Suprapto Majelis Dikdasmen Dan PNF PDM Bojonegoro (Istimewa/kedungademmu.id)
Oleh: Suprapto, Sekretaris Majelis Dikdasmen Dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro

Kedungademmu.idSetiap bulan Agustus, suasana perayaan kemerdekaan terasa di berbagai penjuru negeri. Bendera Merah Putih berkibar, umbul-umbul menghiasi lingkungan, dan berbagai kegiatan digelar untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada pertanyaan penting yang layak direnungkan: sudahkah makna kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh anak-anak di sekolah?

Kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945. Lebih dari itu, kemerdekaan merupakan cita-cita untuk membangun kehidupan yang bebas dari penindasan, ketakutan, diskriminasi, dan perlakuan yang merendahkan martabat manusia.

Karena itu, peringatan kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada upacara, perlombaan, pemasangan bendera, atau berbagai kegiatan seremonial. Nilai kemerdekaan perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan manusiawi.

Memaknai Kemerdekaan di Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan tempat anak-anak belajar, berkembang, berinteraksi, dan membangun karakter. Karena itu, sekolah semestinya menjadi lingkungan yang memberikan rasa aman kepada seluruh warga sekolah.

Anak perlu memiliki ruang untuk bertanya, menyampaikan pendapat, belajar dari kesalahan, dan mengembangkan potensinya. Perbedaan kemampuan, latar belakang keluarga, karakter, maupun minat seharusnya tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk merendahkan orang lain.

Di sinilah makna kemerdekaan dalam pendidikan menjadi penting. Anak tidak hanya perlu mengetahui sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga memahami bahwa menghormati sesama merupakan bagian dari kehidupan sebagai warga negara.

Ketika Rasa Takut Masuk ke Lingkungan Pendidikan

Salah satu tantangan yang masih perlu mendapat perhatian adalah perundungan. Perilaku mengejek, mengucilkan, mempermalukan, mengintimidasi, atau melakukan tindakan lain yang merugikan teman dapat mengganggu kenyamanan belajar.

Perundungan juga dapat terjadi di ruang digital. Interaksi antarsiswa tidak berhenti ketika kegiatan belajar di sekolah selesai. Karena itu, pendidikan tentang etika berkomunikasi dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab juga perlu menjadi bagian dari pembentukan karakter.

Sekolah perlu membangun sistem yang memungkinkan setiap persoalan ditangani secara tepat. Anak yang mengalami masalah perlu didengarkan dan mendapatkan pendampingan, sementara anak yang melakukan kesalahan perlu dibimbing agar memahami dampak perilakunya dan belajar bertanggung jawab.

Guru Juga Membutuhkan Ruang untuk Mendidik

Mewujudkan sekolah yang aman bukan berarti menghilangkan aturan atau membuat guru kehilangan kewenangan dalam mendidik. Guru tetap memiliki tanggung jawab untuk membimbing siswa, mengingatkan perilaku yang tidak tepat, dan menerapkan disiplin yang bersifat edukatif.

Namun, ketegasan dalam pendidikan perlu dibedakan dari tindakan yang merendahkan atau menyakiti. Teguran seharusnya bertujuan memperbaiki perilaku, bukan mempermalukan peserta didik.

Sebaliknya, peserta didik juga perlu memahami bahwa hak dan kebebasan selalu disertai tanggung jawab. Kebebasan menyampaikan pendapat, misalnya, tetap harus dilakukan dengan menghormati orang lain.

Dengan demikian, hubungan antara guru dan siswa tidak dibangun berdasarkan rasa takut, tetapi melalui penghormatan, keteladanan, komunikasi, dan aturan yang disepakati bersama.

Merdeka Bukan Berarti Tanpa Aturan

Sekolah yang merdeka bukan berarti sekolah tanpa aturan. Justru aturan diperlukan agar kebebasan setiap warga sekolah dapat berjalan secara tertib dan adil.

Aturan sekolah idealnya memiliki beberapa prinsip:

  • melindungi peserta didik dan tenaga pendidik;
  • diterapkan secara adil dan konsisten;
  • memiliki tujuan pendidikan yang jelas;
  • tidak mempermalukan atau merendahkan;
  • memberikan ruang untuk pembinaan dan perbaikan;
  • mendorong tanggung jawab seluruh warga sekolah.

