lisensi

Kedungademmu.id
WIB
Last Updated 2026-09-08T12:37:26Z
OpiniRedaksiSuprapto

Maulid dan Kemerdekaan: Jangan Hanya Meriah, Jadikan Keteladanan dalam Kehidupan

Advertisement
Suprapto Kepala MI Muhammadiyah 7 Kenep (Istimewa/kedungademmu.id)

Oleh: Suprapto, M.Pd, Kepala MI Muhammadiyah 7 Kenep

Kedungademmu.idPerayaan Maulid Nabi Muhammad saw. dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sama-sama menghadirkan suasana penuh kegembiraan. Ada selawat, pengajian, upacara, perlombaan, bendera, serta berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan anak-anak.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada pertanyaan penting yang layak kita renungkan: apa yang tertinggal setelah perayaan selesai?


Apakah hanya kenangan tentang acara yang meriah, atau ada nilai yang kemudian tumbuh dalam perilaku kita?


Maulid Nabi mengajarkan keteladanan. Kemerdekaan mengajarkan perjuangan. Keduanya semestinya tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi pengingat untuk memperbaiki diri dan lingkungan.


Maulid Bukan Sekadar Seremoni


Memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. bukan sekadar membaca kisah kehidupan beliau, berselawat, atau mendengarkan ceramah tentang akhlak.


Lebih dari itu, Maulid seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita meneladani Rasulullah saw.?


Kita berbicara tentang kejujuran, kelembutan, kesederhanaan, kasih sayang, kesabaran, dan menjaga lisan. Akan tetapi, semua nilai tersebut akan kehilangan makna apabila hanya berhenti dalam ucapan.


Keteladanan justru terlihat dalam kehidupan sehari-hari: bagaimana kita berbicara kepada anak, menghormati orang tua, memperlakukan teman, menjaga kejujuran, serta menghargai orang lain.


Ketika Perayaan Menjadi Bagian dari Pendidikan


Hal yang sama perlu kita perhatikan ketika kegiatan Maulid atau kemerdekaan diselenggarakan di sekolah, madrasah, TPQ, maupun lingkungan pendidikan lainnya.


Anak-anak tidak hanya belajar melalui buku dan nasihat guru. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat dan alami.


Sebuah perlombaan mungkin dirancang untuk menghibur. Namun, cara perlombaan itu dilakukan juga dapat menjadi pembelajaran.


Apakah anak belajar sportivitas atau justru mengejek lawan?


Apakah mereka belajar keberanian atau justru merasa dipermalukan?


Apakah mereka belajar bekerja sama atau justru saling merendahkan?


Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini penting karena pendidikan tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi.


Setiap kegiatan dapat menjadi pendidikan. Setiap kebiasaan dapat menjadi pembelajaran. Dan setiap orang dewasa dapat menjadi teladan.


Inilah yang dikenal dalam pendidikan sebagai hidden curriculum, yaitu nilai yang dipelajari anak melalui budaya, kebiasaan, sikap, dan lingkungan di sekitarnya.


Kemerdekaan Harus Menghadirkan Peradaban


Semangat kemerdekaan juga tidak cukup diwujudkan melalui upacara, pengibaran bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, atau berbagai perlombaan.


Kemeriahan memang penting sebagai bentuk kegembiraan dan rasa syukur. Namun, kemerdekaan memiliki makna yang jauh lebih luas.


Kemerdekaan seharusnya mendorong kita menjadi masyarakat yang bertanggung jawab, menghargai perbedaan, menjunjung sportivitas, menjaga persatuan, dan menghormati sesama.


Jangan sampai atas nama hiburan dan kemeriahan, kita justru menghadirkan perilaku yang bertentangan dengan nilai tersebut.


Menang bukan alasan untuk merendahkan yang kalah. Bercanda bukan alasan untuk mempermalukan orang lain. Dan merayakan kemerdekaan bukan berarti bebas mengabaikan adab.


Kemerdekaan semestinya membuat kita semakin bermartabat, bukan sekadar semakin bebas.


Dari Meriah Menjadi Bermakna


Bukan berarti semua perlombaan harus dihentikan. Kegembiraan anak-anak juga tidak perlu dibatasi.


Yang perlu dilakukan adalah menghadirkan kegiatan yang menyenangkan sekaligus mendidik.


Buatlah perlombaan yang menumbuhkan keberanian, bukan mempermalukan.


Ciptakan permainan yang membangun kerja sama, bukan permusuhan.


Tanamkan sportivitas, bukan sekadar ambisi menjadi pemenang.


Dengan demikian, perayaan tidak hanya meninggalkan foto dan video, tetapi juga meninggalkan pengalaman serta nilai positif bagi anak-anak.


Apa yang Tersisa Setelah Perayaan?


Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah perayaan bukan hanya jumlah peserta, kemeriahan acara, atau banyaknya dokumentasi yang dihasilkan.


Ukuran yang lebih penting adalah perubahan setelah acara berakhir.


Jika setelah Maulid kita menjadi lebih santun, lebih jujur, lebih penyayang, dan lebih menjaga perilaku, berarti nilai Maulid mulai hidup dalam diri kita.


Jika setelah perayaan kemerdekaan kita menjadi lebih menghargai sesama, menjunjung sportivitas, menjaga persatuan, dan bertanggung jawab, berarti semangat kemerdekaan mulai menemukan maknanya.


Karena itu, mari kita ubah cara pandang.


Jangan hanya bertanya, “Bagaimana membuat perayaan menjadi meriah?”


Tetapi juga tanyakan:

Bagaimana membuat perayaan menjadi bermakna?”


Maulid yang bermakna bukan sekadar Maulid yang ramai. Kemerdekaan yang bermakna bukan sekadar perayaan yang meriah.


Yang paling penting adalah apa yang kita bawa pulang setelah acara selesai: akhlak yang lebih baik, adab yang semakin kuat, kepedulian yang tumbuh, dan keteladanan yang terus hidup.


Barangkali kita semua masih belajar. Tulisan ini pun bukan untuk menggurui siapa pun, melainkan sebagai pengingat, terutama untuk diri sendiri.


Sebab, pada akhirnya, anak-anak mungkin lupa bagaimana meriahnya sebuah acara, tetapi mereka akan mengingat bagaimana orang dewasa memperlakukan mereka.


Perayaan boleh meriah. Kegembiraan boleh memenuhi suasana. Namun, jangan sampai keteladanan justru tertinggal di belakang panggung.