lisensi

Kedungademmu.id
WIB
Last Updated 2026-09-15T11:26:43Z
Ahmad LazimGerakanMilad Ke-114RedaksiTanwir

Mengenal Tanwir Muhammadiyah, Permusyawaratan Tertinggi Kedua Setelah Muktamar

Advertisement
Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah (www.muhammadiyah.or.id)

Kedungademmu.id
Muhammadiyah akan menggelar Tanwir pada 19–21 November 2026 di Universitas Muhammadiyah Palu, Sulawesi Tengah. Forum ini memiliki posisi penting dalam perjalanan Persyarikatan karena merupakan permusyawaratan Muhammadiyah di bawah Muktamar sekaligus permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar.

Tanwir 2026 juga menjadi Tanwir yang diselenggarakan dalam periode kepemimpinan Muhammadiyah 2022–2027 untuk mempersiapkan agenda Muktamar ke-49. Karena itu, forum tersebut tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga momentum untuk membahas sejumlah agenda strategis yang akan menentukan arah gerakan Muhammadiyah dalam beberapa tahun mendatang.

Bagi masyarakat yang belum akrab dengan kehidupan organisasi Muhammadiyah, istilah Tanwir mungkin terdengar asing. Tidak sedikit yang menganggapnya sebagai rapat pimpinan biasa. Padahal, kedudukan dan fungsi Tanwir jauh lebih penting.

Tanwir merupakan salah satu forum permusyawaratan utama Muhammadiyah. Melalui forum tersebut, berbagai persoalan penting Persyarikatan dibahas bersama, mulai dari perkembangan organisasi, program strategis, persoalan umat dan bangsa, hingga isu yang membutuhkan respons Muhammadiyah pada tingkat nasional maupun internasional.

Muktamar dan Tanwir

Dalam struktur permusyawaratan Muhammadiyah, Muktamar merupakan permusyawaratan tertinggi. Forum ini menjadi ruang utama untuk membahas pertanggungjawaban kepemimpinan, program Persyarikatan, kebijakan strategis, serta berbagai agenda penting Muhammadiyah.

Sementara itu, Tanwir berada di bawah Muktamar. Karena posisinya tersebut, Tanwir dikenal sebagai permusyawaratan tertinggi kedua dalam Muhammadiyah.

Kedudukan itu membuat Tanwir memiliki fungsi penting untuk menjaga kesinambungan organisasi di antara dua Muktamar. Muhammadiyah tidak harus menunggu Muktamar berikutnya untuk membahas persoalan strategis yang muncul selama masa kepemimpinan.

Melalui Tanwir, persoalan yang membutuhkan pembahasan pada tingkat Persyarikatan dapat dimusyawarahkan dan diputuskan sesuai dengan ketentuan organisasi.

Forum ini sekaligus menjadi salah satu mekanisme Muhammadiyah dalam merespons perubahan keadaan. Persoalan pendidikan, perkembangan teknologi, perubahan sosial, ekonomi, lingkungan, kehidupan kebangsaan, hingga isu kemanusiaan dapat menjadi bahan pembahasan ketika memiliki kaitan strategis dengan gerakan Muhammadiyah.

Mengapa Disebut Tanwir?

Nama Tanwir memiliki akar dari bahasa Arab. Kata tanwir berasal dari kata nawwara–yunawwiru–tanwiran yang bermakna penerangan, penyinaran, atau pencerahan.

Pemilihan istilah tersebut memiliki hubungan dengan karakter Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang membawa semangat pembaruan dan pencerahan.

Dalam konteks organisasi, makna tersebut dapat dipahami sebagai harapan agar proses musyawarah menghasilkan pemikiran, keputusan, dan langkah yang mampu memberikan penerangan bagi perjalanan Persyarikatan.

Tanwir dengan demikian bukan hanya sebuah nama forum. Di dalamnya terkandung gagasan tentang musyawarah yang diharapkan melahirkan keputusan yang memberikan arah dan pencerahan.

Sejarah Tanwir Muhammadiyah

Istilah Tanwir bukanlah istilah baru dalam Muhammadiyah. Penggunaannya telah memiliki sejarah panjang dan berkaitan dengan perkembangan struktur organisasi Persyarikatan.

Istilah tersebut mulai digunakan secara resmi pada 1932, ketika Muhammadiyah berada di bawah kepemimpinan KH Hisyam. Pada masa itu, istilah yang digunakan adalah Madjlis Tanwir.

Madjlis Tanwir tercatat dalam keputusan Conferentie Consul Hoofdbestuur Moehammadijah Hindia-Timoer yang berlangsung di Yogyakarta pada 19–22 November 1932. Saat itu, Madjlis Tanwir merupakan salah satu badan yang dibentuk dalam struktur Persyarikatan.

Dalam perkembangan berikutnya, Tanwir tidak lagi sekadar digunakan sebagai nama sebuah majelis. Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi nama forum permusyawaratan Muhammadiyah.