Dengan prinsip tersebut, kedisiplinan tidak dipahami sebagai hukuman semata, tetapi sebagai bagian dari proses pendidikan karakter.

Membangun Budaya Sekolah yang Sehat

Mencegah perundungan tidak cukup dilakukan melalui slogan atau poster. Sekolah membutuhkan budaya yang dibangun secara konsisten.

Guru, siswa, tenaga kependidikan, dan orang tua perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.

Ketika terjadi persoalan, komunikasi perlu dikedepankan. Orang tua dan sekolah sebaiknya tidak terburu-buru saling menyalahkan. Persoalan perlu dilihat secara objektif agar solusi yang diambil benar-benar memberikan manfaat bagi perkembangan anak.

Sekolah juga perlu memiliki mekanisme yang jelas untuk menerima laporan, melakukan pendampingan, serta menangani persoalan yang terjadi di lingkungan pendidikan.

Kemerdekaan Belajar Harus Memberikan Rasa Aman

Gagasan tentang pembelajaran yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkembang perlu berjalan beriringan dengan terciptanya lingkungan yang aman.

Anak akan lebih mudah belajar ketika ia merasa dihargai. Guru juga dapat menjalankan tugas secara optimal ketika memiliki ruang profesional untuk mendidik sesuai aturan dan prinsip perlindungan anak.

Karena itu, semangat kemerdekaan dalam pendidikan dapat dimaknai sebagai upaya menciptakan ruang belajar yang memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk berkembang sekaligus memahami batas dan tanggung jawabnya.

Dari Perayaan 17 Agustus Menuju Kebiasaan Sehari-hari

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tetap penting untuk dirayakan. Upacara, perlombaan, kegiatan sosial, dan berbagai bentuk perayaan dapat menjadi sarana menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa.

Namun, semangat tersebut seharusnya tidak berhenti ketika bendera diturunkan dan perlombaan selesai.

Nilai kemerdekaan justru perlu hadir dalam kebiasaan sehari-hari: menghormati teman, mendengarkan pendapat orang lain, membantu mereka yang membutuhkan, menyelesaikan persoalan dengan dialog, serta berani mengatakan tidak terhadap tindakan yang merugikan orang lain.

Sekolah dapat menjadi tempat yang strategis untuk menanamkan kebiasaan tersebut.

Kemerdekaan yang Dirasakan Anak

Pada akhirnya, keberhasilan memaknai kemerdekaan tidak hanya dapat dilihat dari meriahnya perayaan. Ada ukuran lain yang jauh lebih penting, yaitu bagaimana masyarakat memperlakukan sesama.

Ketika seorang anak merasa aman datang ke sekolah, memiliki kesempatan untuk bertanya, berani menyampaikan pendapat dengan santun, dan mengetahui bahwa orang dewasa akan mendengarkan ketika ia menghadapi masalah, di situlah nilai kemerdekaan hadir dalam kehidupan pendidikan.

Begitu pula ketika guru dapat menjalankan tugas secara profesional, memberikan pembinaan dengan cara yang mendidik, dan bekerja sama dengan orang tua tanpa rasa saling curiga, sekolah sedang membangun budaya kemerdekaan yang sehat.

Kemerdekaan sebagai Tanggung Jawab Bersama

Kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan sejak 1945 merupakan warisan yang harus terus diisi. Tantangan zaman memang berubah, tetapi nilai menghormati martabat manusia tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa.

Karena itu, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dapat menjadi momentum untuk melihat kembali kondisi lingkungan pendidikan kita.

Bukan hanya bertanya seberapa meriah perayaannya, tetapi juga seberapa aman anak-anak belajar, seberapa dihargai guru menjalankan tugasnya, dan seberapa kuat kerja sama antara sekolah dan keluarga dalam mendidik generasi penerus.

Kemerdekaan yang hanya dikenang akan menjadi bagian dari sejarah. Sebaliknya, kemerdekaan yang diwujudkan melalui sikap saling menghormati, rasa aman, keadilan, dan kesempatan untuk berkembang akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja. Merdeka berarti memiliki ruang untuk tumbuh, belajar, dan menjalani kehidupan dengan tetap menghormati hak serta martabat orang lain.

Sekolah semestinya menjadi salah satu tempat pertama bagi anak-anak Indonesia untuk merasakan makna kemerdekaan tersebut.