lisensi

Kedungademmu.id
• WIB
Last Updated 2026-10-04T03:37:50Z
Ahmad LazimHaedar NashirMozaikNasyiatul AisyiyahRedaksi

Rawat Tradisi Besar Muhammadiyah, Haedar Nashir Ajak Kader Jadikan Masalah sebagai Panggilan Berbuat

Advertisement
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat menyampaikan amanat pada Taaruf Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah di SM Tower, Jumat (2/10/2026) (www.muhammadiyah.or.id)
Kedungademmu.id—Perjalanan panjang Muhammadiyah hingga menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia tidak hanya ditopang oleh kekuatan kelembagaan dan besarnya amal usaha. Di balik perkembangan tersebut terdapat tradisi gerakan yang terus dirawat, mulai dari keikhlasan dalam berkhidmat, kemandirian, kegigihan, hingga etos untuk senantiasa memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan agar tradisi besar tersebut tetap menjadi kekuatan utama Persyarikatan dalam menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, besarnya kepercayaan masyarakat dan berkembangnya aset Muhammadiyah serta Aisyiyah merupakan capaian yang patut disyukuri sekaligus amanah yang harus dijaga.

Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam acara Taaruf Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) yang berlangsung di SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Jumat malam (2/10/2026).

Haedar menjelaskan, perkembangan Muhammadiyah tidak terjadi secara tiba-tiba. Persyarikatan tumbuh melalui proses panjang yang melibatkan sistem organisasi, kualitas kelembagaan, budaya kader, serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan konsep The Great Tradition yang diperkenalkan antropolog Amerika Serikat, Robert Redfield. Dalam pemahamannya, tradisi besar tidak sekadar berkaitan dengan kebiasaan yang berlangsung turun-temurun, tetapi mencakup sistem kehidupan yang memiliki kelembagaan kuat serta budaya yang menjunjung nilai luhur.

“Tradisi besar itu berarti sebuah sistem yang di dalamnya ada sekelompok elite terpilih yang memiliki sistem kelembagaan yang unggul, kokoh, yang bagus. Kemudian habit orang di dalamnya juga menunjukkan budaya yang adiluhung,” ujar Haedar.

Menurut Haedar, karakter tersebut perlu terus dipelihara dalam tubuh Muhammadiyah. Tradisi besar Persyarikatan bukan hanya tampak pada struktur organisasi, melainkan juga tercermin dalam perilaku orang-orang yang menjalankan gerakan.

Karena itu, kemajuan Muhammadiyah tidak cukup diukur dari jumlah lembaga, luasnya jaringan, banyaknya amal usaha, maupun besarnya aset. Semua capaian tersebut harus tetap berjalan seiring dengan kualitas sumber daya manusia dan karakter kader yang menghidupkan nilai-nilai Persyarikatan.

Muhammadiyah Dibangun dengan Tradisi Pengkhidmatan

Haedar menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi yang memiliki watak kosmopolit. Gerakan ini tidak berhenti pada ruang dan wilayah tertentu, tetapi terus berupaya menjangkau berbagai kawasan dan memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Watak tersebut, menurut Haedar, tumbuh dari semangat yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan Persyarikatan. Keikhlasan, pengkhidmatan, kegigihan, kemandirian, dan etos pergerakan menjadi energi yang membuat Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang dalam perjalanan sejarahnya.

Nilai-nilai itu tidak hanya dibutuhkan oleh pimpinan di tingkat pusat. Semangat yang sama harus hidup hingga tingkat paling bawah, termasuk di tengah kader dan warga Muhammadiyah yang menjalankan aktivitas Persyarikatan di berbagai daerah.

Dengan demikian, tradisi besar Muhammadiyah bukan sesuatu yang berada jauh di atas kehidupan kader. Tradisi tersebut justru harus hadir dalam cara berpikir, cara bekerja, cara menyelesaikan persoalan, serta cara memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Bagi Haedar, menjaga tradisi besar berarti memastikan agar perkembangan organisasi tidak membuat Persyarikatan kehilangan karakter dasarnya. Modernisasi dan penguatan kelembagaan tetap diperlukan, tetapi semuanya harus berjalan dengan nilai dan budaya gerakan yang telah menjadi fondasi Muhammadiyah.

