Advertisement
![]() |
| Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan yang telah bertugas selama hampir tiga pekan dalam penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) |
Kedungademmu.id—Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana terus digerakkan Muhammadiyah melalui berbagai jalur. Salah satunya dengan mengarahkan infak yang dihimpun pada pelaksanaan salat Jumat untuk membantu para penyintas bencana, terutama masyarakat yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah membangun respons kemanusiaan yang tidak berhenti pada pemberian bantuan ketika bencana terjadi. Pendampingan diupayakan terus berlangsung hingga masyarakat terdampak memasuki tahap pemulihan dan mampu kembali menata kehidupannya.
Dikutip dari Muhammadiyah.or.id, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah M. Izzul Muslimin mengatakan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menerbitkan edaran kepada masjid-masjid Muhammadiyah agar infak Jumat dapat diarahkan untuk mendukung penanganan masyarakat yang terdampak bencana.
Menurutnya, penggalangan tersebut tidak bersifat terbatas hanya dalam satu kali pelaksanaan. Warga Muhammadiyah maupun masyarakat luas tetap dapat melanjutkan donasi apabila masih memiliki keinginan untuk membantu.
“Artinya edaran itu tidak berarti satu pekan berhenti, tapi kalau seandainya ada yang ingin melanjutkan lagi juga enggak apa-apa,” ujar Izzul dalam acara Ruang Publik TVMu, Sabtu (5/9/2026).
Selain membantu penyintas gempa di NTT, perhatian Muhammadiyah juga diberikan kepada masyarakat yang menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Izzul mengajak masyarakat menyalurkan bantuan melalui berbagai kanal yang dimiliki Muhammadiyah. Selain infak Jumat, donasi juga dapat disampaikan melalui Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) yang tersebar di berbagai daerah.
“Kita berharap warga Muhammadiyah untuk bisa menyalurkan rezekinya, baik melalui infak Jumat, bisa juga melalui Lazismu di masing-masing tempat,” tuturnya.
Bantuan Disalurkan Berdasarkan Kebutuhan
Dalam penanganan bencana, Muhammadiyah tidak hanya mengandalkan penghimpunan dana. Bantuan yang terkumpul kemudian dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak melalui koordinasi berbagai unsur Persyarikatan.
Bendahara Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Dede Haris Sumarno menjelaskan, kerja kemanusiaan pada dasarnya telah menjadi bagian dari perjalanan Muhammadiyah. Semangat untuk membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan merupakan nilai yang terus diwariskan sejak masa KH Ahmad Dahlan.
Semangat tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk pelayanan sosial, termasuk dalam menghadapi situasi bencana.
“Kalau di Persyarikatan Muhammadiyah ini adalah sesuatu yang saya kira sudah sangat mendarah daging,” kata Dede.
MDMC melakukan asesmen terlebih dahulu sebelum menentukan bantuan yang akan diberikan. Cara tersebut diperlukan agar bantuan yang disalurkan benar-benar sesuai dengan persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan.
Kebutuhan setiap wilayah terdampak dapat berbeda. Karena itu, bantuan tidak selalu berbentuk uang atau bahan makanan. Dalam kondisi tertentu, masyarakat membutuhkan tempat tinggal sementara, pelayanan kesehatan, perlengkapan keluarga, kebutuhan perempuan dan anak, fasilitas pendidikan, maupun dukungan terhadap tempat ibadah.
Di Flores, NTT, misalnya, MDMC mengerahkan tenaga kesehatan dan menyediakan layanan melalui rumah sakit lapangan serta pelayanan kesehatan bergerak. Langkah tersebut dilakukan untuk menjangkau masyarakat yang mengungsi di berbagai lokasi.
Persoalan tempat tinggal juga menjadi perhatian karena gempa susulan masih dapat menimbulkan kekhawatiran. Di tengah kondisi tersebut, keberlangsungan pendidikan anak-anak juga tetap dijaga.
“Adik-adik kita boleh saja mengalami kejadian seperti ini, tapi pendidikannya tidak boleh ditinggalkan,” ujar Dede.
