Advertisement
Dorongan tersebut mengemuka dalam Workshop Analisis Dampak dan Strategi Adaptasi Perubahan Iklim yang digelar Inklusi Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Bojonegoro di Desa Bobol, Rabu (23/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan PWA Jawa Timur, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, BPBD Bojonegoro, Pemerintah Desa Bobol, kelompok tani, serta unsur masyarakat lainnya.
Sekretaris Desa Bobol, Mita Linda Yasa, membuka kegiatan dengan harapan workshop berlangsung aktif dan interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga dapat menyampaikan persoalan dan mencari solusi yang sesuai dengan kondisi desa.
Kekeringan hingga Banjir Bandang Jadi Persoalan
Perwakilan Camat Sekar, Wahyu Ramadhani, menyampaikan bahwa masyarakat di wilayah Sekar menghadapi persoalan lingkungan yang berbeda pada musim kemarau dan penghujan.
Saat kemarau, kekeringan dan keterbatasan air menjadi persoalan tahunan. Sementara ketika musim hujan, masyarakat menghadapi potensi tanah longsor, pohon tumbang, hingga banjir bandang.
Untuk merespons persoalan tersebut, Kecamatan Sekar meluncurkan inovasi Kawah Sekar Arum, berupa gerakan penanaman pohon yang melibatkan pemerintah desa dan masyarakat. Program tersebut direncanakan mulai dilaksanakan di Desa Deling dan Klino pada Oktober 2026.
Program Inklusi Dorong Tidak Ada yang Tertinggal
Perwakilan PWA Jawa Timur, Nelly Asnifati, menegaskan bahwa program Inklusi telah berjalan sejak 2022 di Kecamatan Sekar.
Menurutnya, prinsip utama program tersebut adalah memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam proses pembangunan, termasuk dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan bencana.
Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam merancang langkah adaptasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal.
DLH Dorong Penanaman Pohon dan Pengelolaan Sampah
Dari sisi lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Bojonegoro melalui Tuti Prangmiatun menjelaskan sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap perubahan iklim, di antaranya deforestasi, emisi kendaraan, dan berkurangnya vegetasi.
Ia mendorong masyarakat melakukan berbagai langkah sederhana, seperti menanam kembali pohon, membuat lubang biopori dan sumur resapan, serta memperbaiki pengelolaan sampah.
DLH Bojonegoro juga membuka peluang bagi Pemerintah Desa Bobol untuk mengajukan permohonan bibit pohon sebagai bagian dari persiapan menghadapi musim hujan.
Tuti juga menyoroti pengelolaan sampah di Desa Bobol. Menurutnya, desa tersebut telah memiliki surat keputusan tentang Bank Sampah, tetapi programnya belum berjalan secara optimal.
“Di Bobol sudah ada SK Bank Sampah, tetapi belum berjalan. Padahal sampah, terutama sisa makanan, dapat menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan bumi,” jelasnya.
Warga Minta Workshop Tidak Berhenti pada Pertemuan
Persoalan keberlanjutan program menjadi perhatian warga. Juwoto, Ketua BPD Dusun Kaliwekas, berharap kegiatan pelatihan dan workshop tidak berhenti setelah kegiatan selesai.
Ia meminta adanya tindak lanjut yang konkret, terutama dalam bentuk penanaman pohon di wilayah yang membutuhkan penghijauan.
“Kami mohon kejelasan adaptasi iklim seperti penanaman pohon. Masyarakat kami memang kurang sadar, misalnya masih membakar lahan setelah panen. Ketika ingin menanam pohon sendiri, kami membutuhkan anggaran. Di sini kami tidak membutuhkan uang, tetapi bisa dalam bentuk fisik berupa bibit pohon,” ujarnya.
Permintaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan dukungan yang sesuai dengan kondisi lapangan. Bibit pohon, pendampingan, serta perawatan tanaman dinilai dapat menjadi bentuk tindak lanjut yang lebih konkret.
BPBD Targetkan Seluruh Desa Menjadi Destana
Dari BPBD Bojonegoro, Ahmad Nur Faisal menyampaikan bahwa hingga saat ini baru 181 dari 430 desa/kelurahan di Bojonegoro yang telah membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana). BPBD menargetkan seluruh desa/kelurahan di Bojonegoro dapat menjadi Destana pada 2030.
Pembentukan Destana diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perubahan iklim.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Nelly Asnifati mengusulkan agar program pada 2027 tidak hanya berfokus pada pembentukan Destana baru. Menurutnya, keberadaan Destana yang telah terbentuk juga perlu diperkuat dan dirawat agar tetap aktif.
Sampah Masih Jadi Tantangan
Selain perubahan iklim dan kesiapsiagaan bencana, pengelolaan sampah menjadi persoalan lain yang perlu segera mendapat perhatian di Desa Bobol.
Saat ini sebagian sampah masih dibuang ke sungai dan dibakar. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan sistem pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga hingga desa. Pengelolaan sampah organik, khususnya sisa makanan, juga menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi dampak lingkungan.
Workshop yang difasilitasi Ina Afrina Faiqotun Nisa tersebut akhirnya ditutup dengan harapan agar berbagai masukan tidak berhenti sebagai catatan dalam forum.
Warga berharap hasil workshop dapat diterjemahkan menjadi program nyata, mulai dari penyediaan bibit, penanaman dan perawatan pohon, penguatan pengelolaan sampah, hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.
Bagi warga Bobol, menghadapi perubahan iklim bukan hanya persoalan memahami ancamannya, tetapi juga memastikan ada langkah nyata yang dapat dilakukan bersama untuk menjaga lingkungan dan melindungi kehidupan masyarakat.
