(www.unplash.com)

Oleh: Divya Salsabila, Anggota Bidang RPK PK IMM FKM UMJ Periode 2025-2026

Kedungademmu.idBayangkan satu organ yang bekerja tanpa henti setiap detik menyaring racun, mengolah nutrisi, dan menjaga tubuh tetap hidup tanpa pernah mengeluh. Organ itu adalah hati. Namun, ketika hati diserang secara perlahan oleh virus tanpa gejala, dampaknya bisa sangat fatal. Inilah yang terjadi pada hepatitis—penyakit yang datang diam-diam, tetapi dapat berujung pada kematian.

Secara medis, hepatitis merupakan peradangan hati yang umumnya disebabkan oleh infeksi virus, seperti hepatitis A, B, C, D, dan E. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat berkembang menjadi sirosis hingga kanker hati. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 354 juta orang di dunia hidup dengan hepatitis B atau C, dan setiap 30 detik satu orang meninggal akibat komplikasi penyakit ini.

Fakta tersebut menjadi dasar peringatan Hari Hepatitis Sedunia setiap 28 Juli. Tahun ini, WHO mengusung tema “Hepatitis: Let’s Break It Down”, yang mengajak masyarakat untuk menghancurkan berbagai hambatan yang menghalangi penderita mendapatkan layanan kesehatan.

Di Indonesia, hepatitis masih menjadi ancaman serius. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan sekitar 6,7 juta penduduk terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta lainnya hepatitis C. Ironisnya, sebagian besar dari mereka belum terdiagnosis maupun mendapatkan pengobatan. Meski prevalensi hepatitis B menurun dari 7,1 persen pada 2013 menjadi 2,4 persen pada 2023, beberapa wilayah seperti Maluku dan Papua masih memiliki angka kasus yang tinggi.

Salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan skrining. Banyak orang merasa sehat karena hepatitis sering tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Di sisi lain, stigma sosial juga menjadi penghalang. Rasa takut dan malu membuat penderita enggan memeriksakan diri atau mencari pengobatan.

Padahal, kemajuan ilmu pengetahuan telah menghadirkan berbagai metode pencegahan dan pengobatan yang efektif. Program pencegahan penularan dari ibu ke anak, termasuk triple elimination, sebenarnya dapat menekan angka kasus baru. Namun, keterbatasan fasilitas, tenaga kesehatan, serta distribusi logistik di daerah terpencil masih menjadi kendala.

Upaya memutus rantai penularan hepatitis dapat dimulai dari langkah sederhana namun penting, seperti memperluas skrining rutin, memastikan pemeriksaan bagi ibu hamil, serta pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi dalam 24 jam pertama setelah lahir. Di samping itu, edukasi masyarakat yang berbasis budaya dan komunitas sangat diperlukan agar kesadaran tumbuh dari dalam.

Eliminasi hepatitis bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tenaga medis, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Dukungan terhadap penderita, tanpa stigma dan diskriminasi, menjadi kunci penting dalam penanganan penyakit ini.

Peringatan Hari Hepatitis Sedunia seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Target global untuk mengeliminasi hepatitis pada 2030 hanya dapat tercapai jika seluruh pihak bergerak bersama. Langkah kecil seperti melakukan skrining hari ini bisa menjadi awal besar untuk menyelamatkan masa depan.