Sementara itu, penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan juga tetap dilakukan. Muhammadiyah mengerahkan sumber daya yang tersedia sesuai kebutuhan di masing-masing lokasi.
Tenaga kesehatan dari sejumlah rumah sakit Muhammadiyah juga dilibatkan dalam penanganan masyarakat terdampak di Flores. Mereka bertugas secara bergiliran agar pelayanan dapat terus berlangsung.
Dede menegaskan, posisi Muhammadiyah dalam penanganan bencana adalah sebagai mitra pemerintah. Muhammadiyah membantu memperkuat pelayanan kepada masyarakat tanpa mengambil alih peran pemerintah.
“Posisi membantu, tidak menggantikan pemerintah. Kita berkoordinasi mana rumah yang rusak berat, rusak sedang dan sebagainya,” jelasnya.
Seluruh Unsur Muhammadiyah Didorong Bergerak
Penanganan bencana juga tidak dipandang hanya sebagai pekerjaan lembaga yang bergerak khusus di bidang kebencanaan. Setelah fase tanggap darurat berakhir, berbagai unsur Muhammadiyah dapat mengambil bagian sesuai bidang masing-masing.
Dede menjelaskan, pemulihan masyarakat membutuhkan keterlibatan lintas lembaga. Unsur yang bergerak di bidang ekonomi dapat membantu pemulihan usaha masyarakat. Majelis pendidikan dapat berperan dalam memastikan kegiatan belajar kembali berjalan. Rumah sakit, perguruan tinggi, organisasi otonom, dan berbagai lembaga Muhammadiyah juga dapat memberikan dukungan sesuai kapasitasnya.
Pola kerja bersama tersebut menjadi bagian dari konsep Muhammadiyah One Response, yakni menggerakkan seluruh elemen Persyarikatan dalam menghadapi persoalan kemanusiaan.
“Tidak hanya satu atau dua lembaga, tapi seluruh elemen yang ada di persyarikatan bergerak bersama sesuai dengan tahapannya masing-masing,” ujar Dede.
Konsep tersebut penting karena pemulihan setelah bencana tidak berlangsung dalam waktu singkat. Ketika perhatian publik mulai beralih dan pemberitaan tentang bencana berkurang, kebutuhan para penyintas justru belum tentu selesai.
Direktur Fundraising Lazismu Mochammad Sholeh Farabi mengingatkan agar kepedulian masyarakat tidak hanya muncul pada saat bencana menjadi pemberitaan utama.
“Jangan biarkan kepedulian itu berhenti walaupun kabar tentang bencana mulai menghilang dari televisi,” katanya.
Menurut Farabi, Muhammadiyah berupaya mendampingi masyarakat sejak masa awal bencana hingga proses pemulihan.
“Jadi jalan bencana itu panjang. Biasanya memang Muhammadiyah itu tim yang biasanya pertama datang tapi pulang paling terakhir,” ujarnya.
Rp7,4 Miliar untuk Penanganan Bencana NTT
Besarnya kepedulian masyarakat terhadap para penyintas tercermin dari dana yang berhasil dihimpun. Farabi menyebut Lazismu telah mengumpulkan sekitar Rp7,4 miliar berdasarkan instruksi Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk membantu penanganan bencana di NTT.
Dana tersebut akan digunakan berdasarkan kebutuhan yang ditemukan melalui asesmen di lapangan. Penghimpunan bantuan juga terus dilakukan untuk penanganan bencana lainnya.
Selain uang, bantuan diberikan dalam bentuk berbagai kebutuhan yang diperlukan masyarakat terdampak. Untuk kelompok rentan, misalnya, bantuan dapat berupa perlengkapan keluarga, kebutuhan perempuan, maupun perlengkapan kebersihan.
Muhammadiyah juga menyalurkan bantuan pangan melalui program RendangMu. Sekitar 20.000 kaleng RendangMu telah dikirimkan kepada penyintas bencana di NTT melalui posko-posko Muhammadiyah.
RendangMu tersebut merupakan salah satu bentuk pemanfaatan daging kurban yang diolah menjadi makanan dengan daya simpan lebih lama. Dengan bentuk tersebut, makanan dapat didistribusikan ke wilayah bencana secara lebih praktis.
