lisensi

Kedungademmu.id
• WIB
Last Updated 2026-09-18T00:16:53Z
Ahmad LazimHaedar NashirMahasiswaMozaikNahdlatul UlamaNURedaksiUMM

Mahasiswa UMM Banyak dari Keluarga NU, Haedar Nashir: Muhammadiyah Memang Terbuka untuk Semua

Advertisement
Mahasiswa Baru UMM tahun 2026 (www.suaramuhammadiyah.id)

Kedungademmu.id—Keberadaan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU) mendapat tanggapan dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Menurut Haedar, kondisi tersebut merupakan bagian dari karakter lembaga pendidikan Muhammadiyah yang sejak awal terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar setelah muncul sebuah video yang memperlihatkan respons mahasiswa baru UMM ketika ditanya mengenai latar belakang keluarga mereka. Dalam video tersebut, mahasiswa yang mengaku berasal dari keluarga NU terlihat lebih banyak dibandingkan mereka yang menyebut berasal dari keluarga Muhammadiyah.

Video itu sebelumnya diunggah oleh Ismail Fahmi, Founder Drone Emprit sekaligus Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Video tersebut dibuat setelah Ismail Fahmi menjadi narasumber dalam kegiatan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Fakultas Teknik UMM, Rabu, 9 September 2026.

Dalam kesempatan itu, Ismail Fahmi mengajukan pertanyaan sederhana kepada mahasiswa baru. Ia menanyakan siapa di antara mereka yang berasal dari keluarga Muhammadiyah. Hanya sebagian mahasiswa yang kemudian mengangkat tangan.

Ketika pertanyaan dialihkan kepada mahasiswa yang berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama, respons yang muncul jauh lebih ramai. Mayoritas mahasiswa mengangkat tangan dan menyatakan bahwa mereka berasal dari keluarga NU.

Unggahan tersebut kemudian mendapat perhatian di media sosial karena memperlihatkan gambaran mengenai keberagaman latar belakang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah tersebut.

Pendidikan Muhammadiyah Tidak Hanya untuk Keluarga Muhammadiyah

Haedar Nashir menanggapi fenomena itu dengan santai. Baginya, keberadaan mahasiswa dari berbagai kelompok keagamaan di lingkungan pendidikan Muhammadiyah bukan sesuatu yang baru.

Ia menjelaskan bahwa sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah sejak lama memang diperuntukkan bagi masyarakat luas. Karena itu, mahasiswa yang menempuh pendidikan di institusi Muhammadiyah tidak harus berasal dari keluarga atau lingkungan Muhammadiyah.

Menurut Haedar, keterbukaan tersebut justru menjadi salah satu ruang bagi peserta didik untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang dan pandangan keislaman yang beragam.

“Jadi, sekolah-sekolah Muhammadiyah, Perguruan Tinggi, itu kan dari berbagai golongan. Dan sekolah-sekolah Muhammadiyah termasuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah memang tidak untuk keluarga Muhammadiyah saja,” kata Haedar saat ditemui setelah peluncuran Logo Tanwir dan Milad Ke-114 Muhammadiyah di Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).

Bagi Haedar, keberagaman tersebut dapat menjadi pengalaman pendidikan yang penting. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga berhadapan secara langsung dengan perbedaan pandangan dan latar belakang di lingkungan yang sama.

Kondisi semacam itu, menurutnya, dapat menjadi ruang untuk belajar mengenai toleransi. Terlebih, perbedaan yang dihadapi tidak selalu berada di antara pemeluk agama yang berbeda, tetapi dapat muncul di antara sesama umat Islam yang memiliki tradisi dan corak keberagamaan yang tidak sama.

Belajar Toleransi dari Keberagaman

Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah (www.muhammadiyah.or.id)

Haedar menilai pengalaman hidup bersama dalam keberagaman di lingkungan pendidikan memiliki arti penting. Menurut dia, memahami perbedaan dalam satu lingkungan agama terkadang justru menjadi tantangan tersendiri.

“Kalau antaragama sudah jelas kan. Tapi kalau di satu agama seperti kita hidup di keluarga. Jadi itu sesuatu yang positif dan lazim di Muhammadiyah sudah lama,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak ditempatkan sebagai ruang yang hanya mempertemukan warga Muhammadiyah. Sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah juga menjadi tempat bertemunya masyarakat dengan latar belakang yang beragam.

Dalam konteks UMM, keberadaan mahasiswa dari keluarga NU maupun kelompok lainnya menjadi bagian dari dinamika kehidupan kampus. Perbedaan latar belakang tidak harus menjadi penghalang dalam proses pendidikan. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi pengalaman sosial yang memperkaya proses pembelajaran.

Bagi Muhammadiyah, pendidikan memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar transfer pengetahuan. Lingkungan pendidikan juga diharapkan membentuk karakter, akhlak, cara berpikir, serta kemampuan peserta didik untuk hidup bersama di tengah masyarakat yang majemuk.

Karena itu, mahasiswa yang berasal dari keluarga non-Muhammadiyah tetap dapat belajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah tanpa harus kehilangan latar belakang keluarganya.

Membawa Nilai Islam Berkemajuan

Haedar berharap keterbukaan lembaga pendidikan Muhammadiyah tersebut juga memungkinkan terjadinya proses pengenalan dan transfer nilai. Mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat mengenal pemikiran dan praktik pendidikan Muhammadiyah selama berada di lingkungan kampus.

Muhammadiyah sendiri membawa gagasan Islam berkemajuan yang menempatkan pendidikan sebagai salah satu instrumen penting dalam membangun kehidupan masyarakat.

Haedar berharap nilai-nilai tersebut dapat memberikan pengaruh positif kepada seluruh mahasiswa, apa pun latar belakang keluarganya.

“Mudah-mudahan dengan cara seperti itu ada transfer nilai tentang Muhammadiyah, karena organisasi ini membawa misi Islam yang berkemajuan,” katanya.

Menurut Haedar, tujuan akhirnya bukan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh, melainkan mendorong lahirnya generasi yang memiliki akhlak baik sekaligus kemampuan berpikir maju.

“Supaya anak bangsa dari manapun datangnya, hidup berakhlak mulia tapi pikirannya maju,” lanjutnya.

Ia juga berharap pendidikan yang berlangsung di lingkungan Muhammadiyah dapat memberikan manfaat lebih luas bagi kehidupan bangsa. Mahasiswa yang datang dari berbagai kelompok diharapkan dapat berkembang bersama dan kemudian berkontribusi bagi masyarakat tanpa menjadikan perbedaan latar belakang sebagai sekat.

“Sehingga dengan pikiran maju, ya Alhamdulillah semua kelompok bangsa jadi terangkat kemajuan. Nah itu baik,” ujar Haedar.

Fenomena mahasiswa UMM yang banyak berasal dari keluarga NU dengan demikian dapat dilihat dalam konteks yang lebih luas. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah menjadi ruang pendidikan yang dapat diakses masyarakat lintas latar belakang.

Bagi Muhammadiyah, keterbukaan tersebut bukan hal yang baru. Justru melalui perjumpaan berbagai latar belakang, kampus dapat menjadi ruang untuk membangun pengalaman hidup bersama, memperluas wawasan, dan menumbuhkan sikap saling menghargai.

Di tengah masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman tradisi, organisasi, dan corak keberagamaan, lingkungan pendidikan seperti itu menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan perbedaan dalam suasana akademik. UMM, sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah, menjadi bagian dari pengalaman tersebut.