lisensi

Kedungademmu.id
• WIB
Last Updated 2026-09-28T10:36:19Z
GerakanMTs Muhammadiyah 2 KedungademRedaksiSamsul Arifin

Purna Tugas Setelah 30 Tahun, Thayib Tinggalkan Jejak Pengabdian di MTs Muhammadiyah 2 Kedungadem

Advertisement
Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kedungadem menyerahkan cenderamata kepada Thayib sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian selama 30 tahun sebagai guru Matematika MTs Muhammadiyah 2 Kedungadem (Istimewa/kedungademmu.id)
Kedungademmu.id—Pengabdian seorang guru tidak selalu berhenti di ruang kelas. Hal itu tergambar dalam perjalanan Thayib, guru Matematika MTs Muhammadiyah 2 Kedungadem yang mengabdikan diri sejak 1995 hingga memasuki masa pensiun.

Selama sekitar 30 tahun, Thayib menjalani dua peran dalam kesehariannya. Di madrasah, ia mengajarkan Matematika kepada para siswa. Di luar tugas mengajar, ia juga menggeluti dunia pertanian sebagai bagian dari kehidupannya.


Perjalanan tersebut menjadi cerita tersendiri. Pagi dan jam kerja digunakan untuk menjalankan amanah sebagai pendidik, sementara kegiatan bertani menjadi bagian dari aktivitasnya di luar sekolah.


Mengajar dengan Ketekunan


Menjadi guru Matematika bukan pekerjaan yang selalu mudah. Siswa memiliki kemampuan dan karakter yang beragam sehingga membutuhkan kesabaran dalam menyampaikan materi.


Selama puluhan tahun, Thayib turut mendampingi berbagai generasi siswa MTs Muhammadiyah 2 Kedungadem. Materi Matematika yang berkaitan dengan angka, rumus, dan logika disampaikan sebagai bagian dari proses pembelajaran.


Tiga dekade berada di lingkungan madrasah membuat dirinya mengalami berbagai perubahan dalam dunia pendidikan. Pergantian generasi siswa, perkembangan metode pembelajaran, hingga perubahan zaman menjadi bagian dari perjalanan panjang pengabdiannya.


Guru Sekaligus Petani


Di luar lingkungan madrasah, Thayib juga menjalani aktivitas sebagai petani. Bertani menjadi bagian dari kehidupannya dan menunjukkan bahwa profesi guru dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas lain yang menjadi sumber penghidupan.


Dunia pendidikan dan pertanian memiliki kesamaan dalam satu hal, yakni sama-sama membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Guru menanam pengetahuan kepada siswa, sedangkan petani menanam dan merawat tanaman hingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.


Bagi Thayib, menjalani kehidupan sebagai guru sekaligus petani merupakan bagian dari perjalanan yang dijalani selama bertahun-tahun.


Kepala Madrasah Beri Apresiasi


Kepala MTs Muhammadiyah 2 Kedungadem, Ahmad Syaeful Anam, menyampaikan apresiasi atas pengabdian Thayib selama kurang lebih tiga dekade.


Menurutnya, Thayib telah memberikan kontribusi bagi madrasah dan ikut mendampingi banyak generasi siswa selama menjalankan tugas sebagai guru.


“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas pengabdian Pak Thayib selama kurang lebih 30 tahun di MTs Muhammadiyah 2 Kedungadem. Banyak hal yang telah beliau berikan untuk madrasah dan para siswa. Semoga segala pengabdian dan dedikasinya menjadi amal kebaikan serta selalu diberikan kesehatan dan keberkahan,” ujarnya.


Ia berharap masa pensiun menjadi awal dari fase kehidupan baru yang tetap penuh keberkahan. Silaturahmi dengan keluarga besar madrasah pun diharapkan terus terjaga.


Jejak yang Tidak Berhenti di Ruang Kelas


Setelah sekitar 30 tahun mengabdi, Thayib kini memasuki masa pensiun. Namun, perjalanan panjangnya sebagai guru tidak sekadar dihitung dari lamanya masa kerja.


Ada ilmu yang pernah disampaikan, ada siswa yang pernah didampingi, serta ada pengalaman yang menjadi bagian dari perjalanan MTs Muhammadiyah 2 Kedungadem.


Kisah Thayib menjadi gambaran bahwa pengabdian dapat hadir dalam berbagai bentuk. Mengajar untuk mencerdaskan generasi, sementara bertani menjadi bagian dari perjuangan menjalani kehidupan.


Kini, setelah meninggalkan rutinitas mengajar, jejak tiga dekade pengabdian Thayib tetap menjadi bagian dari cerita MTs Muhammadiyah 2 Kedungadem.