lisensi

Kedungademmu.id
• WIB
Last Updated 2026-09-22T06:37:33Z
GerakanM.RondiMapak BojonegoroRedaksi

Komunitas MAPAK Sukosewu Bahas Ekoteologi Islam dan Pengelolaan Sampah

Advertisement
Pengurus dan anggota Komunitas MAPAK (Emak-Emak Berdampak) bersama narasumber berfoto bersama usai diskusi revitalisasi nilai-nilai Ekoteologi Islam dalam Gerakan Bersama Pengelolaan Sampah dan Perilaku Hidup Bersih di Sekretariat Komunitas MAPAK, Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro (Istimewa/kedungademmu.id)
Kedungademmu.id—Kepedulian terhadap lingkungan terus dibangun melalui berbagai gerakan berbasis masyarakat. Komunitas MAPAK (Emak-Emak Berdampak) menggelar diskusi tentang revitalisasi nilai-nilai Ekoteologi Islam dalam pengelolaan sampah dan penerapan perilaku hidup bersih.

Kegiatan yang menjadi bagian dari Gerakan Bersama Pengelolaan Sampah dan Perilaku Hidup Bersih tersebut berlangsung di Sekretariat Komunitas MAPAK, Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Senin (21/9/2026).


Diskusi tersebut menjadi ruang belajar dan refleksi bagi anggota komunitas untuk melihat persoalan lingkungan dari perspektif keislaman. Pembahasan tidak hanya berfokus pada sampah, tetapi juga pada bagaimana masyarakat dapat membangun kebiasaan hidup bersih dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.


Pengelolaan Sampah Membutuhkan Gerakan Bersama


Pegiat lingkungan Budi Santoso, mengatakan persoalan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak dapat hanya mengandalkan satu pihak karena dampaknya berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan.


“Gerakan pengelolaan sampah harus dilakukan secara bersama-sama. Dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga menyangkut aspek sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat,” ujarnya.


Ia menjelaskan, kesadaran masyarakat perlu dibangun agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan memilah dan mengumpulkan. Lebih dari itu, kebiasaan tersebut perlu menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.


Masyarakat juga dapat didorong untuk melihat sampah secara lebih luas, termasuk potensi pemanfaatan dan nilai ekonominya apabila dikelola dengan baik.


“Ketika masyarakat mulai terbiasa mengurangi, memilah, dan mengelola sampah dari sumbernya, dampaknya akan lebih besar terhadap kebersihan lingkungan dan kualitas hidup,” jelasnya.


Ekoteologi Islam Dorong Kepedulian terhadap Lingkungan


Sementara itu, M. Rondi, menyoroti pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai Ekoteologi Islam dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat.


Menurutnya, Islam memberikan landasan moral bagi manusia untuk menjaga keseimbangan kehidupan dan menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi. Nilai tersebut perlu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.


“Menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Karena itu, nilai-nilai Ekoteologi Islam perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk melalui gerakan pengelolaan sampah,” tuturnya.


Ia menyebut sejumlah nilai yang dapat menjadi pijakan dalam membangun perilaku ramah lingkungan, antara lain khalifah, amanah, mizan atau keseimbangan, serta hifz al-bi'ah atau menjaga kelestarian lingkungan.


Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, tidak cukup berhenti sebagai pengetahuan. Perlu ada pembiasaan agar kesadaran ekologis dapat terlihat dalam perilaku sehari-hari, mulai dari menjaga kebersihan, mengurangi sampah, memilah sampah, hingga mengelola sampah secara bertanggung jawab.


MAPAK Perkuat Gerakan Lingkungan Berbasis Komunitas


Komunitas MAPAK menjadi salah satu wadah masyarakat dalam mengembangkan gerakan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Keterlibatan perempuan melalui komunitas tersebut diharapkan dapat memperkuat perubahan perilaku yang dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar.


Melalui diskusi tersebut, anggota MAPAK diajak memperkuat kolaborasi dan meningkatkan kepedulian terhadap persoalan lingkungan. Pengelolaan sampah juga diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi kebersihan lingkungan maupun kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.


Kegiatan ini sekaligus mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Dengan pendekatan tersebut, menjaga kebersihan lingkungan tidak hanya dipandang sebagai tanggung jawab sosial, tetapi juga sebagai bagian dari pengamalan nilai agama.


Gerakan berbasis komunitas diharapkan terus berkembang melalui edukasi, kolaborasi, dan praktik nyata. Dari kebiasaan sederhana di tingkat keluarga, kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh menjadi gerakan bersama yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan kelestarian alam.