lisensi

Kedungademmu.id
• WIB
Last Updated 2026-10-18T16:17:17Z
KajianPCM KedungademRedaksiSamsul ArifinTabligh Akbar

Ustaz Rifky Ja’far Thalib di Kedungadem: Ibadah, Shalawat, dan Bahaya Fanatisme

Advertisement
Ustaz Rifky Ja’far Thalib sedanh menyampaikan kajian keislaman di Masjid Nurul Yaqin Kedungadem (Istimewa/kedungademmu.id)
Kedungademmu.id— Ustaz Rifky Ja’far Thalib menyampaikan kajian keislaman tentang makna ibadah, kecintaan kepada Nabi Muhammad saw., pentingnya ilmu dan amal, serta bahaya fanatisme kelompok. Materi tersebut disampaikan dalam pengajian di Masjid Nurul Yaqin, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Ahad (18/10/2026).

Dalam kajian tersebut, umat Islam diajak memahami bahwa ibadah bukan sekadar menjalankan kewajiban ritual, melainkan juga upaya mengenal Allah Swt., mengamalkan ajaran agama, dan memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari.


Sejumlah pokok pembahasan yang menjadi perhatian meliputi keutamaan shalawat, tujuan penciptaan manusia, pesan Surah Al-Fatihah, pengenalan terhadap Asmaulhusna, persiapan menghadapi kehidupan akhirat, serta pentingnya menjaga kemurnian tauhid.


Ibadah Merupakan Tujuan Penciptaan Manusia


Salah satu landasan penting dalam memahami ibadah adalah firman Allah Swt. dalam Surah Az-Zariyat ayat 56:

Wa ma khalaqtul-jinna wal-insa illa liya'budun.


Artinya, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”


Ayat tersebut menegaskan bahwa ibadah memiliki kedudukan utama dalam kehidupan manusia. Ibadah tidak hanya mencakup salat, puasa, dan kewajiban ritual lainnya, tetapi juga berbagai perbuatan baik yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Islam.


Bekerja dengan jujur, menjaga amanah, membantu sesama, dan memenuhi tanggung jawab merupakan contoh perilaku yang dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang dibenarkan agama.


Pemahaman tersebut mengingatkan umat Islam agar tidak memisahkan ibadah dari kehidupan sehari-hari. Setiap kesempatan seharusnya dimanfaatkan untuk berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.


Shalawat Perlu Diiringi Keteladanan kepada Rasulullah


Pembahasan tentang shalawat juga menjadi bagian dari materi kajian. Shalawat merupakan bentuk penghormatan dan kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad saw.


Salah satu bacaan yang dikenal luas adalah Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, yang berisi permohonan kepada Allah agar melimpahkan selawat kepada Nabi Muhammad.


Kecintaan kepada Rasulullah hendaknya tidak berhenti pada ucapan. Umat Islam juga perlu berusaha meneladani akhlak beliau, seperti kejujuran, amanah, kesabaran, dan kasih sayang kepada sesama.


Dengan demikian, shalawat dapat menjadi pengingat untuk memperkuat keimanan sekaligus mendorong penerapan nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.


Surah Al-Fatihah Mengingatkan Pentingnya Ilmu dan Amal


Dalam Surah Al-Fatihah, umat Islam memohon petunjuk agar senantiasa berada di jalan yang lurus. Pada bagian akhir surah tersebut, terdapat permohonan agar dijauhkan dari jalan orang-orang yang dimurkai dan mereka yang tersesat.


Pesan ini dapat menjadi pengingat tentang pentingnya menyelaraskan ilmu dengan amal. Mengetahui suatu kebenaran saja tidak cukup apabila seseorang tidak berusaha menjalankannya.


Ilmu agama seharusnya membimbing seseorang untuk memperbaiki perilaku, menjalankan kewajiban, serta menjauhi perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.


Karena itu, kandungan Surah Al-Fatihah perlu menjadi bahan introspeksi bagi setiap muslim. Alih-alih sibuk menilai kekurangan orang lain, seseorang hendaknya memeriksa apakah ilmu yang dimiliki telah diamalkan dalam kehidupannya.


Bahaya Fanatisme dalam Kehidupan Beragama


Materi kajian juga menyoroti pentingnya menghindari fanatisme kelompok yang berlebihan.

Perbedaan organisasi, mazhab, maupun pandangan keagamaan merupakan kenyataan dalam kehidupan umat Islam. Perbedaan tersebut hendaknya disikapi dengan ilmu, kebijaksanaan, dan akhlak yang baik.


