lisensi

Kedungademmu.id
• WIB
Last Updated 2026-10-29T12:31:40Z
AisyiyahDina ArianiPDA BojonegoroPersyarikatanRedaksi

Desa Margomulyo Resmi Menjadi Desa Inklusi Pertama di Bojonegoro

Advertisement
Berfoto Bersama Setelah Peresmian Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, sebagai desa inklusi pertama di Kabupaten Bojonegoro (Dina Ariani/kedungademmu.id)
Kedungademmu.id—Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, resmi dilaunching sebagai desa inklusi pertama di Kabupaten Bojonegoro pada Kamis (29/10/2026). Peresmian yang berlangsung di Gedung Koperasi Desa Merah Putih, Desa Margomulyo, ini menjadi puncak pendampingan Program Inklusi 'Aisyiyah yang telah berjalan sejak 2023.

Peluncuran tersebut menandai komitmen pemerintah desa dan berbagai pihak dalam membangun lingkungan yang lebih inklusif, yakni lingkungan yang memberikan kesempatan dan akses layanan secara adil kepada seluruh warga, termasuk penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya.


Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dengan penampilan senam pinguin oleh anak-anak PAUD Tunas Mulya Desa Margomulyo. Acara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh Gifniyu'ah.


Sejumlah unsur pemerintah dan organisasi turut hadir, di antaranya Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Timur, Asisten Administrasi Umum Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Bank Jatim, Forkopimcam Balen, PDM dan PDA Bojonegoro, PCM dan PCA Balen, Pemerintah Desa Margomulyo, BPD, serta ketua RT, RW, dan warga setempat.


Program Inklusi 'Aisyiyah Dorong Pemberdayaan Warga


Wakil Ketua PWA Jawa Timur, Nelly Asnifati, menegaskan bahwa program inklusi bukan sekadar kegiatan seremonial. Selama tiga tahun pendampingan di Desa Margomulyo, Program Inklusi 'Aisyiyah telah mengembangkan sejumlah kegiatan pemberdayaan dan layanan masyarakat.


Program tersebut meliputi Balai Sakinah 'Aisyiyah (BSA), Bina Usaha Ekonomi Keluarga 'Aisyiyah (BUEKA), serta layanan kesehatan melalui Si Jaka dan tes inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).


“Tujuannya satu, agar semua warga tanpa terkecuali mendapat akses yang sama dalam mengakses layanan yang ada,” ungkapnya.


Program-program tersebut diarahkan untuk memperluas akses layanan sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat. Pendampingan juga diharapkan membuka kesempatan bagi kelompok rentan untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi desa.


Penyandang Disabilitas Diberdayakan melalui Usaha Produktif


Kepala Desa Margomulyo, Arif Rahman, menyampaikan bahwa program inklusi telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama penyandang disabilitas.


Salah satu bentuk pemberdayaan tersebut terlihat dari kelompok penjahit penyandang disabilitas di Desa Margomulyo. Kelompok ini kini dipercaya memproduksi seragam PAUD dan TK 'Aisyiyah se-Kabupaten Bojonegoro melalui kolaborasi dengan PDA Bojonegoro.


Kesempatan tersebut menjadi langkah penting dalam memperluas akses ekonomi bagi penyandang disabilitas. Mereka tidak hanya memperoleh pendampingan, tetapi juga kesempatan untuk menghasilkan produk, mengembangkan usaha, dan memperluas pasar.


Pemberdayaan ekonomi seperti ini menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan untuk berkontribusi apabila mendapatkan kesempatan, dukungan, dan akses yang memadai.


Pemerintah Tekankan Keberlanjutan Desa Inklusi


Sekretaris DPMD Kabupaten Bojonegoro, Masirin, menyebut penetapan Desa Margomulyo sebagai desa inklusi pertama di Bojonegoro sebagai langkah bersejarah. Ia juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan program setelah peresmian.


Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menegaskan pentingnya penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas tanpa diskriminasi.


“Tantangan setelah launching adalah keberlanjutan, bagaimana desa ini benar-benar memberi rasa aman dan nyaman bagi kelompok rentan,” ujarnya.


Menurutnya, status desa inklusi perlu diikuti dengan langkah nyata, mulai dari peningkatan kualitas pelayanan, pendataan kelompok rentan, hingga penciptaan lingkungan yang aman dan ramah bagi seluruh warga.


Disabilitas Bukan Objek Belas Kasihan


Asisten Administrasi Umum Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Machmuddin, menyampaikan keynote speech dalam kegiatan tersebut. Ia menekankan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas.


“Jangan pandang penyandang disabilitas sebagai objek yang dikasihani. Mereka adalah subjek, warga yang punya hak sama,” tegasnya.


Machmuddin juga mendorong masyarakat agar aktif melaporkan apabila menemukan warga yang putus sekolah, menjadi korban kekerasan, atau penyandang disabilitas yang belum mendapatkan layanan. Menurutnya, data kelompok rentan yang valid menjadi salah satu dasar penting agar bantuan dan pelayanan dapat diberikan secara tepat sasaran.


“Desa inklusi bukan soal kebanggaan atau kemenangan. Idealnya, memang setiap desa harus inklusi,” tambahnya.


Pernyataan tersebut menegaskan bahwa inklusi bukan hanya tentang penetapan status suatu desa, melainkan upaya berkelanjutan untuk memastikan setiap warga memperoleh hak, kesempatan, dan pelayanan yang setara.


Peresmian Ditandai Pemukulan Gong dan Penyerahan Bantuan


Peresmian Desa Margomulyo sebagai desa inklusi ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali dan pembukaan plang Desa Inklusi oleh Machmuddin, AP., M.M. Prosesi tersebut didampingi perwakilan PWA Jawa Timur, Sekretaris DPMD, Ketua PDM Bojonegoro, Ketua PDA Bojonegoro, Camat Balen, dan Kepala Desa Margomulyo.


Dalam kesempatan yang sama, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menyerahkan piagam penghargaan kepada Pemerintah Desa Margomulyo atas pencapaian tersebut.


Suasana haru mewarnai sesi testimoni. Yusuf dan Eni Masfiroh, anggota BSA dan BUEKA dari kelompok penyandang disabilitas, menceritakan perkembangan usaha yang mereka jalankan. Setelah mendapatkan pendampingan melalui program inklusi, usaha mereka berkembang dan jangkauan pasar semakin luas.


Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Ketua PDM Bojonegoro, Suwito. Acara dilanjutkan dengan penyaluran bantuan sosial dari Dinas Sosial dan PDA Bojonegoro kepada warga dengan penyakit kronis, lanjut usia, anak yatim piatu, dan penyandang disabilitas.


Peresmian Desa Margomulyo sebagai desa inklusi pertama di Bojonegoro diharapkan menjadi awal dari pelayanan masyarakat yang semakin terbuka dan setara. Lebih dari sekadar seremoni, keberhasilan program ini akan ditentukan oleh keberlanjutan pemberdayaan, ketepatan pelayanan, dan keterlibatan seluruh warga dalam membangun desa yang ramah bagi semua.