Gerakan kemanusiaan juga melibatkan perguruan tinggi Muhammadiyah. Mahasiswa, sivitas akademika, organisasi kepemudaan, dan organisasi otonom turut mengambil bagian dalam penghimpunan bantuan.
Besarnya dukungan masyarakat tersebut sekaligus menuntut pengelolaan dana secara transparan dan profesional. Farabi memastikan setiap dana yang diterima Lazismu dikelola dengan prinsip amanah dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Dana yang terhimpun di Lazis itu akan kita kelola dengan prinsip amanah dan profesional. Itu sudah menjadi SOP kami,” tegasnya.
Pertanggungjawaban tersebut mencakup informasi mengenai dana yang berhasil dihimpun, penggunaan dana, serta bentuk bantuan yang diberikan kepada masyarakat. Pelaporan dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi agar para donatur dapat mengetahui perkembangan penyaluran bantuan.
Mendorong Dana Abadi Kemanusiaan
Di tengah penguatan gerakan kemanusiaan tersebut, MDMC juga mendorong adanya sumber pendanaan yang dapat digunakan secara cepat ketika bencana terjadi.
Dede mengusulkan pembentukan dana abadi kemanusiaan. Menurutnya, keberadaan dana semacam itu akan membuat Muhammadiyah memiliki kesiapan pendanaan ketika terjadi bencana tanpa harus menunggu proses penghimpunan dana dari awal.
Bencana dapat datang sewaktu-waktu. Karena itu, ketersediaan dana yang telah disiapkan sebelumnya akan mempercepat mobilisasi bantuan pada masa-masa awal ketika masyarakat sangat membutuhkan pertolongan.
“Namun apabila kita telah memiliki dana abadi kemanusiaan, insyaallah maka bahasa anak mudanya akan lebih gercep,” ujar Dede.
Gagasan tersebut juga sejalan dengan semangat Al-Ma'un yang menjadi salah satu fondasi gerakan sosial Muhammadiyah. Kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan tidak dibatasi oleh latar belakang agama, suku, ataupun kelompok.
“Bencana kemanusiaan itu melampaui segalanya. Ada tidak ada agama, tidak ada suku dan lain sebagainya, semua kita bantu hanya karena rasa kemanusiaan,” kata Dede.
Bagi Muhammadiyah, keterlibatan dalam penanganan bencana merupakan bagian dari tanggung jawab sosial sebagai organisasi kemasyarakatan sekaligus bagian dari pengamalan nilai-nilai kemanusiaan.
Dede menyebut kerja tersebut sebagai bentuk tanggung jawab warga bangsa dan kader Persyarikatan untuk ikut menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kita merasa bahwa ini adalah tugas kita sebagai khalifah, tugas kita sebagai warga bangsa dan tugas kita sebagai kader persyarikatan untuk menjadi bagian daripada solusi terhadap berbagai persoalan yang ada di Republik ini, khususnya terkait dengan kebencanaan atau kemanusiaan,” ujarnya.
Farabi memastikan pendampingan terhadap para penyintas tidak berhenti ketika bantuan darurat telah disalurkan. Muhammadiyah akan terus berupaya mendukung proses pemulihan masyarakat.
“Kami semua elemen di Muhammadiyah akan mendampingi para penyintas bencana sampai mereka pulih,” katanya.
Dengan demikian, infak Jumat yang dikumpulkan di masjid, donasi melalui Lazismu, kerja relawan MDMC, dukungan rumah sakit dan perguruan tinggi, hingga gagasan dana abadi kemanusiaan merupakan bagian dari satu rangkaian gerakan.
Gerakan tersebut diarahkan untuk membangun kepedulian yang berkelanjutan. Bantuan tidak hanya diberikan ketika masyarakat berada dalam situasi darurat, tetapi juga dilanjutkan melalui pendampingan agar para penyintas dapat memulihkan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan mereka.
Bagi Muhammadiyah, kemanusiaan membutuhkan kehadiran yang konsisten. Ketika perhatian publik mulai surut, pendampingan justru perlu terus berjalan sampai masyarakat terdampak mampu bangkit dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.
