Pos Komunitas MAPAK berada di rumah Insiyah, Ketua RT 07 sekaligus Koordinator MAPAK Desa Semenkidul. Berbagai hasil kreativitas warga dari barang bekas terlihat menghiasi lokasi tersebut.
Salah satunya adalah pemanfaatan galon bekas menjadi pot tanaman dengan berbagai bentuk, seperti angsa, sapi, beruang, kelinci, bunga, dan bentuk kreatif lainnya.
Cantika mengapresiasi gerakan yang tumbuh dari masyarakat tersebut. Menurutnya, MAPAK dapat menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga.
“Semoga makin banyak masyarakat yang meniru karena ini contoh yang bagus. Pengelolaan sampahnya sudah terstruktur. Ini juga merupakan bagian dari program Pokja II TP PKK Kabupaten,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan kesadaran dari setiap individu. Kebiasaan sederhana seperti membuang dan memilah sampah dengan benar dapat menjadi langkah awal menciptakan lingkungan yang bersih.
“Perlu kesadaran kita untuk memasukkan sampah ke tempat sampah,” tegasnya.
Anggota MAPAK Terus Bertambah
Insiyah menjelaskan, MAPAK Desa Semenkidul mulai bergerak sejak Mei 2025. Awalnya, komunitas tersebut hanya memiliki 16 anggota, tetapi kini berkembang menjadi sekitar 35 orang.
Setiap tanggal 13, anggota membawa sampah yang telah dikumpulkan dari rumah masing-masing. Sampah kemudian dipilah berdasarkan jenis dan potensi pemanfaatannya.
Sebagian sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dijual, sedangkan material tertentu dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk kreatif.
Menariknya, sebagian hasil penjualan sampah juga disisihkan untuk kegiatan sosial melalui sedekah.“Dulu sampah dipilah oleh para anggota yang ikut arisan sampah. Alhamdulillah, kita bisa bersedekah dari hasil penjualan sampah plastik,” ungkapnya.
Dukungan Pemerintah dan Masyarakat
Menurut Insiyah, perkembangan MAPAK tidak terlepas dari dukungan pemerintah desa, kecamatan, serta masyarakat. Kolaborasi tersebut juga terlihat dalam berbagai kegiatan kebersihan lingkungan.
“Alhamdulillah, Pak Kades juga mendukung. Pak Camat juga peduli terhadap sampah yang berserakan di Semenkidul. Bu Camat ikut membantu memunguti sampah seusai CFD,” tuturnya.
Dukungan tersebut menjadi modal penting bagi keberlanjutan gerakan pengelolaan sampah yang dilakukan masyarakat.
Bagian dari Gerbang Sapu Bersih
Gerakan MAPAK merupakan bagian dari program Gerakan Bersama Pengelolaan Sampah dan Perilaku Hidup Bersih (Gerbang Sapu Bersih) yang dikembangkan di sejumlah desa di Kabupaten Bojonegoro.
Program tersebut mendapat dukungan dari ExxonMobil Indonesia dengan Alas Institute sebagai mitra pendamping.
Perwakilan ExxonMobil Indonesia, Almaliki Ukay Sukaya Subqy, mengatakan dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Menurutnya, program tidak hanya berfokus pada kegiatan membersihkan lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku melalui komunikasi, partisipasi, dan gotong royong masyarakat.
“Yang ingin kami bangun bukan sekadar kegiatan pengelolaan sampah. Masyarakat perlu memiliki kesadaran dan kebiasaan baru, memperkuat gotong royong, serta menjadi pelaku utama dalam menjaga lingkungannya,” ujarnya.
Dari Sampah Menjadi Manfaat
Kunjungan Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro ke Pos Komunitas MAPAK menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu rumah tangga.
Melalui kebiasaan memilah sampah, warga tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai guna, memperoleh manfaat ekonomi, serta mengembangkan kegiatan sosial.
Gerakan MAPAK Semenkidul diharapkan terus berkembang dan menjadi contoh bahwa kepedulian lingkungan dapat tumbuh melalui gotong royong, kreativitas, dan partisipasi masyarakat.