Penggunaan Tanwir sebagai forum permusyawaratan secara resmi ditetapkan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-24 di Banjarmasin pada 1935. Sejak saat itu, Tanwir menjadi bagian dari sistem permusyawaratan Muhammadiyah.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa Tanwir telah menjadi bagian dari kehidupan Persyarikatan selama puluhan tahun. Keberadaannya terus berkembang seiring dengan kebutuhan Muhammadiyah dalam mengelola organisasi dan merespons perubahan zaman.

Bukan Sekadar Rapat Pimpinan

Dengan kedudukannya sebagai permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar, Tanwir tidak tepat jika hanya dipahami sebagai rapat koordinasi pimpinan.

Forum tersebut memiliki fungsi strategis untuk membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan perjalanan Persyarikatan. Tanwir dapat membahas laporan pimpinan, persoalan yang berkaitan dengan keputusan Muktamar, masalah yang akan menjadi bahan Muktamar, maupun persoalan mendesak yang tidak dapat menunggu sampai Muktamar berikutnya.

Di sinilah Tanwir memiliki arti penting. Forum tersebut membuat Muhammadiyah memiliki mekanisme untuk mengambil keputusan strategis ketika situasi membutuhkan respons organisasi.

Kebutuhan tersebut semakin penting mengingat luasnya jaringan Muhammadiyah. Persyarikatan memiliki struktur organisasi mulai dari tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang, hingga ranting. Muhammadiyah juga mengembangkan berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dakwah, dan kemanusiaan.

Perubahan yang terjadi di tengah masyarakat pun berlangsung semakin cepat. Karena itu, Muhammadiyah membutuhkan ruang untuk membaca perkembangan tersebut dan menentukan sikap organisasi melalui mekanisme permusyawaratan.

Tanwir Palu 2026

Tanwir Muhammadiyah 2026 akan berlangsung di Universitas Muhammadiyah Palu, Sulawesi Tengah, pada 19–21 November 2026.

Pemilihan Palu memiliki makna tersendiri. Kota tersebut pernah mengalami gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi pada 2018. Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi yang turut hadir dalam berbagai upaya penanganan dan pemulihan masyarakat setelah bencana tersebut.

Karena itu, penyelenggaraan Tanwir di Palu juga dapat dibaca sebagai bagian dari perhatian Muhammadiyah terhadap masyarakat dan proses kebangkitan Sulawesi Tengah setelah bencana.

Tanwir 2026 semakin penting karena menjadi Tanwir terakhir dalam periode kepemimpinan Muhammadiyah 2022–2027. Forum ini berlangsung menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah yang akan diselenggarakan pada 2027.

Selain menjadi forum konsolidasi, Tanwir Palu akan membahas sejumlah agenda strategis Persyarikatan. Salah satu perhatian penting adalah penyusunan program strategis Muhammadiyah untuk jangka panjang, termasuk arah program untuk 25 tahun mendatang.

Agenda tersebut menunjukkan bahwa Tanwir tidak hanya membicarakan persoalan Muhammadiyah hari ini. Forum ini juga menjadi ruang untuk membaca tantangan masa depan dan mempersiapkan langkah Persyarikatan agar tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman.

Menjaga Arah Gerakan Muhammadiyah

Keberadaan Tanwir memperlihatkan bahwa Muhammadiyah memiliki tradisi musyawarah yang kuat dalam menjalankan organisasi.

Keputusan tidak hanya lahir dari pertimbangan satu pihak, tetapi melalui mekanisme permusyawaratan yang melibatkan unsur-unsur Persyarikatan sesuai dengan ketentuan organisasi. Melalui proses tersebut, berbagai pandangan dapat dipertemukan sebelum menjadi keputusan bersama.

Dalam konteks inilah Tanwir memiliki peran penting. Forum tersebut menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, membaca keadaan, menyusun kebijakan, sekaligus menjaga agar gerakan Muhammadiyah tetap berada dalam arah yang telah ditetapkan.

Bagi warga Muhammadiyah, Tanwir merupakan bagian penting dari kehidupan Persyarikatan. Sementara bagi masyarakat luas, memahami Tanwir membantu melihat bagaimana Muhammadiyah mengelola organisasi dan menentukan kebijakan strategisnya.

Jika Muktamar merupakan permusyawaratan tertinggi Muhammadiyah, maka Tanwir merupakan permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar. Keduanya menjadi bagian penting dari tradisi musyawarah yang telah berkembang dalam perjalanan panjang Muhammadiyah.

Dengan sejarah penggunaan istilah yang telah dimulai sejak 1932 dan penetapan Tanwir sebagai forum permusyawaratan pada Muktamar ke-24 di Banjarmasin pada 1935, Tanwir telah menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga kesinambungan gerakan Muhammadiyah.

Kini, setelah lebih dari sembilan dekade, tradisi tersebut kembali berlanjut di Palu. Tanwir Muhammadiyah 2026 bukan hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk membaca masa depan Persyarikatan dan merumuskan langkah agar Muhammadiyah terus hadir sebagai gerakan Islam yang mencerahkan dan berkemajuan.