Masalah Harus Dihadapi dengan Syukur dan Optimisme

Di tengah perkembangan yang semakin besar, Haedar juga mengingatkan warga Muhammadiyah agar tetap memiliki kesadaran terhadap berbagai persoalan yang muncul. Menurutnya, menyadari adanya masalah merupakan bagian penting dari proses evaluasi dan perbaikan organisasi.

Namun, kesadaran tersebut tidak semestinya berkembang menjadi kebiasaan melihat segala sesuatu dari sisi kekurangan. Persoalan perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak menghilangkan rasa syukur terhadap berbagai capaian yang telah diperoleh.

“Kalau di tengah jalan kita ada masalah, kesadaran akan masalah itu harus tetap selalu hidup. Tetapi jangan membalik keadaan. Syukur kita harus selalu lebih besar ketimbang kita melihat masalah,” pesan Haedar.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat agar kader tidak terjebak dalam cara pandang yang hanya berpusat pada persoalan. Muhammadiyah sebagai gerakan yang terus bertumbuh tentu tidak akan pernah lepas dari tantangan. Namun, tantangan tersebut semestinya menjadi bahan untuk melakukan pembenahan, bukan alasan untuk kehilangan optimisme.

Haedar bahkan mengingatkan agar warga Persyarikatan tidak terus-menerus mendramatisasi masalah. Terlalu lama berkutat pada persoalan dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk melihat peluang dan potensi kebaikan yang masih terbuka.

“Kalau Anda terus melihat penyakit dan mencari-cari terus penyakit, ya jadilah orang sakit,” kata Haedar.

Pesan tersebut mengandung ajakan agar kader memiliki keseimbangan dalam melihat dinamika organisasi. Masalah tetap harus dikenali dan diselesaikan, tetapi pada saat yang sama keberhasilan, potensi, dan kesempatan untuk melakukan kebaikan juga harus mendapatkan perhatian.

Dengan cara pandang seperti itu, persoalan tidak berhenti sebagai keluhan. Setiap masalah justru dapat menjadi dorongan untuk mengambil tindakan, memperbaiki keadaan, dan menghadirkan manfaat yang lebih besar.

Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan

Bagi Muhammadiyah, menjaga tradisi besar bukan berarti mempertahankan seluruh keadaan dalam bentuk yang sama tanpa perubahan. Tradisi gerakan justru perlu dihidupkan melalui kemampuan membaca zaman dan merespons perubahan secara tepat.

Kekuatan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad salah satunya terletak pada kemampuannya mengembangkan kelembagaan tanpa meninggalkan nilai dasar gerakan. Karena itu, kader di setiap jenjang dituntut memiliki kesadaran bahwa menjadi bagian dari Persyarikatan berarti melanjutkan sebuah tradisi pengkhidmatan yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.

Pesan Haedar tersebut menjadi relevan bagi kader muda, termasuk Nasyiatul Aisyiyah, yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan Persyarikatan. Tantangan organisasi pada masa mendatang tentu akan semakin kompleks, tetapi fondasi berupa keikhlasan, kemandirian, kegigihan, dan budaya berbuat harus tetap menjadi kekuatan.

Pada akhirnya, tradisi besar Muhammadiyah tidak hanya diukur dari seberapa besar organisasi berkembang, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai gerakan tetap hidup dalam diri para kadernya.

Setiap persoalan yang muncul harus dibaca sebagai bagian dari perjalanan untuk menjadi lebih baik. Kesadaran terhadap masalah tetap diperlukan, tetapi rasa syukur dan optimisme tidak boleh ditinggalkan.

Dengan sikap tersebut, Muhammadiyah dapat terus menjaga tradisi besarnya sekaligus menghadirkan respons nyata terhadap persoalan masyarakat. Masalah bukan untuk dibesar-besarkan, melainkan untuk dihadapi, dicarikan jalan keluar, dan dijadikan panggilan untuk terus berbuat.