Seseorang tidak seharusnya menganggap kelompoknya selalu benar hanya karena menjadi bagian dari kelompok tersebut. Setiap pendapat perlu dipelajari berdasarkan dalil dan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.


Fanatisme yang berlebihan dapat membuat seseorang menolak nasihat, mengabaikan kebenaran, bahkan memusuhi orang lain karena perbedaan pandangan.


Oleh sebab itu, umat Islam perlu membiasakan diri bersikap terbuka terhadap nasihat yang baik, memeriksa dasar suatu pendapat, dan tidak mudah menghakimi orang lain.


Tujuan mempelajari agama bukanlah memenangkan kelompok sendiri, melainkan memperoleh petunjuk dan menjalankan perintah Allah Swt.


Mengenal Allah melalui Asmaulhusna


Asmaulhusna merupakan nama-nama Allah yang indah. Melalui nama-nama tersebut, umat Islam mempelajari keagungan dan kesempurnaan Allah sesuai dengan penjelasan Al-Qur'an dan sunah.


Mengenal Asmaulhusna tidak cukup hanya dengan menghafal nama-namanya. Seorang muslim juga perlu memahami maknanya dan menjadikannya sebagai dorongan untuk memperbaiki diri.


Pemahaman terhadap nama-nama Allah diharapkan memperkuat keimanan, menumbuhkan kerendahan hati, dan mendorong seseorang untuk berbuat baik kepada sesama.


Dengan mengenal Allah, seorang muslim diharapkan semakin menyadari pentingnya menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk agama.


Ilmu dan Amal sebagai Bekal Kehidupan Akhirat


Keimanan kepada kehidupan setelah kematian merupakan bagian penting dari akidah Islam. Setelah meninggal dunia, manusia memasuki alam barzakh dan menghadapi pertanyaan malaikat sebagaimana dijelaskan dalam hadis.


Keyakinan tersebut mengingatkan umat Islam agar mempersiapkan diri selama masih hidup. Persiapan itu bukan sekadar menghafal bacaan atau jawaban tertentu, melainkan membangun keimanan, mempelajari ajaran agama, dan mengamalkannya secara konsisten.


Ilmu agama perlu membimbing seseorang untuk mengenal Allah, memahami tuntunan Rasulullah, menjalankan kewajiban, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.


Dengan demikian, belajar agama harus berjalan beriringan dengan pengamalan. Pengetahuan yang dipahami dan diterapkan diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar seorang muslim dalam mempersiapkan kehidupan akhirat.


Memahami Syirik Besar dan Syirik Kecil


Dalam ajaran Islam, menjaga kemurnian tauhid merupakan perkara mendasar. Syirik berarti mempersekutukan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya.


Para ulama menjelaskan adanya syirik besar dan syirik kecil. Syirik besar mencakup tindakan mempersekutukan Allah dalam perkara ketuhanan atau ibadah. Adapun syirik kecil merupakan perbuatan yang disebut sebagai syirik dalam dalil agama, tetapi tidak mencapai tingkat syirik besar. Salah satu contoh yang dibahas para ulama ialah riya, yaitu melakukan ibadah demi memperoleh pujian manusia.


Surah An-Nisa ayat 48 menjelaskan bahwa Allah tidak mengampuni dosa syirik bagi orang yang menghadap-Nya dengan membawa dosa tersebut tanpa bertobat, sedangkan dosa selain itu berada di bawah kehendak-Nya.


Pembahasan tersebut mengingatkan umat Islam agar menjaga kemurnian tauhid dan segera bertobat ketika menyadari kesalahan. Pada saat yang sama, seseorang tidak boleh sembarangan menetapkan hukum terhadap orang lain tanpa memahami persoalan dan penjelasan ulama yang kompeten.


Ibadah Harus Melahirkan Perubahan dalam Kehidupan


Materi kajian Ustaz Rifky Ja’far Thalib tersebut mengingatkan bahwa ibadah perlu dibangun di atas iman, ilmu, dan amal.

Selawat mengajarkan kecintaan kepada Rasulullah. Surah Al-Fatihah mengingatkan pentingnya memohon petunjuk. Asmaulhusna membantu umat Islam mengenal Allah, sedangkan keimanan kepada kehidupan akhirat mendorong setiap muslim mempersiapkan diri dengan amal saleh.


Sementara itu, pemahaman tentang fanatisme dan syirik mengingatkan pentingnya menjaga kemurnian tauhid serta bersikap bijaksana dalam kehidupan beragama.


Pada akhirnya, keberagamaan tidak hanya tampak dari banyaknya ucapan atau pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga dari kesungguhan menjalankan perintah Allah, memperbaiki akhlak, menjaga persaudaraan, dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.