lisensi

Kedungademmu.id
WIB
Last Updated 2026-09-09T01:02:25Z
Amizy Nova Airul Ayunda KurniawanLiterasiMozaikOECDPendidikanPISAPISA 2025Redaksi

PISA 2025: Kemampuan Siswa Dunia Menurun, Indonesia Masih Hadapi Tantangan Besar

Advertisement
PISA 2025: Kemampuan Siswa Dunia Menurun, Indonesia Masih Hadapi Tantangan Besar (www.unsplash.com)

Kedungademmu.id
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis pada Selasa (8/9/2026) menunjukkan adanya persoalan serius dalam dunia pendidikan global. Kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam membaca dan matematika mengalami penurunan di banyak negara, sementara kemampuan sains juga belum menunjukkan perkembangan berarti di sejumlah negara peserta.

Indonesia berada dalam situasi yang sedikit berbeda. Dibandingkan hasil PISA 2022, kemampuan siswa Indonesia dalam sains dan membaca mengalami peningkatan. Namun, capaian tersebut belum cukup untuk mengangkat posisi Indonesia dari kelompok negara dengan performa pendidikan yang relatif rendah.

PISA merupakan asesmen internasional yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan menghadapi persoalan kehidupan nyata. Pada PISA 2025, lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara dan perekonomian mengikuti penilaian tersebut.

Secara global, persoalan yang muncul cukup mengkhawatirkan. Dalam rentang 2015–2025, skor membaca rata-rata negara-negara OECD turun 28 poin. Pada negara dan perekonomian yang tidak tergabung dalam OECD, penurunannya mencapai 16 poin.

Matematika juga mengalami penurunan. Rata-rata skor negara OECD turun 22 poin dalam satu dekade, sedangkan negara dan perekonomian lainnya turun sekitar delapan poin.

Untuk sains, yang menjadi fokus utama PISA 2025, rata-rata skor negara OECD turun tujuh poin. Sementara itu, capaian negara dan perekonomian non-OECD secara umum relatif stabil.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak semata-mata dialami negara berkembang. Negara-negara dengan sistem pendidikan yang selama ini dianggap kuat pun menghadapi tantangan serupa.

Salah satu contoh adalah Jerman. Dalam periode 2022–2025, skor membaca siswa Jerman turun 15 poin, matematika 11 poin, dan sains tujuh poin. Penurunan tersebut kembali mengingatkan pada apa yang dikenal sebagai “kejutan PISA” ketika hasil asesmen pertama pada 2000 menunjukkan performa siswa Jerman berada di bawah ekspektasi.

Indonesia: Sains dan Membaca Membaik

Indonesia mencatat hasil yang relatif stabil dibandingkan kecenderungan penurunan global. Berdasarkan data PISA 2025, skor rata-rata siswa Indonesia mencapai 389 untuk sains, 365 untuk membaca, dan 364 untuk matematika.

Jika dibandingkan dengan hasil PISA 2022, skor sains meningkat enam poin, sedangkan membaca naik tujuh poin. Namun, capaian matematika justru turun dua poin.

Data OECD menunjukkan skor Indonesia masih berada cukup jauh di bawah rata-rata OECD. Dalam sains, rata-rata OECD mencapai 482 poin, sedangkan Indonesia 389 poin. Untuk matematika, Indonesia memperoleh 364 poin dibandingkan rata-rata OECD 463 poin. Sementara dalam membaca, Indonesia mencatat 365 poin, sedangkan rata-rata OECD mencapai 461 poin.

Sehingga, kenaikan skor pada dua bidang tidak serta-merta berarti persoalan pendidikan Indonesia telah terselesaikan. Tantangan terbesar justru terlihat dari kemampuan siswa mencapai kompetensi dasar.

OECD mencatat sekitar 63,2 persen siswa Indonesia berada dalam kategori berkemampuan rendah pada bidang sains. Tidak ada siswa Indonesia yang masuk kategori top performer pada level 5 atau 6 untuk sains dalam data PISA 2025.

Kondisi serupa juga terlihat dalam matematika dan membaca. Persoalan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan beberapa poin harus dibaca sebagai perkembangan positif, tetapi belum cukup untuk menyatakan bahwa kualitas pembelajaran Indonesia telah berada pada tingkat yang memadai.

Masih Tertinggal dari Sejumlah Negara ASEAN

Jika dibandingkan dengan sejumlah negara Asia Tenggara, posisi Indonesia juga masih menghadapi pekerjaan rumah besar.

