Kedungademmu.idMahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN MAs) 2026 Kelompok 46 Nawasena Sitirejo menghadirkan inovasi teknologi berupa sensor kelembapan tanah berbasis Internet of Things (IoT) di lahan pertanian BUMDes Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Inovasi tersebut dirancang sebagai alat bantu bagi pengelola BUMDes dalam memantau kondisi kelembapan tanah. Kehadiran teknologi sederhana ini diharapkan dapat mempermudah penentuan waktu penyiraman tanaman, terutama di tengah keterbatasan sumber daya manusia dalam pengelolaan lahan.

Sensor Beri Tanda Saat Tanah Kering

Sistem yang dipasang mahasiswa KKN MAs menggunakan sensor untuk mendeteksi tingkat kelembapan tanah. Data dari sensor kemudian diproses menggunakan ESP32 sebagai mikrokontroler.

Ketika kelembapan tanah berada di bawah batas yang telah ditentukan, sistem akan memberikan tanda melalui lampu LED. Indikator tersebut menjadi pemberitahuan bagi pengelola bahwa lahan membutuhkan penyiraman.

Sistem ini menerapkan konsep irigasi semiotomatis. Artinya, sensor berfungsi mendeteksi kondisi tanah, sedangkan proses pengaliran air tetap dilakukan oleh pengelola dengan membuka keran yang tersedia.

Air kemudian dialirkan melalui jalur irigasi menuju area tanaman. Dengan sistem tersebut, pengelola tidak harus memeriksa kondisi tanah secara manual di setiap bagian lahan.

Berawal dari Kebutuhan BUMDes

Gagasan penerapan teknologi ini muncul setelah mahasiswa melihat adanya keterbatasan sumber daya manusia dalam pengelolaan lahan pertanian dan peternakan BUMDes Sitirejo.

“Di BUMDes ini salah satu tantangannya ada di SDM. Kami cukup minim SDM untuk mengelola lahan perkebunan dan peternakan,” ujar pengelola BUMDes Sitirejo.

Kondisi tersebut kemudian menjadi bahan pertimbangan mahasiswa untuk menghadirkan teknologi yang sederhana, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan pengelola.

Salma, selaku penanggung jawab program, mengatakan sistem tersebut dibuat sebagai alat bantu yang praktis.

“Dari kondisi tersebut, kami mencoba membuat sistem yang sederhana, tetapi tetap bisa digunakan oleh pengelola. Ketika tanah terdeteksi kering, lampu akan menyala sebagai tanda bahwa lahan membutuhkan penyiraman,” jelas Salma.

Teknologi Tepat Guna untuk Desa

Penerapan sensor kelembapan tanah tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi tepat guna dalam kegiatan KKN MAs. Teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran pengelola, melainkan membantu proses pemantauan kondisi lahan.

Ke depan, sistem tersebut masih memiliki peluang untuk dikembangkan, antara lain dengan penambahan fitur pemantauan jarak jauh, pencatatan data kelembapan, hingga pengaturan aliran air yang lebih otomatis.

Melalui program ini, KKN MAs 2026 Kelompok 46 Nawasena Sitirejo berupaya menghadirkan solusi berbasis teknologi yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Inovasi tersebut diharapkan dapat membantu BUMDes Sitirejo mengelola lahan secara lebih efektif sekaligus membuka wawasan mengenai pemanfaatan teknologi digital di sektor pertanian.