kedudukan yang sangat mulia sebagai utusan Allah, tetapi beliau tetap merupakan hamba Allah.

Karena itu, peringatan Maulid harus tetap berada dalam koridor tauhid. Umat Islam dapat memperbanyak shalawat sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah, tetapi tidak boleh menempatkan sifat-sifat ketuhanan kepada beliau. Keyakinan mengenai pemberi rezeki, pemberi keselamatan, ataupun pemberi mudarat merupakan hak Allah Swt.

Peringatan Maulid juga perlu dijauhkan dari praktik yang bertentangan dengan akidah dan syariat. Muhammadiyah mengingatkan agar momentum tersebut tidak diisi dengan praktik yang mengandung unsur syirik, penggunaan jimat, praktik sihir, ataupun pengkultusan tempat dan benda tertentu.

Dengan demikian, semarak Maulid tetap dapat berlangsung dalam suasana penuh kegembiraan, tetapi kegembiraan tersebut diarahkan kepada hal-hal yang memiliki nilai ibadah dan kemanfaatan sosial.

Dari Peringatan Menuju Gerakan Sosial
Salah satu bentuk konkret yang dapat dilakukan untuk mengisi Maulid Nabi adalah memperkuat kepedulian sosial. Muhammadiyah mendorong agar momentum tersebut tidak hanya berhenti pada kegiatan ceramah dan pengajian, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata yang membantu masyarakat.

Santunan bagi anak yatim dan warga kurang mampu, layanan kesehatan gratis, pembagian makanan, bantuan kepada masyarakat yang sedang mengalami kesulitan, serta berbagai bentuk pelayanan sosial dapat menjadi pilihan kegiatan. Semangat tersebut mencerminkan akhlak Rasulullah yang senantiasa memperhatikan kepentingan orang lain.

Dalam kondisi masyarakat yang menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi, semangat berbagi menjadi semakin relevan. Maulid dapat menjadi momentum untuk menggerakkan warga agar lebih peka terhadap keadaan lingkungan sekitar.

Di sinilah makna Maulid dapat dirasakan secara lebih luas. Kecintaan kepada Nabi tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi diterjemahkan menjadi kepedulian, pelayanan, dan tindakan yang memberikan manfaat bagi sesama.

Cara Muhammadiyah memaknai Maulid Nabi bertumpu pada substansi, bukan semata-mata bentuk. Peringatan dapat dilakukan melalui pengajian, tablig, kajian sirah, selawat, maupun kegiatan sosial sepanjang tidak bertentangan dengan akidah dan syariat.

Momentum Rabiulawal dengan demikian dapat menjadi ruang untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana akhlak Rasulullah hadir dalam kehidupan kita?

Sebab, mengenang Nabi Muhammad saw. akan memiliki makna yang lebih dalam apabila kecintaan kepda beliau melahirkan perubahan perilaku. Dari pribadi yang mudah marah menjadi lebih penyabar, dari acuh menjadi peduli, dari gemar menyalahkan menjadi gemar memperbaiki, serta dari sekadar berbicara tentang kebaikan menjadi orang yang benar-benar menghadirkan kebaikan.

Dengan semangat tersebut, Maulid Nabi tidak berhenti sebagai peringatan tahunan. Ia dapat menjadi momentum untuk memperbarui komitmen umat Islam dalam meneladani Rasulullah, memperkuat persaudaraan, membangun kedamaian, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.