Dalam sains, Indonesia memperoleh 389 poin. Angka tersebut masih berada di bawah Malaysia yang mencapai 419 poin dan Thailand 432 poin. Indonesia hanya berada di atas Filipina dalam kelompok perbandingan tersebut.

Dalam membaca, Indonesia memperoleh 365 poin, sedangkan Malaysia mencatat 393 poin dan Thailand 392 poin. Pada matematika, Indonesia memperoleh 364 poin, lebih rendah dibandingkan Malaysia yang mencapai 397 poin dan Thailand 407 poin.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan capaian Indonesia perlu dibarengi dengan strategi yang lebih serius untuk memperkuat kualitas pembelajaran, khususnya kemampuan bernalar, memahami informasi, membaca secara kritis, serta memecahkan masalah.

Pandemi Bukan Satu-Satunya Persoalan

Penurunan kemampuan siswa secara global juga tidak dapat begitu saja dijelaskan oleh pandemi Covid-19.

PISA 2025 menunjukkan bahwa penurunan kemampuan membaca telah berlangsung di sejumlah negara jauh sebelum pandemi. Penutupan sekolah memang dapat menjadi salah satu faktor, tetapi data yang tersedia tidak menunjukkan hubungan langsung antara lamanya sekolah ditutup dan penurunan performa membaca.

Artinya, persoalan pendidikan memiliki dimensi yang lebih panjang. Perubahan pola kehidupan anak, penggunaan teknologi digital, berkurangnya minat membaca buku, serta kemampuan sistem pendidikan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan sosial menjadi bagian dari tantangan tersebut.

Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) juga menjadi tantangan baru. Dalam PISA 2025, penggunaan AI oleh siswa turut menjadi perhatian. Data menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan chatbot AI untuk keperluan tertentu tidak selalu memiliki capaian lebih baik. Bahkan, siswa yang tidak menggunakan chatbot AI dilaporkan memiliki skor sains rata-rata lebih tinggi dibandingkan mereka yang menggunakannya.

Temuan ini tidak serta-merta berarti AI harus dijauhkan dari dunia pendidikan. Sebaliknya, sekolah perlu memastikan teknologi digunakan sebagai alat untuk memperkuat proses berpikir, bukan menggantikannya.

Peran Guru dan Orang Tua Tetap Penting

Di tengah berbagai tantangan tersebut, PISA 2025 juga menemukan sejumlah hal positif dari Indonesia.

OECD mencatat Indonesia sebagai salah satu sistem pendidikan yang mengalami peningkatan dukungan terhadap guru dibandingkan dengan 2015. Sementara itu, banyak siswa Indonesia menunjukkan rasa ingin tahu dan ketekunan dalam belajar. Sebanyak 83,1 persen siswa Indonesia, misalnya, menyatakan senang mengetahui bagaimana sesuatu bekerja. Sebanyak 79,4 persen juga menyatakan mereka menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Selain guru, keterlibatan orang tua juga mempunyai hubungan dengan capaian siswa. PISA menemukan bahwa siswa yang lebih sering diajak orang tua berbicara mengenai apa yang mereka pelajari atau lakukan di sekolah memiliki performa sains yang lebih baik. Setelah memperhitungkan faktor sosial ekonomi, aktivitas tersebut berkaitan dengan peningkatan sekitar 26 poin dalam performa sains.

Temuan ini memberi pesan penting bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada sekolah. Guru, orang tua, lingkungan sosial, serta kebijakan pendidikan memiliki peran yang saling berkaitan.

Hasil PISA 2025 karena itu perlu dibaca secara utuh. Kenaikan skor sains dan membaca merupakan kabar positif bagi Indonesia, tetapi rendahnya capaian kompetensi dasar menunjukkan bahwa masih terdapat pekerjaan besar yang harus diselesaikan.

Tantangan pendidikan Indonesia ke depan bukan hanya mengejar kenaikan angka dalam asesmen internasional. Yang lebih penting adalah memastikan setiap anak memiliki kemampuan membaca dengan baik, memahami informasi, bernalar secara logis, memecahkan masalah, menggunakan teknologi secara bijak, serta mampu belajar secara mandiri.

PISA 2025 pada akhirnya memberikan satu pesan penting: pendidikan tidak cukup hanya mengejar ketertinggalan setelah krisis. Sistem pendidikan harus terus beradaptasi agar mampu menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan teknologi, sosial, dan ekonomi yang berlangsung semakin cepat.